Dari sekian banyak kebudayaan di dunia, salah satu kebudayaan yang menarik perhatian saya adalah kebudayaan Tionghoa yang identik dengan masyarakat China (RRC) atau Mandarin. Entah mengapa saya merasa kebudayaan yang dianut oleh sebagian besar ras Mongoloid tersebut unik dengan kepercayaan serta simbol-simbolnya. Saya belum ada rezeki untuk berkunjung ke negeri tersebut. Padahal ingin sekali berbaur dan memperluas wawasan dengan masyarakat setempat dan mempelajari berbagai kebudayaan yang dimilikinya. Traveling kali ini ditutup dengan mengunjungi Kampung China. Destinasi yang pas banget untuk membeli berbagai macam oleh-oleh unik pada keluarga, sanak famili, sahabat, dan teman. Serasa baru pulang dari China githu lhooh....hahahhaa.

“Apapun kebudayaan dan kepercayaan tersebut haruslah dihormati dan dihargai, tidak seharusnya perbedaan menimbulkan cekcok”. Begitulah kutipan dari seorang Ibu paruh baya yang saya temui di Kampung China. Kala itu saya sedang hunting mainan kunci untuk oleh-oleh. Ketika memilih mainan kunci, saya merasa aneh. Biasanya, jika saya memasuki sebuah toko, pemilik toko akan langsung menyambar dengan sambutan dan senyuman paling hangat disertai kalimat-kalimat persuasif agar terpengaruh untuk membeli barang dagangannya. Sudah hampir lima menit saya mondar-mandir tidak ada tanda-tanda kehadiran pemilik toko. Saya berinisiatif masuk lebih dalam ke toko tersebut lalu melongok sambil berkata “Permisi, gantungan kunci yang ini harganya berapa?” Kemudian saya terdiam, opsss.....ternyata pemilik toko sedang shalat. Saya menunggu di luar.

“Maaf Dik, tadi mau beli yang mana?”, sosok wanita paruh baya menghampiri, masih dalam balutan mukenah putihnya. Proses transaksi jual-beli akhirnya berlangsung. Ibu yang ramah, membuat saya berani bertanya, “Maaf Bu. Ibu muslim?”.

“Memangnya kenapa?”, Ibu tersebut senyum seraya memberi bungkusan dagangan yang hendak saya beli.

“Dari perawakan Ibu, saya pikir Ibu adalah orang Tionghoa. Tionghoa biasanyakan beragama Budha”. Cengar-cengir saya jawab pertanyaan Ibu tersebut.

“Saya memang keturunan Tionghoa, tapi saya muslim bukan Budha, tepatnya saya muallaf”, jelas Ibu tersebut dengan dialek bahasa Mandarin yang masih terasa.

“Oh....Alhamdulillah, maaf ya Bu saya sudah salah menilai. Ibu, boleh kita berdiskusi dan bercerita tentang pilihan Ibu menjadi muallaf?”, ragu kalimat tanya tersebut akhirnya terlontar sambil menyeruput teh gelas di tangan agar terkesan tidak terlalu serius heheheh.

“Boleh, kamu mau tanya apa? Ibu mendapatkan hidayah tersebut di masjid Lautze, Glodok Jakarta Barat. Berawal dari rasa penasaran, karena tidak sedikit teman sebangsa mendatangi mesjid tersebut lalu belajar disana, hingga mereka menjadi muslim. Masjid tersebut merupakan tempat perbauran muslim Tionghoa. Lebih jelasnya kamu kesana saja”, banyaknya pengunjung membatasi penjelasan Ibu tersebut.

“Baik Bu, mudah-mudahan saya diberi kesempatan untuk kesana, sepertinya Ibu banyak pembeli. Maaf sudah mengganggu. Tadinya saya tidak mengetahui sama sekali akan informasi masjid tersebut. Terimakasih ya Bu, melalui Ibu saya jadi ingin lebih mengetahuinya”.

Camera Pocket saya low baterai untuk mengabadikan wajah Ibu tersebut. Hari semakin petang. Sayang sekali, ini hari terakhir saya traveling. Besok pagi saya sudah harus kembali ke kota Tapis melanjutkan studi yang ditinggal sejenak. Padahal ingin sekali mengunjungi masjid tersebut. Dilain kesempatan, masjid Lautze akan menjadi nominasi the next traveling destination. Demi mengobati rasa penasaran dan ingin lebih mengetahui informasi, hal tersebut saya search melalui sosial media. Masalah berkunjung, mudah-mudahan dilain hari diberi kesempatan. Amin.

 

1. Arsitektur bangunan yang didesain ala Tionghoa

Terletak di Kota Wisata atau yang disebut juga dengan “Kota Sejuta Pesona” Cibubur, Jakarta Timur. Kampung China merupakan salah satu windows shopping yang menjual berbagai pernak-pernik khas Tionghoa. Kampung ini banyak dikunjungi pada saat menjelang Imlek dan weekend. Apalagi harga jual barang di pasar tradisional ini termasuk miring. Dahulunya Kampung ini hanya diperuntukkan bagi masyarakat setempat (masyarakat yang menetap di perumahan Kota Wisata saja), namun seiring bergulirnya waktu, informasi tentang Kampung China tersebar ke berbagai penjuru sehingga kampung ini banyak dikunjungi oleh pengunjung dari berbagai daerah bahkan wisatawan asing.

 

 

2. Banyak pernak-pernik ala Tionghoa

Salah satu pernak-pernik Tionghoa yang menarik perhatian saya adalah lampion atau lentera merah dengan bentuk dan warna yang unik. Lampion banyak digantung pada atap bangunan masyarakat Tionghoa untuk melambangkan penerangan hidup demi mencapai kebersamaan & persatuan, kesuksesan dalam bisnis, semangat, dan kebahagiaan. Selain itu, banyak patung, hiasan dinding, vas bunga, keramik, gantungan kunci dan miniatur lainnya berbentuk singa, ikan, naga, dan lambang-lambang shio. Singa dipercayai dapat mengusir makhluk-makhluk halus yang menganggu dan menghalau kerugian dalam kehidupan. Ikan merupakan makanan favorit masyarakat Tionghoa, juga merupakan lambang keberuntungan demi mengharapkan rezeki yang berlebih, hidup yang sehat, bahagia serta usaha yang lancar. Shio adalah simbol hewan yang digunakan untuk melambangkan tahun dalam Astrologi Tionghoa sesuai dengan kalender Imlek.

3. Semua simbol dan budaya tersebut merujuk pada pengharapan hidup yang makmur, bahagia, dan sejahtera.

Masih banyak simbol-simbol atau lambang-lambang serta kebudayaan unik masyarakat Tionghoa lainnya yang tidak dapat dibeberkan satu-persatu. Kesimpulan yang saya dapatkan adalah, kesemua simbol dan budaya tersebut merujuk pada pengharapan hidup yang makmur, bahagia, dan sejahtera. Semua orang tentu mengharapkan penghidupan yang demikian, terlepas dari berbagai macam kepercayaan untuk merealisasikannya.

 

4. Jenis Pasar Trasisional

Layaknya pasar tradisional, Kampung China penuh dengan hingar-bingar para penjual dan pembeli. Selain pernak-pernik khas Tionghoa, pasar ini juga menyediakan berbagai macam barang elektronik, aksesoris pada umumnya, fashion pada umumnya, peralatan masak, perlengkapan dapur, dan berbagai kios-kios yang menjajakan makanan serta minuman ala Tionghoa dan ala Indonesia. Ketika memasuki wilayah Kampung China, kamu akan berhadapan dengan Gerbang Kemakmuran. Gerbang tersebut melambangkan harapan para penjual dan pembeli yang masuk mendapatkan kemakmuran.

5. Identik warna gold & merah

Pakaian dan pernak-pernik masyarakat Tionghoa didominasi oleh warna merah dan gold. Warna merah menggambarkan keadaan yang terang dan ceria dalam kehidupan masyarakat Tionghoa, juga melambangkan kesetiaan, kemakmuran, dan keberuntungan. Warna kuning keemasan melambangkan uang. Filosofi warna gold adalah harapan agar mendatangkan lebih banyak rezeki.

Selanjutnya ada berbagai tulisan ucapan selamat, biasanya dalam bentuk bahasa Mandarin dengan huruf berwarna kuning keemasan atau hitam, sedangkan warna dasarnya adalah merah. Ucapan selamat seperti “Gong Xi Fa Cai [恭喜发财]” artinya selamat mendapatkan rezeki. Fu [福] adalah tulisan Mandarin yang berarti bahagia, Chun [春] artinya musim semi. Musim semi merupakan musim terbaik bagi masyarakat Tionghoa dimana adanya festival musim semi atau perayaan Imlek. Ada juga sepasang puisi (Dui Lian [对联]), atau puisi musim semi yang biasanya ditempelkan pada sisi kanan dan kiri pintu. Puisi tersebut merupakan harapan dan do’a warga Tionghoa untuk masa depan dan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya