Terhitung sejak 16 Juni 2019 lalu hingga sekarang, serial berjumlah 8 episode terbitan HBO ini sukses mendulang popularitas di kalangan penonton remaja. Meskipun tema besar yang diusung Euphoria tentang lika-liku kehidupan pergaulan remaja tergolong umum dan bukan merupakan hal baru, serial ini tetap menonjol di kelasnya berkat keunikan elemen cerita dan sinematografi atau teknik pembuatan filmnya yang kreatif, otentik, dan membawa angin segar. Euphoria mendapuk Zendaya sebagai pemeran sekaligus narator utama bernama Rue Bennett, cewek yang bertugas mendongengi penonton menyelami kisahnya sekaligus teman-teman satu sekolahnya dengan kekusutan masalah mereka masing-masing.

1. Perihal Narkoba yang Menjajah Hidup Pemakainya

Pinterest

Pinterest via https://pin.it

Rue didiagnosa mengidap lebih dari satu jenis gangguan mental sejak kecil, yaitu OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), ADD (Attention Deficit Disorder) dan BD (Bipolar Disorder). Kondisi ini membuat Rue sering bengong, murung sepanjang waktu, mendadak mengalami sesak napas, dan kepanikan tanpa sebab, sampai tak mengenali dirinya sendiri.

Terlepas dari itu, keluarga Rue terbilang harmonis dan kedua orangtuanya cukup suportif. Pada kasus Rue, Euphoria hendak menyampaikan pesan bahwa keluarga disfungsional tak selalu jadi faktor utama gangguan mental pada anak. Sejak Rue berkenalan dengan obat-obat penenang kecemasan yang selalu ampuh membuat dirinya ratusan kali lipat lebih baik, ia tak bisa memutuskan hubungan terlarangnya dengan obat-obat itu meskipun sudah menjalani rehabilitasi. 

Keseharian Rue kacau total, urusan sekolah dan hubungan dengan adik serta ibunya tak kalah berantakan. Ia juga sering membahayakan diri setiap nge-fly. Dalam mengurangi gejala sakau, Rue dibantu sobatnya, Fezco, cowok yang terpaksa menjadi pengedar narkoba karena desakan ekonomi, dan kehadiran seorang transgirl bernama Jules Vaughen. Dari sekian banyak pilihan untuk menekan depresi, narkoba terkenal menempati peringkat pertama  pada eskapisme banyak remaja. Seperti yang ingin Euphoria tegaskan, kesenangan ekstrem yang temporer dari narkoba tidak cukup menjajah diri penggunanya saja. Seperti pipa minyak yang bocor di laut lepas, semua di sekitarnya akan terdampak.

2. Dampak Trauma Masa Kecil yang Menggerogoti

Pinterest

Pinterest via https://pin.it

Tokoh Maddy dan Nate dalam serial ini melukiskan dengan baik sebuah hubungan paling nggak sehat alias toxic relationship yang benar-benar destruktif. Selama rutin putus-nyambung dan mempertahankan hubungan dengan cara-cara kekanakan seperti memamerkan pacar baru di setiap masa jeda mereka, pasangan kontroversial ini selalu membebani tokoh-tokoh lain dalam jalinan masalah yang sama ruwetnya.

Tak peduli seberapa temperamental dan kasarnya Nate, Maddy akan tetap kembali pada Nate sebagaimana Nate tak rela melihat Maddy bersama cowok lain. Segala kecenderungan psikopat Nate dan sikap homophobic-nya ini terbentuk dari pola didik ultra-disiplin dan riwayat penyimpangan seksual ayahnya yang mengkhawatirkan. Aktor pemeran Nate, Jacob Elordi, dalam wawancaranya menyatakan bahwa tokoh Nate yang dicitrakan sebagai tipikal cowok tampan-tapi-brengsek ingin ditampilkan Euphoria memiliki sejarah logis tentang apa yang membuat karakternya menjadi sedemikian rupa. 

3. Perkara Standar Kecantikan Fisik

Pinterest

Pinterest via https://pin.it

Sebelum berani mengekspresikan diri sepenuhnya, Kat selalu minder soal bentuk dan bobot tubuhnya yang di atas rata-rata. Tapi, semua berubah ketika rekaman video asusilanya tersebar di internet. Melihat banyaknya komentar-komentar positif tentang tubuhnya dari viewers video tersebut, Kat mulai tertarik memanfaatkan ketenaran semu yang amoral itu sebagai bentuk apresiasi pada dirinya.

Lambat laun, gaya berpakaiannya berubah menjadi lebih terbuka seiring dengan petualangannya mencari jati diri yang disebut Maddy 'menggelikan'. Sahabatnya tidak setuju dengan transformasi Kat yang terlalu ekstrem. Karena, menjadi bangga dan percaya diri atas tubuhmu sendiri itu bagus dan wajib. Namun, tidak perlu dengan cara mencari validasi berlebih dari orang lain sampai identitas aslimu berangsur-angsur akan hilang tergeser definisi ideal yang dibuat orang lain.

4. Menilik Isu Gender dan Seksualitas

Pinterest

Pinterest via https://pin.it

Keberagaman tokoh dalam Euphoria tak hanya sebatas ras, etnis dan bentuk tubuh saja, tapi juga soal identitas gender dan orientasi seksual. Rue yang secara seksual adalah perempuan selalu berpenampilan seperti laki-laki alias tomboy. Sementara Jules merupakan trans girl, laki-laki yang berdandan seperti perempuan. Keadaan Jules ini juga bukan tanpa alasan dan sebab.

Sama seperti Nate, Jules menanggung trauma masa kecil tentang ibunya yang tiba-tiba mengirimnya ke rumah kejiwaan tanpa persetujuannya hingga akhirnya memuncak pada perceraian kedua orang tuanya. For your information, pemeran Jules, Hunter Schafer, aslinya memang seorang trans girl di dunia nyata, lho. Dari sini Euphoria berupaya mengantarkan gagasan bahwa identitas gender dan orientasi seksual merupakan spektrum, bukan sesuatu yang digolongkan dalam dua kelompok saja. Dan peran Jules yang dilakoni Hunter membuktikan bahwa dunia perfilman mulai menerima dan merangkul kelompok orang yang memiliki identitas gender bertolak belakang dengan jenis kelamin untuk memiliki kesempatan berkarier yang sama sebagai manusia di tengah derasnya stigma buruk masyarakat tentang mereka.

 

5. Bahaya Terselubung Penggunaan Sosial Media yang Tidak Bijak

Euphoria [3rd episode]

Euphoria [3rd episode] via http://HBO.com

Di era digital yang memungkinkan hampir segala hal dapat terjadi di dalam jaringan, internet bisa menjadi tempat paling tidak aman bagi siapapun. Media sosial termasuk penyumbang terbesar efek buruk tingkat rendah sampai fatal akibat penyalahgunaan para penggunanya.

Sexting, misalnya. Aktivitas bertukar pesan berkonten seksual ini bisa menjerumuskan remaja di bawah umur ke penjara bila terjadi di Amerika Serikat karena melanggar undang-undang pornografi anak (child pornography). Jules yang masih berumur 17 tahun alias underage terancam tersandung skandal ini, semua akibat kebiasaannya menggunakan aplikasi biro 'jodoh' online yang kebanyakan dipakai banyak orang sebagai sarana mencari rekan seks satu malam. 

Kemalangan juga menimpa dua tokoh Euphoria lain, Kat dan Cassie, yang mendapati video pornografi mereka disebarluaskan oknum tak bertanggungjawab alias orang-orang terdekat mereka sendiri. Ironi ini berakar dari pemikiran toxic masculinity yang menjamur di kalangan remaja laki-laki dalam serial ini. Mereka beranggapan ukuran menjadi laki-laki sejati dihitung dari seberapa banyak perempuan yang mereka taklukkan secara seksual. Output dari cara ini dinilai memberi semacam kebanggaan yang disombongkan antar lelaki. 

 

Di samping kehadiran isu-isu sensitif di dalam cerita yang memang dekat bahkan akrab dengan realita sisi kelam dunia remaja, kepiawaian akting dari jajaran pemeran serial ini turut menyempurnakan keseluruhan plot karena berhasil membuat para penonton merasa semua karakter yang diperankan benar-benar hidup. Tak ketinggalan, visual memikat dari para aktor ikut memanjakan mata dari awal hingga akhir cerita yang diadaptasi dari serial televisi Israel berjudul sama ini.

Lewat teknik pengambilan gambar yang tak biasa dan latar musik elektronik yang thrilling sepanjang episode, Euphoria tak tanggung-tanggung menumbuhsuburkan empati mendalam penontonnya ke perkembangan setiap tokoh dalam berperang melawan monster mereka masing-masing.  

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya