Dada ini terasa sesak, mencoba tegar di atas berbagai kehidupan yang seolah-olah memaksakan aku untuk menangis, aku bagai dihantam ombak yang begitu deras mencoba untuk tetap tegar di atas segala kepiluan hati. Banyak cerita yang mesti aku urai di sini mengisahkan segala kesedihaan hati yang mendalam dan mencoba untuk ikhlas menjalani semuanya.

Hujan, angin, dan badai aku coba tepis semuanya, berharap disambut dengan pelangi yang berwarna-warni yang biasanya menghibur seluruh hatiku yang tergores luka. Aku seakan hanyut terbawa arus air ketika bibir ini sudah tak mampu menjelaskan bahwa dunia begitu tidak bersahabat denganku. Akan aku bawa ke mana diri ini.

Aku ingin terbang tinggi seperti burung yang berkicau riang agar terlepas segala bebanku. Seraya menahan semua sesak ini aku berfikir bahwa masih banyak yang membutuhkan.

Aku mungkin bukan di sini, tetapi mereka yang sangat peduli padaku di sana, membuatku harus bisa mengukir senyuman mereka, senyuman yang sudah aku tunggu kedatangannya. Terkadang airmataku seperti derasnya hujan. Tidak dapat aku menahan semuanya ketika mengingat mereka di sana yang senantiasa bersujud pada sang Ilahi. Ingin suatu saat nanti aku pulang membawa kebahagian yang abadi. Riang hati ini ketika mengingat mereka yang selalu berarti di hidup dan jiwaku.

Ada kalanya aku harus kuat menahan semua rintangan yang datang menatap langit yang indah, menatap alam yang permai. Itulah caraku untuk menepis semuanya. Aku bangkit dari keterpurukan ini dan aku sadar bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahanku yang seharusnya tidak aku pikirkan tentang semua hal yang ada di dalamnya.

Ingin aku bangun dan bangun saat diri ini terjatuh dan yang lebih parahnya lagi saat tidak ada yang membantu membangunkan aku, dan itu yang sangat perih tapi aku yakin raga ini akan selalu kuat karena kekuatan dari sang Ilahi yang membawa aku sampai di sini. Aku tegar karena keinginan yang kuat untuk berdiri sendiri walaupun aku sebenarnya tidak perlu untuk bicara banyak dan membuat orang lain mengerti itu sangat sulit dan bagai menggapai sebuah bintang di langit yang hitam.

Waktu yang selalu mengiringi langkahku di sini, mereka yang tau bagaimana raga dan hati ini sudah tak lagi mampu untuk bergerak, untuk berbicara, untuk menjelaskan semuanya.

Esok yang cemerlang adalah impianku. Mencoba mengukir kenangan di sana di saat aku telah kuat menahan segala keresahan hatiku. Aku ingin pergi ke angkasa kemudian aku teriak kepada semuanya bahwa aku bisa, bisa, dan bisa. Bahwa aku mampu untuk mewujudkan semuanya dan aku tegar di saat yang lain jatuh.

Kehendak hati yang begitu tulus untuk mencintai semua orang yang ada di sekelilingku. Tapi itu sesuatu indah bagiku apalagi mereka bisa tersenyum padaku karena kebahagiaan yang aku ukir di wajah-wajah indah mereka . Kuat, tegar, mampu itulah motivasi hatiku saat aku mulai rapuh. Tetapi tidak ada kata rapuh yang tersirat di jiwa hanya ada mungkin tangisan saat mereka tidak mengerti bahwa hati ini sudah tak sanggup lagi untuk tersenyum dan menciptakan kebahagiaan yang mungkin berguna untuk mereka. 

Terkadang aku merasa iri ketika mereka mampu menepis segala kerinduan mereka kepada sanak keluarga, tapi aku tidak bisa, apalagi aku harus menahan semuanya semua terasa sesak bagaikan sebuah mata pisau yang hampir menusuk jantungku. Tak terkira kerinduan ini kepada mereka karena mungkin hati ini akan rapuh jika tidak ada pelukan mereka, tidak ada canda tawa mereka, tidak ada senyuman mereka.

Tapi aku berusaha bangkit saat mereka tidak ada di sisiku. Aku sadar aku tidak selalu bersama mereka. Suatu saat setelah aku berhasil mengukir kebahagiaan mereka, aku mungkin pergi mencari kebahagiaan yang lain yang tumbuh dari hatiku yaitu sebuah anugerah dari sang Ilahi.

Ada saatnya tiba ketika semuanya telah usai. Aku akan mencoba menjadi seorang wanita yang akan berjuang menghadapi dunia yang fana yang mengajarkan aku arti hidup yang sesungguhnya. Kicauan burung riang gembira, pelangi yang bermacam warnanya, alam yang begitu elok, akan senantiasa hadir mengiringi langkahku. Langkah yang telah dilalui dengan airmata, kini berubah menjadi sebuah mutiara indah yang begitu berharga untuk dirimu dan semua orang untuk saat ini esok dan hari yang akan datang.

Bunda aku akan membahagiakanmu dengan melihatku mengenakan togak wisuda di kepalaku. Berikut yang aku lakukan untuk ayah dan bunda ketika aku diseberang lautan.

 

1. Mengetik tentang perasaan kepada ayah dan bunda

Perasaan rindu seorang anak yang duduk di bangku kuliah bersama Ibu dan Ayahnya yang jauh di kota perbatasan Kalimantan.

2. Harapan semua ini cepat berakhir

Aku jauh Bunda. Do'akan aku cepat wisuda agar bisa bersama lagi.

3. Harapan yang tertulis

Harapan yang ingin diwujudkan

4. Bunda ini harapanku dari usia kecil hingga 20 tahun ini.

Sebuah perjuangan yang mulia, harapan ini untukmu bunda

5. Perjuangan ini bagai hantaman ombak

Perjuangan yang tidak mengenal putus asa.

Advertisement