Menulis itu sebenarnya nggak susah! Merangkai huruf menjadi kata dan susunan kalimat itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Apalagi zaman sekarang udah banyak platform dan media yang bisa mempublikasikan karya kamu tanpa syarat ribet atau harus disunting sana sini.

Kamu nggak perlu kuliah jurnalistik atau sastra dulu buat bikin reportase. Nggak ada yang maksa kamu buat bikin skripsi analisa framing berita media massa sebagai syarat bikin blog pribadi. Nggak perlu!

Tapi, pernah nggak kamu tanpa sengaja terdampar ke artikel yang bikin emosi jiwa karena nggak jelas maunya apa? Logika kalimatnya kacau balau. Judulnya bilang A, padahal isinya sama sekali nggak menyinggung soal A. Gemas kan jadinya?

Terus enaknya diapain tuh penulis artikel kayak begitu? Tolong jangan dibully ya. Itu nggak baik. Mending kamu suruh aja dia belajar nulis artikel ala jurnalis.

Tahu kan? Artikel yang biasanya muncul di media kredibel yang ditulis oleh para jurnalis yang mumpuni itu biasanya bernas, berbobot. Alur bertuturnya rapi, dan bisa memberi “pencerahan” atau ilmu baru buat pembacanya. Kan enak tuh baca artikel kayak gitu.

Makanya, walaupun nggak belajar secara khusus tentang jurnalistik, rasanya nggak ada salahnya kita belajar dari kebiasaan para jurnalis saat mereka menulis artikel. Apa saja sih?

1. Penentuan sudut pandang

tentukan sudut pandang penulisan

tentukan sudut pandang penulisan via https://www.pexels.com

Ini hal pertama yang harus kamu siapkan kalau mau membuat tulisan. Tentukan dulu kamu mau memulai cerita dari sudut pandang mana. Hal ini akan membuat ceritamu lebih fokus. Nggak terlalu melebar kemana-mana.

Advertisement

Jangan terlalu serakah menampilkan cerita dari berbagai sudut pandang sehingga bikin pembaca kamu pusing saat baca artikel. Kalau memang ada sudut pandang menarik lain, yang menurut kamu layak diceritakan, buatlah artikel terpisah.

2. Lead yang menarik

kalimat pembuka yang menarik

kalimat pembuka yang menarik via https://images.pexels.com

Dalam ilmu jurnalistik, struktur berita terdiri atas kepala (lead) dan badan berita. Bagian lead ini adalah paragraf awal artikel yang juga berfungsi sebagai kalimat pemikat pembaca. Bagaimana keputusan pembaca terhadap artikel kamu, apakah akan terus dibaca sampai habis atau justru dilewatkan, sangat tergantung dari bagaimana penulisan lead.

Untuk tulisan reportase dan berita langsung, jurnalis biasanya akan menulis lead yang to the point, merujuk pada angle berita yang dipilih. Tapi untuk artikel feature, lead biasanya hanya berisi “petunjuk” tentang artikel yang ditulisnya. Misalnya, dia mau menulis artikel tentang sejarah Candi Prambanan, supaya lebih menarik pembaca boleh jadi lead yang dipilih akan menyinggung kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso.

3. Lengkapi 5W + 1H

lengkapi artikel dengan 5W + 1H

lengkapi artikel dengan 5W + 1H via https://www.pexels.com

Advertisement

Sering dengar istilah 5W + 1 H?  6 poin ini merupakan poin wajib yang harus tertulis dalam artikel untuk memperjelas cerita. 
Terdiri atas What (apa), Who (siapa), Where (dimana), When (kapan), Why (kenapa) dan How (bagaimana).

Kehadiran keenam poin ini membuat artikel yang kamu baca jadi lebih jelas maksud dan tujuannya sehingga tidak membuat bingung pembaca kamu.  Tulisan yang tidak dilengkapi keenam unsur ini bikin informasi yang disampaikan jadi tidak tuntas dan rentan disalahartikan orang lain.

4. Perkaya dengan informasi pendukung

perkaya artikel dengan informasi pendukung

perkaya artikel dengan informasi pendukung via https://www.pexels.com

Dalam banyak kasus, sudut pandang yg menarik saja terkadang tidak cukup untuk memuaskan pembaca. Itu sebabnya, jurnalis sering memberi tambahan latar belakang untuk artikel yang ditulis. Atau istilah kerennya, memberi konteks pada artikel.

Misalnya menulis tentang Kampung Wisata Batik yang mulai terlupakan, kita bisa kasih cerita ilustrasi tentang kisah hidup si A, seorang pengrajin batik hidupnya susah karena geliat kampung wisata yang mulai meredup.

5. Perkaya diksi

perkaya diksi

perkaya diksi via https://www.pexels.com

Diksi atau pemilihan kata punya pengaruh besar dalam penulisan artikel.  Ibaratkan saja, artikel kita ini seperti kebun bunga. Tentu bakal lebih semarak kalau kebun bunga ini kita tanami dengan berbagai jenis dan warna bunga yang berbeda-beda bukan?

Sama juga lah kalau kita mendengarkan orkestra, suara berbagai alat musik yang berbeda-beda tetapi harmonis membuat pendengarnya ikut terbuai bukan?

Seperti itu juga analogi diksi dalam artikel. Itu sebabnya banyak pakar menulis mengatakan perbanyak membaca sebelum mulai menulis. Tujuannya supaya pembendaharaan kata dan koleksi kata-kata kita lebih banyak dan kaya. Jadi saat menulis artikel kita juga bisa lebih mudah bermain kata-kata.

6. Logika bercerita

buat online sebelum menulis artikel

buat online sebelum menulis artikel via https://www.pexels.com

Sekali dua kali, kita mungkin pernah terdampar di artikel yang tidak runut dalam bercerita. Sebentar ngomongin A, lalu tanpa peringatan apa-apa sudah langsung beralih ke cerita B. Kan bikin emosi yang baca ya?!

Untuk mengatasi ini, ada baiknya kita membuat outline dulu sebelum mulai menulis artikel. Bila perlu, baca ulang outline yang sudah kamu tulis untuk memastikan bahwa ceritanya runut. Kalaupun mau membuat peralihan dari cerita A ke cerita B, usahakan membuat transisi yang halus.

Transisi antar cerita  ini berfungsi sebagai jembatan antar dua cerita, bentuknya bisa berupa paragraf deskripsi atau kalimat tanya. Intinya, pada bagian transisi ini, pembaca kamu dibuat paham apa kaitan atau benang merah antara cerita A dengan cerita B.

Nah, itu tips super simpel yang bisa kamu terapkan saat menulis artikel supaya bisa lebih menyenangkan buat dibaca. Yang penting, jangan bosan untuk terus berlatih menulis. Para jurnalis senior yang tulisannya bisa dapat penghargaan dimana-mana itu juga melalaui proses belajar menulis yang panjang kok.

Mulai dengan ikut berpartisipasi di campaign #SemuaBisaJadiPenulis karena #CeritamuSelaluLayakDibagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya