Kesehatan mental adalah masalah yang serius. Meski di luar kelihatan baik-baik saja, tapi orang yang menderita gangguan ini sebetulnya sedang sekarat dan mengalami kehancuran di dalam dirinya. Mereka perlu ditolong dan dirangkul, bukan dihujat, dihakimi, dan ditinggalkan sendiri.

1. Baru sebulan kepergian Sulli, Goo Hara putuskan susul sahabatnya

Goo Hara, Mantan Anggota KARA

Goo Hara, Mantan Anggota KARA via https://www.instagram.com

Advertisement

Setelah dibuat geger atas kematian Sulli pada 14 Oktober 2019 lalu, kini kita kembali dihebohkan dengan kabar meninggalnya Goo Hara pada 24 November 2019, yang juga dikarenakan bunuh diri.

2. Sulli dan Goo Hara memang diketahui mengidap depresi

Dari Kiri ke Kanan; Goo Hara dan Sulli

Dari Kiri ke Kanan; Goo Hara dan Sulli via https://www.instagram.com

Kedua gadis bersahabat yang merupakan idol asal Korea Selatan ini memang diketahui sebelumnya tengah berjuang melawan depresi, bahkan Goo Hara sudah pernah melakukan percobaan bunuh diri pada Mei 2019 lalu. Untuk itu, sudah saatnya kita menyikapi secara serius dan belajar lebih banyak lagi perihal mental illness.

3. Kebanyakan pengidap Mental Illness adalah mereka yang tertutup dan punya support system yang lemah

Kesedihan di Wajah Sulli yang Tak Bisa Ditutupi

Kesedihan di Wajah Sulli yang Tak Bisa Ditutupi via https://www.instagram.com

Mental illness cenderung diidap oleh mereka yang sulit untuk membuka diri (tidak mudah curhat ke sembarang orang). Mereka hanya bisa menceritakan permasalahan yang dimiliki kepada orang yang sudah betul-betul dipercayai.

Advertisement

Di samping itu, kebanyakan pengidap gangguan ini adalah orang-orang yang memiliki support system yang lemah. Kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat mereka, seperti keluarga, pasangan, maupun sahabat.

4. Memendam permasalahan itu tidak baik untuk psikologis dan juga fisik

Sulli dan Goo Hara yang Sama-sama Berjuang Mengatasi Depresi

Sulli dan Goo Hara yang Sama-sama Berjuang Mengatasi Depresi via https://www.instagram.com

Beban permasalahan yang dipendam terus-menerus, ditambah dengan tidak adanya support system yang baik, yang memungkinkan mereka untuk bisa menceritakan hal-hal yang membuat mereka tertekan, lama-kelamaan membuat alam bawah sadar (gudang jiwa) menjadi penuh. Kalau sudah begitu, maka akan berpengaruh pada psikologis, bahkan juga bisa berdampak ke fisik, yang menjelma menjadi sekumpulan penyakit yang dikenal dengan istilah psikosomatik.

Apa sih psikosomatik itu? Psiko berarti jiwa, sedangkan soma yaitu badan. Jadi, psikosomatik adalah penyakit atau keluhan fisik yang diakibatkan oleh gangguan psikologis.

5. Di saat semua tidak ada yang peduli dan menolong, kematian terlihat menjadi satu-satunya jalan yang tersisa

Goo Hara Akhirnya Memutuskan Membunuh Dirinya Lagi

Goo Hara Akhirnya Memutuskan Membunuh Dirinya Lagi via https://www.instagram.com

Nah, orang yang daya tampung jiwanya ini sudah penuh, terkadang berusaha mencari bantuan.

Beberapa dari mereka berusaha untuk curhat meski tidak mudah, tapi seringnya malah berakhir dituduh cari perhatian, tidak tahu bersyukur, jarang ibadah alias tidak dekat dengan Tuhan, toxic lantaran ngeluh-ngeluh melulu di saat ada banyak orang yang hidupnya jauh lebih parah dibanding mereka, dan hal-hal yang tidak mengenakkan lainnya.

Lama-kelamaan, karena reaksi orang-orang sekitar yang lebih banyak menghujat ketimbang menunjukkan empati ini, membuat mereka berhenti mencari pertolongan.

Mereka trauma.

Mereka dilabeli macam-macam di saat mereka sendiri betul-betul tidak berdaya lagi.

Maka, pada gilirannya, kematian terlihat menjadi satu-satunya jalan yang tersisa.

6. Pengidap mental illness adalah orang-orang sekarat di balik tubuh yang sehat

Sulli yang Tampak Menawan dan Baik-baik Saja, Menutupi Kehancuran di Dalam Dirinya

Sulli yang Tampak Menawan dan Baik-baik Saja, Menutupi Kehancuran di Dalam Dirinya via https://www.instagram.com

Banyak yang mendadak sok peduli dan merasa kehilangan di saat seseorang sudah tiada. Namun, sewaktu orang itu masih hidup, di mana rasa kepedulian itu? Mereka tutup kuping, mereka berpaling, lari, dan menyingkir sejauh mungkin.

Orang yang hidup dengan mental illness layaknya orang yang mengenakan baju indah dan gemerlap di balik sekujur tubuhnya yang luka dan bersimbah darah.

Mereka kelihatan baik-baik saja, di saat mereka tidak.

Mereka kelihatan sehat, di saat mereka sekarat.

Maka, sangat tidak adil jika membandingkan orang-orang semacam itu dengan manusia yang jiwanya sehat dan gudang jiwanya masih banyak ruang.

Dari kasus kematian Sulli maupun Goo Hara ini, kita bisa belajar banyak; untuk lebih peduli, lebih berempati, serta tidak lekas menghakimi dan melabeli orang-orang di sekitar kita.

Mari berkata-kata baik.

Mari berbuat baik.

Mari menjadi bahagia

dan membahagiakan orang lain.

Mari menjadi manusia…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya