“Mending kamu jadi ibu rumah tangga aja, lebih mulia. Urusan rumah tangga semua kepegang. Kalau kamu jadi fotojurnalis, wah susah deh.”

Kalimat panjang ini menggelegar ke telinga seorang anak magang saat beberapa hari terakhir bertugas di sebuah media online. Saat itu, ia ditempatkan di sebuah lembaga antirasuah di Jakarta. Ia bersiap membereskan tugas liputan foto sambil mengobrol dengan rekan-rekan fotojurnalis lain. Kemudian, salah satu fotojurnalis senior berkata demikian.

Kayak, apaan sih tiba-tiba?

Memang sih, anak magang biasanya sering sadar diri. Entah mendengarkan saja, mengiyakan, sambil santai menyelesaikan pekerjaan. Padahal dalam hati, hm, geram nggak sih?

Jika kamu berada di posisi sebagai perempuan dan anak magang, respon apa ya yang kamu lakukan? Berikut ini opsi alternatif yang setidaknya bisa sedikit mengobati keluhanmu.

1. Iya sih, jadi ibu rumah tangga memang mulia. Tapi bukankah setiap perjuangan ibu berbeda? Kalau dia bekerja untuk membiayai anaknya yang sakit parah gimana?

Angkut-angkut begini, apa kuat? Photo by Artem Bali from Pexels

Angkut-angkut begini, apa kuat? Photo by Artem Bali from Pexels via https://www.pexels.com

Siapa yang sering dengar cerita ini?

Advertisement

Tentu sudah banyak cerita yang bertebaran di situs-situs atau media sosial. Perihal kisah ibu plus istri yang bekerja keras demi menghidupi anak, sementara suami juga sakit-sakitan. Atau, ada pula yang satu pasangan bekerja keras demi anak. Dan, banyak cerita lain yang bakal menyentuh hati nurani kita.

Siapa sih yang nggak tahan dan iba?

Lantas, cara apa yang bisa dilakukan untuk menghargai kerja keras seorang perempuan, ibu, atau istri bekerja, kalau bukan dengan mengapresiasi dan berpikir positif?

2. Santai dong, aku kan mau belajar gimana caranya supaya dapat kerja dan pengalaman

Ini namanya pengalaman kerja. Photo by Christina Morillo from Pexels

Ini namanya pengalaman kerja. Photo by Christina Morillo from Pexels via https://www.pexels.com

Advertisement

Bagi kamu yang berada di tingkat akhir masa perkuliahan, atau sedang menjalani semester tua, memiliki pengalaman kerja sebelum lulus adalah guardian angel atau penyelamat sebelum memasuki bursa kerja.

Jelas, persaingan kerja ketat. Bahkan, rekruter saja pusing mau pilih yang mana. Mau tidak mau, kita juga butuh pengalaman kerja yang riil dan terasa kalbu di hati.

Bahwa kerja itu memang butuh komitmen, pengalaman adalah buahnya.

Kalap belanja adalah offside things guys~

Dengan adanya pengalaman kerja sebelum lulus, setidaknya kita jadi tahu bidang apa yang perlu didalami atau dieksplor kan?

3. Sebagai perempuan, aku tahu kalau semua bakal jadi ibu rumah tangga

Ibu idaman sepulang kerja ya. Photo from Pexels

Ibu idaman sepulang kerja ya. Photo from Pexels via https://www.pexels.com

Bahkan, ada yang cenderung menggeneralisir bahwa perempuan menjadi ibu rumah tangga selepas kerja adalah hal kodrati.

Tidak bisa dibantah, tapi bisa dinegosiasikan.

Mungkin, di rumah menjadi ibu rumah tangga yang aktif. Di luar, menjadi ibu rumah tangga yang menginspirasi rekan kerja sesama perempuan. Asyik kan? Jadi berbagi ilmu rumah tangga dengan sesama deh~

4. Aku sadar, kerja lapangan butuh fisik dan mental sehat, kuat, dan paripurna. Lantas, apa salahnya kalau aku perempuan?

Kerja lapangan ala mekanik pabrik. Mengapa tidak? Photo by Chevanon Photography from Pexels

Kerja lapangan ala mekanik pabrik. Mengapa tidak? Photo by Chevanon Photography from Pexels via https://www.pexels.com

Anggapan perempuan itu lemah, emosional, atau perlu dilindungi masih melekat kuat dalam masyarakat. Bahkan, sengaja dibentuk oleh media untuk semakin memperkuat opini tersebut. Meski sekarang ada pula media yang kontra opini dengan hal itu.

Normalnya, wajar sih manusia itu lemah. Tidak hanya perempuan, pria juga. Wajar jika manusia emosional, ini universal, baik bagi perempuan dan pria.

Perlu dilindungi? Bukankah manusia butuh perlindungan baik dari Yang Kuasa atau yang punya wewenang? Bukankah, halo, bukankah kita sama-sama setara?

Setara di mata hukum nggak nih?

Akibatnya, jika ada perempuan yang bekerja lapangan seperti polisi wanita, fotojurnalis, reporter, ahli geologi, ahli kelautan, atlet, broker saham, dan pekerjaan-pekerjaan yang butuh kekuatan dan ilmu spesifik, membuat masyarakat dan bahkan rekan kerja pria itu sendiri cenderung menghambat atau mendemotivasi langkah mereka.

Sayang kan kalau kita sendiri yang menghambat kerja-kerja mereka demi Tuhan, bangsa, negara?

 Rugi waktu, rugi bandar.

5. Kalau memang tidak perlu kerja, siapa lagi yang jadi aspirator ketidakadilan terhadap perempuan di lingkungan kerja?

Ayo berserikat! Photo by rawpixel.com from Pexels

Ayo berserikat! Photo by rawpixel.com from Pexels via https://www.pexels.com

Jika Tuhan memang terlanjur menciptakan pria saja, mungkin dunia ini tidak sampai mencapai kesetimbangan. Perempuan lahir sebagai penetral, bahkan pelecut semangat kita. Bahwa di dunia ini, memang tidak ada yang sempurna.

Dan, di lingkungan kerja masih ada ketidakadilan terhadap pekerja perempuan. Baik itu diskriminasi, pelecehan, perundungan, demotivasi, atau cibir-cibir halus di antara sesama rekan kerja.

Kalau bukan dari inisiatif bersama karena nasib yang sama, kalau bukan dari perempuan dan juga mengalami hal yang sama, lalu siapa jadi aspiratornya?

Kamu mau nggak?

6. Saling menghargai, saling menyemangati

Sambil ketawa juga ya~ Photo by rawpixel.com from Pexels

Sambil ketawa juga ya~ Photo by rawpixel.com from Pexels via https://www.pexels.com

Semoga kita tetap saling menyemangati dan menghargai kerja keras ya!

Selamat Hari Perempuan Internasional, 8 Maret.

Tetaplah bahagia! 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya