Maaf, aku memang pecundang, hanya berani mencintaimu dalam diam. Aku telah belajar bahwa dalam diam sungguh tidak ada penolakan. 

Ini perihal percaya. Entah jika nantinya akan dihianti atau apa, tetapi aku percaya bahwa tidak ada suatu hal di dunia yang terjadi sia-sia. Aku telah mengubah sudut pandang negatifku pada dunia. Aku hanya melihat sisi positif dari apapun yang terjadi. Itulah mengapa aku berani memutuskan tindakanku yang sekarang.

Sebagai makhluk seksual dan normal, rasanya tidak mungkin jika selama hidup tidak pernah mencintai seseorang. Rasa suka seringkali timbul secara misteri, ya tiba-tiba aja gitu. Sesibuk apapun aku menyusun rencana dan menciptakan idealisme mengenai sosok yang harus aku cintai, tapi tetap saja, gagal. Memandang dunia, aku hanya takut bersanding dengan seseorang yang salah. Namun, nyatanya, manusia memang hanya bisa berencana, tetapi jika akhirnya hatiku dijatuhkan untuk memilihmu, lalu aku bisa apa?

Aku yakin, aku bukanlah satu-satunya yang hanya berani menyimpan rasa suka kepada seseorang. Beberapa dari kita mungkin sadar bahwa sesungguhnya cinta adalah hal yang perlu dihargai dan dihormati. Itulah mengapa, walaupun aku menyukaimu dalam diam, aku merasa setiap hari aku diberkati.

Sebenarnya aku juga tidak mengerti, sebenar-benarnya alasan apa yang membuatku terkesan “lebay” dalam mencintai. Bahkan memandang wajahmu melalui foto saja, seringkali aku tidak memiliki nyali. Mungkin aku juga memikirkan bahwa di usia sekarang, bukan lagi waktunya aku bermain-main lagi. Segala sesuatu harus dipikirkan karena usiaku sekarang adalah usia penentu di masa depan. 

Aku sadar, bahwa masih banyak hal yang harus aku perjuangkan sebelum aku benar-benar memutuskan untuk menghabiskan waktuku bersamamu. Selama perjalanan aku memperjuangkan mimpi, kamu adalah salah satu sosok di balik semangatku ketika aku jatuh dan di saat aku mulai merasa kehilangan energi untuk meraih mimpi.

1. Terima kasih telah menjadi perekat antara diriku dengan Sang Pencipta

Adakalanya iman seseorang itu menurun, tetapi dengan mengingatmu sama halnya aku mengingat kesempurnaan Tuhan

Adakalanya iman seseorang itu menurun, tetapi dengan mengingatmu sama halnya aku mengingat kesempurnaan Tuhan via http://unsplash.com

Advertisement

Selalu ada ruang dan waktu untuk diriku mengadu perihal dirimu kepada Sang Empunya di setiap harinya. Aku percaya, hanya Dia tempat terbaik diriku mencurahkan segala isi hati dan pikiranku. Aku tidak pernah memaksa-Nya untuk menjadikanmu menerimaku. Apalagi membuatmu mencintaiku. Aku hanya mengadu tentang apa saja yang ada di pandanganku mengenai dirimu. Seringkali aku bertanya, “apakah dirimu baik-baik saja?” atau “apa hari-harimu terlewati penuh dengan tawa?”

Setiap kali, doa baik untukku, keluargaku, temanku, dan kamu selalu tulus meluncur melalui lidahku. Aku biarkan Tuhan menghakimiku. Entah apapun yang Dia putuskan di akhir nanti, aku hanya berdoa agar aku tidak membuang waktuku sia-sia. Walaupun aku di sini diam membisu, Tuhan tau bahwa aku tidak pernah mencoba mempermainkanmu.

2. Lelah. Mungkin karena aku belum berhasil menyerahkan seluruh perasaanku pada Sang Kuasa

Sakit hati yang muncul tanpa alasan seringkali aku dapati ketika aku merasa lelah. Mungkin aku kurang belajar apa arti pasrah dan ikhlas.

Sakit hati yang muncul tanpa alasan seringkali aku dapati ketika aku merasa lelah. Mungkin aku kurang belajar apa arti pasrah dan ikhlas. via http://unsplash.com

Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Begitupun ketika aku lebih memilih untuk menyimpan rasa daripada harus mengungkapkannya.

Advertisement

Entah mengapa semakin dewasa, diriku semakin takut untuk mendekati cinta. Masa lalu yang selalu membuatku bertanya-tanya, “apakah dirimu sepantas itu untuk aku perjuangkan?”. Aku takut membuat dirimu enggan. Itulah mengapa sebelum maju memperjuangkan, aku memilih untuk diam dan melakukan penilaian, terhadap diriku sendiri.

Aku bisa saja mengungkapkannya sekarang, tapi aku tidak siap saja dengan kenyataan yang akan aku terima setelahnya. Terlebih jika aku tertampar dengan realita bahwa kau tak sesuai dengan ekspektasiku selama ini. Aku hanya takut setelah terlalu mencintaimu, lalu beralih menjadi terlalu membencimu. Hanya karena kau tak menerima perasaanku.

Tunggu waktunya saja. Aku percaya bahwa akan ada waktu yang tepat untuk membiarkanmu mengetahui segalanya. Jika memang waktunya terlambat, ya mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama. Lagi-lagi aku percaya bahwa Tuhan telah mengatur segalanya. Sekenario Dia jauh lebih baik daripada sikap gegabah manusia.

3. Khawatir, lagi-lagi aku berhasil dimakan habis oleh keegoisanku sendiri

Khawatir menjadi wujud kecemburuanku yang seringkali muncul di luar kendaliku

Khawatir menjadi wujud kecemburuanku yang seringkali muncul di luar kendaliku via http://unsplash.com

Aku sadar bahwa di dunia ini ada banyak wujud manusia yang pernah, sedang, atau akan kau temui nanti. Sangat memungkinkan bahwa di antara ratusan atau bahkan ribuan orang ada yang nempel di hatimu atau bisa jadi di antara mereka juga ada yang tertarik kepadamu. 

Aku tidak tahu, berapa banyak sainganku demi memenangkan hatimu. Apalagi, ketika aku memilih untuk menyimpan perasaan ini dan tidak membiarkan siapapun mengetahui. Mungkin hanya beberapa kolega terdekatku saja yang tahu. Akan tetapi, sama saja, mereka tidak kuperbolehkan berbuat apa-apa. 

Khawatir seringkali muncul juga sebagai wujud dari bentuk ketidakpercayaan diriku untuk menyandingmu. Berbicara soal kapan diriku siap dan telah percaya diri muncul di depan wajahmu, aku juga tidak yakin kapan hal itu terjadi. Seringkali pertanyaan semacam, “Apakah kamu akan menunggu diriku juga? Sama halnya ketika aku menunggumu dengan cara menjaga hatiku di sini?” muncul di kepalaku.

4. Berbicara soal ikhlas, entah rasanya begitu berat. Namun, seiring berjalannya waktu diriku sadar bahwa cinta bukan hanya tentang rasa suka

Keyakinan dalam diriku tentang dirimu adalah wujud dari ekspektasiku yang terlalu berlebihan

Keyakinan dalam diriku tentang dirimu adalah wujud dari ekspektasiku yang terlalu berlebihan via http://unsplash.com

Semakin dewasa melihat fenomena kehidupan yang semakin mengerikan membuatku sadar bahwa cinta tidak cukup hanya sekedar suka. Terlebih rasa suka dapat dibentuk seiring berjalannya waktu. Aku harus menyiapkan diriku secara mental dan fisik agar aku bisa meyakinkanmu untuk menyukaiku dan memilihku. Ketika aku tidak memiliki apapun untuk dibanggakan, lantas apakah wajar jika aku memaksa Tuhan untuk menjadikanku menyukaiku? Apakah itu tidak egois namanya?

Melepasmu ketika aku terlalu lambat dalam menata hidup mengajarkanku siap dan semakin dewasa karena aku dituntut untuk ikhlas. Ikhlas adalah sesuatu yang begitu besar dampaknya. Mungkin aku perlu menghadiahi diriku sendiri ketika aku berhasil melakukannya. Bukan karena diriku salah, tetapi aku percaya bahwa memang bukan jodohnya.

Apakah aku juga sia-sia menghabiskan waktuku mencintaimu? Tidak. Aku juga banyak belajar dari momen ini. Aku juga berusaha menghargai siapapun pasanganku yang sesungguhnya, nanti. Aku akan membuktikan kepada siapapun bahwa aku tidak menghabiskan duniaku dengan bermain-main. Cinta itu suci. Sesuatu yang patut dihargai.

Aku percaya bahwa cinta akan datang di waktu yang tepat. Siapapun dia yang didatangkan dan mampu membuat hatiku yakin, berarti dia adalah orang yang tepat dan di waktu yang tepat.

5. Walaupun nantinya kita tidak bersama, tapi terima kasih. Dirimu menjadi salah satu alasanku menjadi lebih baik lagi

Aku tidak pernah menyalahkan diriku di atas segala tindakan dan konsekuensi yang sedang aku jalani

Aku tidak pernah menyalahkan diriku di atas segala tindakan dan konsekuensi yang sedang aku jalani via http://unsplash.com

Mungkin satu hal yang ku ingin kau untuk mengetahuinya, melalui surat ini aku ingin menegaskan bahwa aku tidak sedang mencoba merengek meminta balasan perasaan. Namun, bukan berarti aku tidak bersungguh-sungguh dalam mencintaimu. Hanya saja, aku memberimu kebebasan tentang apa saja yang ingin kau jadikan pilihan. 

Aku juga ingin berterima kasih telah membuatku memaksa otakku berpikir keras tentang masa depan yang benar-benar kuinginkan. Awalnya aku melakukan itu semua untuk menarik perhatianmu, tetapi semakin kesini aku semakin sadar bahwa diciptakan di dunia dengan kebebasan. Aku tidak mau menjadi budak cintaku sendiri terhadapmu. Aku memiliki hak untuk mengatur kehidupanku.

Terima kasih, itu semua aku dapatkan setelah aku mati-matian merenungkan apa saja yang aku rasakan selama ini. Kamu memang begitu istimewa dan aku percaya jika memang takdirnya, sekeras apapun kita mengelak, pasti tetap akan menyatu juga. Hehe

 

Selamat menjalani gemerlap kehidupan, dari diriku yang selalu mengagumi dan mendoakanmu dalam diam. Terima kasih telah telah menemani dalam pencarian jati diri. Semoga Tuhan selalu meridloi kita baik-baik saja. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya