#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Kemeriahan dan keramaian kota London di Inggris sudah banyak dikunjungi banyak orang. Saatnya menikmati suasana Inggris dari sisi yang berbeda dengan mengunjungi pedesaannya yang dikenal sebagai English Countryside. Suasana pedesaan Inggris yang sangat khas menjadi salah satu tujuan menikmati keindahan kota Inggris yang terkenal sebagai kota multicultural ini. Mengunjungi Cotswold adalah menjadi agenda saya kali ini saat berada di Inggris.

Cotswolds, hamparan perbukitan dan lereng hijau yang letaknya membentang sejauh 145 km dari South – western (barat daya ) Negara Inggris melintasi enam kabupaten, dari Worcestershire, Gloucestershire, Wiltshire, Oxfordshire, Warwickshire dan Bath & bagian tenggara Somerset.

Perbukitan ini didominasi dengan kota tua yang bersejarah, pedesaan yang semua bangunannya menggunakan limestone - batu berwarna kekuningan yang sebagian besar dibangun antara abad 18 hingga 19, serta perkebunan. Seringkali Cotswold mendapat julukan Area of Outstanding Natural Beauty, karena keindahan desanya yang so typically English sejak 300 tahun silam. Tak heran setiap orang yang melihatnya pasti akan jatuh cinta.

Asal muasal kata Cotswolds adalah dari nama seorang kepala suku Anglo-Saxon bernama Cod di abad ke-12 yang memiliki dataran tinggi atau "wold" - maka "Cod’s wold" dan akhirnya menjadi "Cotswold". Cotswolds kadang-kadang dikenal sebagai "tanah Raja Cod (King Cod’s land)". Penjelasan lain adalah kata 'COT' berarti domba atau penahanan dan Wolds berarti bukit yang bergulir.

Pada abad pertengahan, Cotswolds terkenal dengan dombanya yang menghasilkan wool dengan kualitas yang bagus dengan harga yang mahal, sehingga menjadikan kawasan ini makmur dan kaya. Bahkan sampai saat ini, kita masih bisa melihat domba-domba di perbukitan Cotswold, sabagai gambaran klasik Cotswolds. Saya akan menikmati keindahan empat desa di Cotswolds, antara lain Burford, Bibury dimana akan menikmati makan siang di desa ini, kemudian Bourton on the water, Stow on the wold dan Broadway.

1. Burford

Dari kejauhan terlihat hamparan bukit hijau dan ladang berwarna kuning yang ternyata merupakan tumbuhan canola. Pemandangan yang saya lihat benar-benar sangat indah. Akhirnya sampailah di pusat kota Burford. Burford adalah sebuah kota kecil di dekat sungai Windrush di perbukitan Cotswolds, bagian utara wilayah Oxfordshire dan sekitar 20 mil sebelah barat kota Oxford. Kota ini dianggap sebagai gerbang utama bagian selatan Cotswolds dengan jumlah penduduk sebanyak 1000 jiwa. Burford berasal dari kata Inggris Kuno burh berarti kota yang dikelilingi tembok di masa Anglo-Saxon atau kota berbukit dan ford yang artinya menyebrangi sungai.

Di pusat kota yang terbilang sangat kecil inilah semua tempat kegiatan berpusat, mulai dari pusat informasi turis, restoran, bank, kantor pos, gereja St John the Baptist, pub serta toko kelontong. Lereng jalan utama yang luas dipagari dengan rumah-rumah tua di kanan kirinya, cottage kuno dan banyak toko-toko yang semuanya hampir tidak berubah sejak zaman Tudor.

2. Bibury

Arlington Row

Arlington Row via https://www.hipwee.com

Advertisement

Melanjutkan perjalanan ke desa berikutnya, yaitu Bibury. Inilah desa yang benar-benar ingin saya lihat dari awal. Hanya 15 menit waktu yang dibutuhkan dari Burford menuju Bibury, bis harus melewati jalan yang kecil dimana kanan kirinya hanya terdapat ladang canola maupun padang rumput yang sangat indah.


Bibury merupakan sebuah desa di River Coln, di kawasan Gloucestershire, sekitar 9 miles jaraknya dari pusat kota Burford.


Bis harus melewati jalan yang kecil dimana kanan kirinya hanya terdapat ladang canola maupun padang rumput yang sangat indah. Oh ya, agak sulit untuk mencapai Cotswolds jika menggunakan transportasi umum, karena beberapa area tidak dilalui oleh transportai publik, misalnya hanya ada satu bis umum yang melewati Bibury dan hanya pada jam-jam tertentu saja. Salah satu cara yang efektif untuk menelusuri desa Cotswolds, selain menggunakan taksi dari stasiun kereta terdekat, pilihan lainnya adalah bergabung bersama tur, ataupun dengan menyewa kendaraan dan melakukan road trip.

Advertisement

Terlihat sebuah desa dengan bangunan-bangunan tua disekelilingnya yang dipenuhi dengan bunga berwarna warni. Suara air sungai dengan angsa putih yang berenang rasanya hanya seperti sebuah gambar di sebuah buku dongeng, sangatlah tradisional Inggris sekaligus elegan. Di sini pulalah saya pertama kali melihat angsa hitam – black swan sedang berenang di sungai. Menurut cerita, desa ini dijuluki the most beautiful village in England oleh William Morris dan itu benar adanya ketika melihatnya langsung. Desa ini tidak pernah gagal dalam menarik perhatian para turis, dan pernah tampil sebagai setting beberapa film Blockbuster, antaranya adalah Stardust dan Bridget Jones’s diary.

Salah satu daya tarik utama di desa ini selain gereja Saxon St Mary, adalah Arlington Row, sebuah area yang tidak terlalu luas dengan sederetan rumah tua di seberang jembatan yang terbuat dari batu limestone dan sudah berdiri sejak tahun 1380. Dulunya bangunan-bangunan dikawasan ini digunakan sebagai pertokoan benang wool yang kemudian berubah menjadi tempat tinggal para penenun sejak abad ke 17.

Arlington Row juga merupakan area yang paling banyak difoto oleh para turis, termasuk mobil kuning milik salah satu warga yang terparkir di depan rumahnya. Mobil ini menurut sebagian orang di internet mengganggu keindahan fotografi kawasan itu. Tidak bisa disalahkan juga, karena pemilik mobil tersebut sudah tinggal di kawasan ini sejak lama dan seharusnya para turis memaklumi hal tersebut.

Setelah selesai mengelilingi Arlington Row dan melihat sekilas peternakan ikan trout yang berada di seberangnya, saya langsung menuju the Swan Hotel, sebuah hotel yang ada di seberang Arlington Row untuk menikmati santap siang yang disajikan oleh restoran Swan Brasserie di hotel tersebut. Menikmati sajian makan siang berupa gilled ikan trout dengan mash potato dan saus spesial, ikannya diambil dari peternakan ikan lokal di sekitar sana. Untuk hidangan pencuci mulutnya berupa apple crumble yang disajikan dengan es krim vanilla.

3. Burton On The Water

Burton On The Water

Burton On The Water via https://www.hipwee.com

Dari Bibury, kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa selanjutnya, Bourton on The Water yang berjarak hanya 20 menit. Dikenal dengan sebutan little Venice of Cotswolds ini merupakan salah satu desa yang banyak dikunjungi oleh para turis mancanegara. Bangsa Romawi pernah menduduki wilayah ini dengan membangun jalan, nama Bourton on The Water sendiri diambil dari dua kata dari bahasa Saxon, yaitu Burh yang artinya adalah banteng, dan Ton yang artinya adalah desa, dan secara harfiah adalah desa yang berada di sebelah benteng. Sementara on the water masih teka teki, tetapi sebagian berasumsi kata ini diambil dari aliran sungai Windrush yang selain melintasi kota Burford, juga melintasi desa ini.

Deretan jembatan rendah yang membelah desa dengan pohon-pohon rindang di sepanjang sungai serta deretan bangunan honey limestones khas Cotswolds yang sebagian besar merupakan toko souvenir dan restoran. Ada lima jembatan yang ada di desa ini, mill bridge salah satunya sudah ada sejak tahun 1654. Jembatan terakhir yang dibangun adalah coronation footbridge pada tahun 1953, menggantikan jembatan kayu yang sudah ada sejak 1750 dan sempat rubuh saat para turis melewatinya.

Matahari bersinar menghangatkan cuaca yang masih tergolong dingin di akhir bulan April, rerumputan di pinggir sungai dipenuhi turis maupun penduduk desa yang sekedar duduk di bawah pepohonan hijau yang rindang sambil memberi makan bebek atau sekedar menikmati keramaian desa siang itu.

Tempat wisata yang wajib dikunjungi disini, antara lain Cotswolds Motoring museum and Toy museum dengan koleksi mobil antik, dan sepeda motor klasik dan caravan. Cotswolds model village dimana kita bisa melihat replika miniatur pedesaan Bourton on the water dengan skala 1:9 yang sengaja dibuat mirip seperti aslinya oleh salah satu pemilik penginapan di desa ini, The Old New Inn. Membutuhkan waktu sekitar 5 tahun dalam pembangunannya hingga diresmikan pada tahun 1937. Ada juga sebuah taman labirin Dragonfly maze yang cukup menarik untuk dikunjungi jika ingin mencari jalan keluar seperti memecahkan teka teki puzzle.

4. Stow On The Wold

Stow On The Wold

Stow On The Wold via https://www.hipwee.com

Stow on The Wold, kota yang sebelumnya bernama Edwardstow ini dikenal sebagai market town. Sebagai salah satu pedesaan Cotswolds tertinggi letaknya, 800 kaki di atas permukaan laut dan berada pada persimpangan tujuh jalan besar. Pada abad pertengahan di masa keemasan perdagangan wool, alun alun kota Stow on The Wold merupakan pasar domba yang cukup besar dan sudah ada sejak 1107 di masa pemerintahan Henri II.

Alun-alunya tidak terlalu luas, tetapi sekarang banyak toko barang antik, galeri dan toko kerajinan di sekitarnya, begitu juga bila berjalan melewati gang-gang kecil yang dulunya sengaja dibuat untuk mengontrol jalannya domba. Salah satu bangunan bersejarah di kota ini adalah gereja St. Edward yang dibangun pada abad 11 dan 15.

5. Broadway

Broadway High Street

Broadway High Street via https://www.hipwee.com

Broadway adalah sebuah desa yang cukup besar dengan julukan Jewel of The Cotswolds. Letaknya berada di propinsi Worchestershire dan merupakan bagian dari pedesaan Cotswolds. The Broadway merupakan jalan utama dengan jejeran pepohonan chestnuts merah dan area rerumputan yang cukup lebar dengan deretan bangunan berbahan batu berwarna kuning gabungan dari gaya Georgian dan Tudor yang sebagian besar sudah ada sejak abad 16.

Berada di wilayah West Midlands, Broadway letaknya berbatasan dengan wilayah Gloucestershire, berada di tengah-tengah antara kota Evasham dan Moreton in Marsh. Pada abad 17, desa ini merupakan jalur yang cukup sibuk bagi kereta kuda dari Wales, Worcester menuju London. Broadway adalah salah satu desa yang dilalui oleh jalur Cotswolds Way. Cotswold Way adalah jalan setapak jarak 102 mil (164 km) panjang yang membentang di sepanjang lereng Cotswold, yang menawarkan pemandangan pedesaan Inggris klasik, dimulai di Bath dan berjalan timur laut melalui Broadway, sebelum turun menuju Chipping Campden jika dilihat di peta.

Jalur ini pertama kali diusulkan lebih dari 50 tahun, hingga akhirnya pada Bulan Mei 2007, jalur ini diakui sebagai jalur nasional (National Trail).

Broadway dikenal sebagai salah satu tempat berbelanja yang cukup dikenal di Cotswolds. Area pertokoan berjejer di jalan utama Broadway, beragam mulai dari toko fashion wanita, toko peralatan rumah tangga, toko furniture serta toko-toko yang menjual barang antik. Itu merupakan salah satu cara yang menarik untuk bersantai yang melibatkan retail therapy. Tak hanya terbatas pada toko saja, di jalan utama ini juga terdapat salon dan spa, galeri seni, museum, restoran hingga toko-toko souvenir. Hampir 90% toko-toko yang ada di sepanjang Broadway dimiliki secara independen.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya