1. Bersamamu adalah bahagiaku.

Begitu banyak kenangan yang kita lalui selama lima tahun bersama. Ada saat di mana kuharus kecewa dengan sikapmu yang mudah berpaling. Begitu banyak bunga yang kamu hampiri di balik mataku. Namun maafku selalu ada untukmu. Karena kuyakin kamu tahu ke mana jalan harus pulang dan kamu memilihku menjadi satu-satunya pendampingmu.

2. Begitu banyak aral dan rintangan yang berani kamu hadapi hanya untuk menggenggam tanganku dan berjalan bersama menuju gerbang kebahagiaan.

Demi menggenggam tanganku

Demi menggenggam tanganku via https://www.google.co.id

Perjuangan kita untuk menempuh kebahagiaan tidaklah mudah. Begitu banyak aral dan rintangan yang berani kamu hadapi hanya untuk menggenggam tanganku dan berjalan bersama menuju gerbang kebahagiaan dalam sebuah ikatan yang sakral. Semua persiapan dengan bahagia kami rancang dan atur bersama dengan harapan ini akan menjadi momen yang paling bahagia dalam sejarah hidup kita berdua.

3. Tuhan mengambilmu dalam sebuah kecelakaan.

Dunia serasa runtuh

Dunia serasa runtuh via http://crownedwithpurpose.com

Banyak rencana yang kita susun berdua sambil, menanti waktu pernikahan yang tinggal sebulan lagi. Di saat semua ingin kami bangun menjadi kehidupan sederhana dalam sebuah ikatan pernikahan.

Tuhan mengambilmu dalam sebuah kecelakaan.

Duniaku seakan runtuh mendengar kabar itu. Marah, sedih, dan tak percaya akan semuanya. Sempat aku menyalahkan Tuhan atas musibah yang menimpaku. "Tuhan, mengapa harus saya? Dari sekian banyak manusia di muka bumi ini, mengapa harus saya yang Engkau berikan cobaan seberat ini?" Hati ini seakan tak kuasa menerima semuanya.

4. Tangan yang selalu merangkul, bibir yang selalu mengucap sayang dan menyemangati, mata yang selalu melihat dan memperhatikan tingkahku, serta kaki yang selalu berjalan ke arahku, kini terbujur kaku tak bernyawa di hadapanku.

Tak ada lagi tangan yang merangkul itu

Tak ada lagi tangan yang merangkul itu via https://www.google.co.id

Kaki ini seakan tak kuasa melangkah untuk mengantarkan kepergiannya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tangan yang selalu merangkulku, bibir yang selalu mengucap sayang dan menyemangatiku, mata yang selalu melihat dan memperhatikan tingkahku, kaki yang selalu berjalan ke arahku, kini terbujur kaku tak bernyawa di hadapanku. Berat rasanya melepas jasad orang yang sangat aku sayangi untuk pergi selama-lamanya. Rasanya tak sanggup bagiku menjalani hari-hariku tanpa kehadirannya.

5. Setitik cahaya dari sebuah kehilangan.

Setitik cahaya

Setitik cahaya via https://www.google.co.id

Setelah kepergiannya, hidupku seakan tanpa arah. Menyalahkan Tuhan adalah kekeliruan terbesarku. Cukup lama aku terpuruk dalam pedihnya kehilangan sampai aku menutup diri dari dunia luar. Sampai seorang sahabat dengan sabar menyadarkan dan menasehatiku akan rencana terbaik Tuhan atas segala ujian yang diberikan kepadaku.  

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Ayat suci itu seakan-akan menamparku dengan keras. Aku pun menyadari bahwa akan ada hikmah terbaik yang akan Tuhan berikan kepadaku. Aku sangat mencintainya, tapi Tuhan lebih mencintainya daripada aku. Dengan bantuan sahabat yang tak kenal lelah menyemangatiku, aku pun mulai berusaha bangkit menata hatiku kembali.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya