Ada yang bilang sok sibuk, ada yang bilang kuliah gitu-gitu aja atau yang lebih parah kuliah kok santai banget ya. Sebenarnya masa kuliah selalu memberimu cukup banyak pilihan, semua tergantung dengan target dan pencapaian seperti apa yang kamu inginkan. Kamu tidak bisa menjadi sosok yang sama seperti ketika kamu masih berada di sekolah, karena tingkatan yang kamu injak saat ini lebih tinggi daripada sebelumnya. Kuliah adalah masa dimana kamu bisa mengeksplor potensi yang ada dalam dirimu tanpa batas. Sebagai mahasiswa kamu harus menuntut dirimu sendiri untuk menjadi yang tidak biasa-biasa saja sebelum kamu menyesal ketika sudah lulus nanti. Ingat, kesempatan berada di bangku kuliah cuma sekali seumur hidup lho ya… Yakin nggak nyesel nih?

1. Kalau Merasa Penasaran, Ya Wajib Dicoba. Kalau Nggak Suka, Ya Harus Dipelajari. Mahasiswa Bro, Bukan Anak SD

Mahasiswa itu gampang penasaran via http://peoplewithvoices.com

"Dari penasaran kita bisa belajar tentang sudut pandang orang lain, karena apa yang aku tau belum tentu benar. Jadi aku ingin membandingkan ilmu yang aku punya dengan pendapat orang lain, sehingga kita bisa dapat ilmu baru lagi. Dan belajar nggak cuma dari buku aja, kita bisa melakukan hal-hal yang bisa mendorong kita untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi sekitar." – Isty Angrelina, 20 tahun, Padangsidimpuan.

Advertisement

Sebagai mahasiswa kamu pasti sering merasa penasaran terhadap segala hal, dimulai dari kegiatan di kampus, organisasi di luar kampus, bahkan isu-isu yang sedang panas-panasnya. Semakin kamu peka terhadap keadaan sekitar semakin kamu tau berbagai hal yang tidak pernah kamu pikirkan, sehingga hal tersebut dapat memancing pikiranmu untuk lebih terbuka dan kritis. Bukalah mata, kalau penasaran cari tau, bukan malah takut duluan. Tantang dirimu sendiri, kamu tidak pernah tau tolak ukur kemampuan yang kamu miliki kalau nggak mau mencoba, ya kan? Ketika sesuatu hal yang tidak disukai menjadi tuntutan baru untuk dipelajari, kamu bisa apa? Toh nggak merugikan lho, kamu malah bisa menggali lebih dalam kekuatan pada dirimu, karena ada banyak hal yang perlu dipelajari di luar sana. Jangan hanya memandang segala hal dari satu sisi. Kamu perlu menuntut dirimu sendiri sebelum menuntut orang lain untuk melakukan ini itu. Bukan melulu akademik saja yang perlu dikejar, kamu butuh banyak pengalaman dan bertemu dengan orang-orang yang akan menginspirasimu untuk lebih baik. Kamu tidak bisa berhenti di satu tempat saja, ketika passionmu sudah tercapai apa kamu tidak perlu mempelajari hal lain? Nyatanya, tidak ada keterbatasan dalam dirimu kecuali kamu sendiri yang membuat batasan itu. Kamu butuh tegas terhadap dirimu sendiri, dear 🙂

2. Daripada Fokus untuk Menjadi Pemenang, mending Berusaha Menjadi Sosok yang Bisa Diandalkan

Bisa diandalkan dalam segala keadaan via http://www.moabbaptistchurch.org

"Bukan kuantitas yang dicari, tapi kualitas. Kalau bisa kamu jadi orang yang berkompeten dalam satu hal dan menekuninya, karena di Indonesia sendiri kurang orang-orang yang berkompeten." – Supriyadi, 22 tahun, Mojokerto.

Sewaktu SMA kamu mungkin sosok yang selalu berprestasi tapi bukan anak organisasi, atau sosok yang tidak selalu berprestasi tapi selalu ribet dengan urusan-urusan ini itu, atau bisa jadi sosok yang nakal dan selalu ditandai oleh guru. Terus ada sisi bodoh amat gitu ya dengan orang-orang yang mondar-mandir di depan kantor guru atau ruang pelayanan, yang penting kamu bisa menikmati dan menghabiskan masa SMA dengan indah, bener nggak? Belum juga kalo jadi korban bullying, mau membantah atau melawan juga harus punya rasionalisasi kuat yang masuk akal dan benar, ya kan?

Advertisement

Tapi sayangnya masa menjadi pelajar SMA sudah habis, kamu tidak bisa menjadi yang biasa saja seperti ketika di sekolah. Upayakan berada selangkah di depan daripada yang lain, menjadi sosok yang flexible dan irreversible. Jika mampu meletakkan kepercayaan dirimu di tempat yang tepat, maka mereka akan mengapresiasimu, karena sejatinya keberadaan manusia perlu untuk diakui maka lakukan sesuatu yang bisa menginspirasi orang lain dan bisa menjadi panutan. Bukan untuk menjadi pemenang diantara yang lain atau mencari nama bahkan jabatan di kampus, tapi lakukan dengan ikhlas dan kemantapan, karena kamu tau pola pikir yang akan menentukan kepribadian dirimu. Dengan menjadi pribadi yang tidak biasa dan bisa diandalkan, orang lain akan menaruh kepercayaan padamu, karena mereka yang berusaha menjadi pemenang belum tentu bisa diandalkan 🙂

3. If You’re Stuck At The Bottom, Grow Flowers There

Teman layaknya keluarga, mereka memberi kenyamanan via https://www.instagram.com

“Awalnya emang salah jurusan ya, tapi dibalik keinginan yang semata-mata atas dasar ego diri sendiri, ada tanggung jawab sangat besar yang perlu dijalankan hingga akhir. Lagian temen-temen di sini udah kayak keluarga sendiri.” – Farizko, 19 tahun, Jakarta. Ketua Angkatan 2015 Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya.

Salah jurusan? Ah itu sudah basi. Bertemu dengan dunia baru, yang bahkan kamu nggak punya gambaran apa-apa kenapa kamu masuk jurusan tersebut. Kamu juga sering curhat kesana-kemari seolah-olah merasa nggak tahan berada di tempatmu yang sekarang. Nggak kayak orang lain, bisa dengan mudah mendapatkan apa saja yang diinginkan dan diobsesikan. Bukan berarti kamu tidak memperjuangkan hal-hal yang kamu inginkan, hanya saja terdapat banyak faktor internal atau eksternal yang melatarbelakanginya dan perlu lebih banyak usaha untuk mendapatkan semua yang kamu inginkan. Kamu tidak bisa menyalahkan takdir, karena masih ada banyak jalan tikus yang bisa dilewati hehe. Seharusnya itu luar biasa kan? Karena kamu berbeda dari yang lain. Hingga akhirnya kamu berpikir bahwa masuk kuliah itu nggak gampang, ada banyak perjuangan dibaliknya. Lalu kenapa di sini kamu malah nggak bersyukur dan nggerundel? Kenapa nggak nyari temen sebanyak-banyaknya siapa tau bisa menjadi alasan kamu betah di tempat barumu, ya kan? Terus kalau merasa jurusan dan nggak sesuai dengan keinginan kamu lantas kamu akan berhenti dan menyerah begitu saja? Ah mentalnya sama aja kayak anak SMA dong kalo gitu.

Coba perhatikan dengan baik paragraf di atas, ada kata “merasa” lho. Jadi bisa disimpulkan itu hanya perasaan kamu saja. Kenapa kamu bilang kamu “merasa” salah jurusan? Karena kamu belum mencoba untuk jatuh hati padanya. Hal ini tidak berlaku pada jurusan saja, mungkin juga kepanitiaan, bisnis yang kamu jalankan, komunitas atau unit kegiatan mahasiswa yang kamu ikuti. Stuck awalnya memperkuat alasanmu, tapi tanpa kamu sadari dibalik kata stuck ada banyak hal yang bisa kamu lakukan dan bukan malah menjadi halangan. Jika kamu memutuskan untuk berhenti maka kamu telah membunuh keinginan orang-orang di sekitarmu atau mereka yang menaruh harapan padamu. Jadikan hal ini sebagai momentum baik dan semua hal yang tidak kamu sukai akan berbalik menjadi berkah yang berkali-kali lipat. Bukan sekedar melewati sebuah proses panjang, rasa penasaran menjadi sebuah tantangan. Ketidaksukaan menjadi suatu kewajiban untuk dipelajari. Kamu mengikuti banyak kegiatan yang menurutmu baik. Entah suatu kebetulan atau memang sudah direncanakan, yang awalnya kamu mengira akan tersesat masuk di jurusan tersebut, ternyata malah dari situ kamu bisa berkembang dan semua akan berjalan dengan seimbang. Jalan terbuka lebar apabila kamu mau belajar dan mampu bersabar 🙂

4. Sudah Bukan Saatnya (lagi) Mencari Aman di Zona Nyaman

Terjebak di zona nyaman? via http://theworryfreelife.com

"Kuliah-pulang, aku di kosan mau ngapain? Bagiku dengan mengikuti banyak kegiatan yang bermanfaat itulah kenyamananku. Softskill itu perlu ditambah, karena teori di kuliah nggak bakal cukup kalau nggak dipraktekkan pada project yang real.” – Wahyu Pratama, 20 tahun, Jombang.

Hey, kamu sudah mahasiswa lho yang notabene diwajibkan untuk menjadi sosok yang nggak cuma omong aja, melainkan ada aksi nyata untuk perubahan di sekitarmu. Bukan saatnya mencari aman, kamu bukan anak SMA yang cuma bisa ngikut kesana-kemari, mudah terbawa arus dan mudah terdoktrin lingkungan sekitar, bukan juga sosok yang takut pidato di depan umum, atau cuma bisa nuruti peraturan yang ada. Ingat, bahwa semakin tinggi tingkatan yang kamu pijak semakin kamu berada jauh dari zona nyaman. Kamu perlu melawan pribadimu yang lama dengan bertemu pribadi baru, menumbuhkan karakter baru. Buang jauh-jauh pribadi kamu yang lembek, nggak semangat, penakut, kurang bertanggung jawab atau pendiam yang cuma bisa nurut sana-sini. Ketika semboyan anak kuliah “harus mandiri” dikumandangkan, ya gimanapun caranya harus telaten menghadapinya. Belum lagi kalau berurusan dengan birokrasi kampus, dosen pembimbing, dekan beserta jejerannya ataupun rektor, bahkan juga dengan instansi luar kampus atau pihak-pihak yang asing bagimu, kata siapa itu mudah? Nggak sama sekali! Karena kamu pasti dilempar kesana kemari dan butuh berkali-kali kamu harus meyakinkan mereka dengan statement yang kamu punya, bahkan ditatap dengan sebelah mata seolah-olah “kamu lho siapa di sini?”, entah untuk urusan nilai, kepanitiaan acara, organisasi atau himpunan, rencana studi atau urusan finansial. Apalagi mereka yang otoriter, segalanya akan terlihat benar dan mudah tapi sistem yang ada menurutmu kurang tepat. Ketika semangatmu yang sudah kembali tiba-tiba dengan gampangnya opini mereka yang kamu kira akan mendukung segalanya ternyata malah menjatuhkan. Begitulah perubahan, mampu membawa banyak kebohongan dan bodohnya kebohongan itu banyak yang percaya. Beranikan diri untuk mengutarakan apa yang kamu mau, jadilah agen perubahan yang mau berubah tanpa berulah. Mereka yang hebat tidak berasal dari zona nyaman. Untuk apa mencari aman jika ujung-ujungnya kamu tidak menemukan jati dirimu. Kamu perlu ambisi untuk bangkit, sebelum orang lain yang akan mengambil alih dan mengontrol dirimu. Mau dijadikan boneka? Nggak kan 🙂

5. Manfaatkan Waktu dan Kesempatan untuk Mengexplore Jati Diri

Mengikuti kegiatan yang bermanfaat via http://wawasanproklamator.com

"Dengan mengikuti banyak kegiatan kita bisa mengeksplor jati diri, apalagi berinteraksi dengan dosen adalah hal yang sangat bermanfaat. Dimulai dari kesungguhan dan semangat juang tinggi, berusaha untuk bertanggung jawab dan berani bertindak serta mengambil resiko, ikhlas dalam menjalankan setiap tugas dan yang pasti selalu semangat hehe." – Sri Cempaka Prima, 19 tahun, Payakumbuh.

Buatlah target untuk ke depan sesuai dengan prioritasmu. Ketika sudah menginjak semester baru kamu harus sudah punya pandangan dan output apa yang akan kamu capai di semester ini. Jika kamu ingin mengikuti berbagai macam project atau lomba, mengadakan seminar atau kegiatan di luar kampus maka manfaatkan kesempatan yang kamu punya untuk menggali potensimu. Asalkan kamu tidak boleh menomorduakan akademik. Kuliah adalah masa dimana kamu bisa mengeksplor jati dirimu dengan seluas-luasnya, karena kesalahanmu masih dapat ditolerir ketika kamu masih mahasiswa. Sampai kamu tau apa yang kamu mau. Kalau sudah tau maka pelajari dengan sungguh-sungguh. Ketika tau apa yang kamu lakukan kamu pasti percaya diri, karena kalau bukan kamu yang percaya ya siapa lagi. Jangan lama menghabiskan waktu untuk mencari jati diri, cobalah sesuatu yang berbeda. Pada dasarnya, kekuatan untuk mendorongmu bangkit dari status siswa menjadi mahasiswa ada pada dirimu sendiri.

Sempatkan waktumu untuk memperdalam hobi yang kamu punya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti lomba atau seminar. Jika kamu tertarik dengan kewirausahaan cobalah untuk membuat bisnis kecil-kecilan di sekitar kampusmu, seperti berjualan makanan, jasa desain grafis hingga jasa pembuatan kaos. Mungkin juga bisa membuka tempat les kecil-kecilan di rumah atau kosanmu. Dengan begitu kamu akan bertemu dengan mereka yang memiliki passion yang sama seperti dirimu, meskipun dari latar belakang yang berbeda, jurusan atau universitas yang berbeda tapi kamu bisa belajar lebih kepada mereka. Semisal kamu memiliki hobi fotografi atau travelling maka sempatkan waktu luangmu untuk berkunjung ke tempat-tempat baru, explore segala hal yang belum pernah kamu temukan. Gunakan me-time yang kamu punya dengan menciptakan moment-moment sebaik-baiknya dan usahakan memiliki dampak positif bagi dirimu dan orang di sekitarmu. Create yourself, kamu yang harus memilih apa yang akan kamu lakukan, bukan hanya menikmati saja 🙂

6. Memancing Jiwa Sosial dengan Membangun Relasi Sebanyak-banyaknya

Sempatkan untuk bertemu dengan orang-orang baru via https://www.instagram.com

“Saya tidak mau rugi ketika sudah merantau jauh-jauh dan hanya mendapatkan ilmu semata tentang bidang saya. Kalau relasi lebih banyak, informasi kan juga semakin bertambah, karena untuk menambah wawasan tidak hanya yang tercantum di buku saja. Apalagi di dunia kerja nanti kita dituntut agar lebih fleksibel.” – Armyn Atlanta, 20 tahun, Gresik.

Temukan ketertarikan pada dirimu dan lingkungan sekitarmu dengan membentuk jaringan, membangun relasi, merangkul teman-teman angkatanmu dan lebih peka terhadap permasalahan yang dialami oleh temanmu. Kamu tidak bisa acuh tak acuh karena kamu akan tertinggal dengan seleksi alam yang tetap berlaku sampai kapanpun. Semakin luas jaringan pertemananmu semakin banyak pula wawasan yang kamu miliki karena secara tidak langsung cara berpikirmu akan semakin terbuka. Semakin banyak kita membantu orang, akan semakin banyak pula bantuan yang kita dapatkan. Tidak ada yang perlu ditakutkan ketika berkenalan dengan orang-orang baru, karena tak jarang dari mereka bisa membantumu untuk mencapai tujuan. Anggaplah berkenalan dengan orang baru sebagai sebuah tantangan dan kesempatan sekaligus. Bukan hanya untuk keperluan tugas, membangun hubungan baik dengan teman mahasiswa dalam kampus maupun luar kampus juga sangat dianjurkan demi masa depanmu. Apalagi jika kamu mampu membuat koneksi dengan dosen-dosen ataupun orang-orang di dunia kerja. Usahakan tidak berteman dengan yang itu-itu saja, kamu perlu membuka dirimu untuk lingkunganmu. Dari mereka kamu bisa belajar berbagai hal dan jadikan mereka sebagai sebagian dari keluarga di kotamu mencari ilmu.

“If you want to go somewhere you like but no one else wants to, go by yourself. You’ll meet people with similar interests as you.”

Hal-hal yang tidak bisa didapat kalau kamu belajar sendiri adalah caramu belajar bersosialisasi dengan orang lain. Tingkatkan kemampuan dan kreatifitas dalam menyelesaikan masalah. Tidak ada salahnya kamu pergi ke suatu kafe lalu berbincang-bincang dengan pengunjung di sana, pasti kamu menemukan 2-3 persamaan dalam dirimu dan mereka. Atau kamu juga bisa bergabung dengan komunitas yang bermanfaat di luar kampus seperti Hipwee Community di kotamu. Akan ada banyak kegiatan yang dapat memancing bakat dalam dirimu, mengasah jiwa sosialmu terhadap sesama. Teman bisa menjadikanmu tempat untuk bercermin, dengan melihat temanmu sukses kamu akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang serupa 🙂

7. Kontribusimu Kami Tunggu, karena Berkarya Bukan Soal Umur

Berkontribusi nyata melalui karya yang inovatif via https://www.instagram.com

"Menjadi mahasiswa adalah anugerah yang patut disyukuri. Sebagai rasa syukur, kita harus memberikan sesuatu, memberikan kesan dan memberi solusi. Berkontribusi selagi menjadi mahasiswa akan membuatmu menjadi seseorang yang luar biasa, karena sebuah karya tidak akan termakan oleh waktu dan akan terkenang hingga nanti." – Irfan Thofiq, 20 tahun, Peraih Medali Emas PIMNAS 29.

Mahasiswa identik dengan ide-idenya yang luar biasa, oleh karena itu berkontribusilah untuk almamater tercintamu. Berkaryalah meski tak diakui. Berkaryalah meski tak diberi harga. Berkaryalah meski sering dihina. Berkaryalah atas pencapaianmu selama ini. Berkaryalah untuk dirimu dan orang lain, meninggalkan sesuatu yang memang pantas untuk dikenang dan menjadi pembelajaran. Buatlah menjadi hal-hal yang mendorong orang-orang disekitarmu untuk melakukan hal-hal positif. Tuangkan segala kreasi, ekspresimu dan unek-unekmu dalam suatu karya yang berinovasi.

“Saya menemukan cara dalam berjuang sebagai mahasiswa dengan membuat karya tulis, dasar ide saya karena rasa penasaran. Apalagi buat kita yang sering dipandang rendah (diskriminasi) oleh sekitar kayak saya nih orang yang bertatto sering dicela, tapi saya yakin setiap orang dapat dan mampu berkarya serta memotivasi kawan yang lain agar lebih berkembang.” – Taufiq Hidayat, 23 tahun, Pemateri Seminar Nasional Perpetual Aquaculture and Fisheries for National Food and Income Generating.

Kamu adalah generasi penggerak, berada pada posisi yang terdidik yang seharusnya membangun ide bukan hanya untuk mengkritisi saja. Semua bisa berbicara, semua mampu menulis, tapi hanya sedikit dari mereka yang sanggup menginspirasi serta membuka mata melalui karya-karya mereka. Dan kamu harus menjadi bagian dari yang sedikit itu. Kalau bisa berkontribusi sekarang kenapa harus menunggu nanti untuk berkarya? Penyesalan datang tanpa diundang lho ya 🙂

8. Berproses Adalah Kunci Utama dari Pengalaman Hebat Menuju Usaha untuk Memantaskan Diri

Yuk katakan kalau kamu bisa via http://www.skillstogo.co.uk

"Mahasiswa itu dituntut untuk lebih banyak berproses. Tujuannya ya untuk mengembangkan potensi diri dan dapat mengetahui batas kemampuan kita biar dapat kita upgrade lagi (softskill nya)." – Mauli Saragih, 21 tahun, Medan.

Ketika ditanya apa sih keuntungan jadi mahasiswa yang nggak biasa-biasa aja, yang gampang ikut kegiatan seperti lomba, organisasi, himpunan, komunitas, kepanitiaan dan segala urusan akademik? Jawabannya sederhana, karena kamu perlu berkembang. Kamu ingin berpartisipasi dalam kegiatan di kampus atau luar kampus, meskipun hanya sebagai volunteer tapi kamu takut jika akademikmu terganggu. Jika ingin tau sampai dimana dirimu telah berkembang, cobalah untuk melakukan hal-hal yang menjadi momokmu selama ini. Porsi waktumu dengan orang lain adalah sama-sama 24 jam, jadi kenapa tidak mencoba untuk mengatur waktu? Ketakutanmu hanyalah ilusi semata, hadapi untuk mengalahkannya. Jadi mau sampai kapan harus menjadi pribadi dengan karakter yang sama terus-menerus sedangkan semakin tinggi tingkat kamu semakin banyak pula hal-hal yang menjadi penghalang. Kalau ada penghalang lalu sengaja dihindari kapan kamu tau potensi dalam dirimu? Kenapa nggak mencoba hal-hal baru untuk menggali dirimu sendiri? Mungkin kamu tidak mengira bahwa selama ini ada banyak hal tersembunyi yang ternyata kamu mampu melakukannya, hanya saja kamu selalu meragukan kemampuan yang kamu miliki.

Kamu tidak bisa terus-menerus berpikir bahwa semua yang kamu lakukan tidak ada gunanya. Kamu tidak bisa membiarkan dirimu sendiri tenggelam dalam sebuah pertanyaan, “kenapa tidak sesuai dengan keinginanku?” Kamu yang sepantasnya memiliki kendali penuh atas dirimu, kenapa tidak memulai dan mencoba berpikir untuk mengubah hal-hal yang tidak layak bagi dirimu? Tidak perlu menunggu orang lain untuk melakukannya. Tidak perlu menahan dirimu dari dunia luar, bertemulah dengan orang-orang yang akan menginspirasi setiap langkahmu, karena mereka punya segudang pengalaman dibandingkan kamu. Jangan jadi padi yang kosong. Kamu nggak mau kan kalau 3-5 tahun setelah kamu lulus dari perguruan tinggi merasa menyesal karena tidak melakukan hal-hal yang selayaknya dilakukan mahasiswa?

Ini adalah bagian dari prosesmu dan setiap langkah yang kamu lewati harus kamu hargai, dengan begitu usahamu untuk memantaskan diri di masa depan tidak akan pernah sia-sia. Kamu belajar untuk berkembang, tidak ada yang perlu disesali jika langkahmu keliru, karena ini berarti kamu berada satu langkah menuju kedewasaan 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya