9 Kebiasaan Sosial Yang Harus Berhenti Kamu Pelihara, Sebelum Orang Malas Berinteraksi Denganmu

Setiap harinya kita semua pasti harus berinteraksi satu sama lain. Baik dalam pekerjaanmu atau sekedar jalan-jalan sore di kompleks, kamu seringkali tidak bisa menghindari percakapan kecil dengan rekan kerja atau satpam kompleks. Dari pengalaman hidup manusia yang tidak bisa lepas dari interaksi sosial tersebut, kamu pasti menyadari berbagai perilaku orang ketika sedang bercakap-cakap. Ada yang kamu sukai, tapi pasti ada juga yang membuatmu malas bertatap muka dengan mereka.

Memang lebih gampang menemukan kebiasaan buruk orang lain, tanpa menyadari kalau kamu sendiri juga sering melakukan hal yang sama. Kebiasaan-kebiasaan buruk itu juga pasti akan membuat orang lain malas untuk berinteraksi denganmu. Maka dari itu, kenalilah dulu kebiasaan burukmu di bawah ini, lalu sadarilah bahwa tidak ada waktu yang lebih baik untuk berhenti melakukan kebiasaan tersebut selain saat ini juga.

1. Stop Mencari Perhatian Dengan Mengeluh Sepanjang Waktu

pCateBlanchett40

Curhatannya jangan yang cuma bikin cemberut dong, bagi-bagi cerita yang bikin ketawa juga via 3.bp.blogspot.com

Bisa dapat mencurahkan segala kegundahan hati kepada orang-orang terkasih di penghujung hari, memang merupakan salah satu kenikmatan hidup yang tidak terkira. Tapi jangan terbiasa hanya mengisi pembicaraan kalian dengan keluh kesah dan ketidakpuasanmu dalam hidup, bisa-bisa mereka merasa hanya menjadi tempat pembuangan segala masalahmu. Ingatlah untuk juga berbagi kabar baik dan segala kemajuan yang telah kamu capai hari itu. Tentu saja untuk  juga mendengarkan keluh kesah mereka sebagaimana mereka mau mendengarkanmu.

Dari waktu ke waktu, semua orang memang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan berbagi kesulitan hidupnya. Tapi kalau terus menerus mencoba menarik perhatian sahabatmu hanya dengan kepelikan hidupmu, kamu justru akan membuat ‘pendengar setiamu’ menganggap bahwa bantuan mereka selama ini tidak pernah berguna. Karena hidupmu masih saja dipenuhi masalah. Dengan mengeluh sepanjang waktu, kamu juga hanya akan merasa lebih pesimis dalam menghadapi hidup.

Ingatlah bahwa beban memang akan jauh lebih ringan jika dipikul bersama tapi kebahagiaan juga akan berlipat-lipat ganda jika kamu membagi-baginya. Jadi, jangan hanya membagi bebanmu terus-menerus, bagi juga kebahagiaanmu agar berlipat ganda.

2. Berpartisipasilah Dalam Percakapan Yang Sesungguhnya. Jangan Terlalu Sibuk Dengan Pikiranmu Sendiri

17xi4vk8mf01ojpg

halo..?? ada orang gak ya di situ? via i.kinja-img.com

Apakah kamu pernah berada dalam sebuah percakapan dengan seseorang tapi sebenarnya kamu juga sibuk memiliki percakapan dengan dirimu sediri di dalam kepalamu?

Gebetan yang ingin kamu buat terpesona: Eh, kalau kemarin kamu nonton ……*lama-lama tidak terdengar

Kamu: (bilang apa ya supaya kedengaran keren…)
dalam pikiran  : (apa bilang aja udah nonton Breaking Bad,,tapi belum selesai nontonnya)
masih dalam pikiran: (tapi lebih keren bilang Orange is The New Black gak sih..kan lebih baru) 
* masih jauh dalam pikiran
Gebetan yang terus ngomong karena dikira kamu ndengerin : …..iya gak sih? *cuma terakhirnya doang yang kedengaran
Kamu : ……hah apa-apa? *panik karena kesibukan mikir sendiri

Meskipun memang baik untuk mempertimbangkan segala hal yang akan kamu ucapkan, tapi jangan sampai kamu justru kehilangan fokus dalam pembicaraan yang sebenarnya. Lawan bicaramu juga pasti tersinggung dan merasa tidak dihargai jika kamu tidak benar-benar hadir dalam pembicaraan kalian. Karena sesungguhnya ketika kamu sibuk mengatur jawaban-jawaban dalam pikiranmu, kamu hanya akan mengikuti setengah dari pembicaraan yang sesungguhnya.

3. Saat Bicara, Selalu Tatap Mata Lawan Bicaramu. Mereka Juga Layak Mendapatkan Perhatianmu Secara Penuh

Woman ignoring a man

Iya kok aku denger, aku denger via i2.mirror.co.uk

Meskipun kamu memiliki kemampuan multitasking yang bisa dibanggakan, tapi berbicara dengan seseorang tidak seharusnya masuk dalam daftar hal-hal yang bisa kamu sambi. Pada hakikatnya, pembicaran selalu berlangsung paling tidak secara dua arah. Kalau kamu tidak berbicara, ya berarti giliranmu untuk mendengarkan. Jadi kamu tidak memiliki waktu di antara untuk melakukan hal lain.

Jika bersikeras melakukan hal lain, kamu pasti tidak akan bisa mengikuti pembicaraan secara optimal. Mata adalah instrumen percakapan yang tidak kalah pentingnya dengan mulutmu. Jika tidak bisa melihat ekspresimu, bisa-bisa lawan bicaramu menyangka kamu marah karena nada suaramu naik ketika terburu-buru menyelesaikan tulisanmu di laptop. Lagipula jika terlalu sibuk melakukan hal lain, kamu juga pasti akan kesulitan mendengar perkataan lawan bicaramu.

Sesabar apapun lawan bicaramu, pasti dia akan lebih memilih berbincang denganmu ketika kamu benar-benar mendengarkannya. Jadi jika kamu memang ingin berbicara dengan seseorang, hentikanlah sebentar apapun yang sedang kamu kerjakan. Jika memang tidak memiliki waktu, kamu harus jujur dan menjadwalkan pembicaraan di lain waktu.

4. Kalau Kamu Bisa Fokus Pada Teman Kuliah Atau Bos Di Kantor, Kenapa Justru Mengacuhkan Orang-Orang Terdekatmu?

o-CELL-PHONE-IGNORING-facebook

Walau sibuk urusan kantor, penting juga lho punya pembicaraan berkualitas dengan pasangan via i.huffpost.com

Jika sedang bercakap-cakap dengan senior atau bosmu di kantor, kamu pasti akan menaruh perhatian 100% kepada apa yang mereka katakan. Takut-takut kalau salah dengar nanti disemprot. Begitu juga dengan orang yang baru kamu kenal. Kamu akan mencoba sebaik mungkin agar mereka tidak mendapatkan kesan yang salah atau buruk tentangmu. Tapi bagaimana percakapanmu dengan orang-orang terdekat yang membuatmu paling nyaman?

Tanpa disadari justru karena kenyamanan tersebut, kamu jadi malas mendengarkan omelan ibumu di pagi hari atau ‘kicauan’ adikmu di malam hari. Mungkin kemalasan tersebut juga berasal dari pemikiran bahwa kamu sudah mengenal mereka dengan sangat baik. Jadi tidak mendengarkan secara baik pun, kamu sudah tahu maksud omelan atau kicauan mereka.

Ini adalah kebiasaan yang sangat buruk untuk hubunganmu dengan orang-orang paling penting dalam kehidupanmu. Jika kamu memang menyayangi mereka, berikanlah mereka bentuk kasih sayang tertinggi untuk selalu didengarkan dan dimengerti. Ingatlah, walaupun bos, senior, atau teman barumu memang memiliki kebutuhan untuk didengarkan secara seksama, orang-orang terkasihmu-lah yang akan terus ada untuk mendengarkanmu selamanya.

5. Mengharapkan Pujian Yang Tiada Henti

portrait-blonde-girl-look-hd-wallpaper

Ah.. masa sih aku secantik itu? via freehdwalls.net

Bedakanlah sikap rendah hati yang sesungguhnya dengan sengaja merendah karena ingin mendengarkan pujian lebih lanjut.

A : wah kamu cantik banget!! (setelah melihat penampilan beda B yang jelas-jelas dari salon)

B : masa sih..? hari ini aku mandi aja gak sempat (*mode merendah tapi bohong)

A : wah…..( tahu sih sebenarnya diharapkan ngomong apa,tapi..)

B : …….(* matanya masih berharap)

A : kamu gak mandi aja cantik (akhirnya nyerah)

Perkataan yang dari luar terdengar merendah tapi sebenarnya berisi harapan untuk pujian lanjutan itu justru akan membuat kamu jadi tidak menarik. Pujian awal yang secara tulus diberikan oleh orang tersebut juga akan tercemari oleh kebiasaan buruk itu. Setelah mengetahui kebiasaan tersebut, orang nantinya akan malas untuk memujimu kembali walaupun sebenarnya kamu layak mendapatkan pujian itu.

6. Atau Membuat Orang Lain Terus Mengulang Pujian Yang Mereka Berikan Kepadamu

c36acaa2dd2d616507974f32e28581af

Udah dibisikin berapa kali juga masih gak percaya kalau dia cantik via media-cache-ak0.pinimg.com

Langsung menyetujui pujian yang diberikan kepadamu dengan ucapan seperti ”terimakasih” ,terkadang merupakan bentuk kesopanan terbaik yang bisa kamu tunjukan. Daripada malu-malu menyanggah atau merendah, kamu  justru secara tidak langsung memaksa orang tersebut untuk terus mengulang pujiannya.

A : bagus banget sih tulisan tanganmu 

B : ah masa sih? 

A : beneran deh, belum pernah aku lihat tulisan yang kayak gini

B : gak segitunya kali, ada-ada aja

A : beneran kali bagus..

B : masa iya sih?

A : (tinggal ngangguk-ngangguk doang)

Kamu seringkali tidak sadar bahwa orang yang memujimu juga justru akan lebih menghargai ucapan sesederhana ‘terimakasih’. Itu artinya kamu telah menghargai perhatian yang dia berikan dengan menyetujui sudut pandangnya terhadap kamu. Jangan memaksa, baik sengaja atau tidak, untuk terus mengulangi pujian yang sama kepadamu.

7. Memotong Pembicaraan Orang Lain

business-conversation

Pembicaraan jadi gak enak kalau kamu tiba-tiba nyela via www.businessnewsdaily.com

Secara tiba-tiba menyela pembicaraan orang lain yang belum selesai, merupakan tanda bahwa kamu lebih mendahulukan pemikiranmu di atas pendapat lawan bicaramu. Padahal, prinsip utama dari percakapan adalah dialog bukan ceramah. Jadi kamu harus memberikan lawan bicaramu kesempatan yang sama seperti halnya kamu ingin didengarkan.

Biasanya, kamu akan memotong pembicaraan karena teringat poin penting yang kamu rasa harus disampaikan segera. Tapi ingatlah bahwa sebesar keinginanmu berbagai ide baru tersebut, lawan bicaramu juga sedang menyampaikan hal yang penting baginya. Jadi jika kamu tidak bisa membuat catatan mental untuk menyampaikan ide tersebut nanti setelah dia selesai berbicara, buat saja catatan beneran di atas kertas.

8. Merusak Motivasi Dan Semangat Temanmu Mengejar Mimpinya Dengan Perilakumu Yang Tidak Mendukung

girl_with_angel_wings-wallpaper-1366x768

Bisa-bisa temanmu patah arang gara-gara kamu gak memberikan dukunganmu via wallpaperswide.com

Sebelum kamu memberi nasihat atau pendapat kepada sahabatmu, kamu harus benar-benar mempertimbangkan pentingnya dukunganmu dalam masalah tersebut. Walaupun kamu tidak setuju dengan rencana atau prinsipnya, ungkapkanlah dengan hati-hati. Berilah dia kritik yang membangun bukan menghancurkan. Apalagi jika hal ini sangat penting bagi sahabatmu.

Ingatlah bahwa akhirnya ini menyangkut kehidupan dan kebahagiaannya, bukan kehidupanmu. Tidak ada gunanya kamu terus bersikeras mengutarakan keberatanmu yang hanya akan terus menciutkan semangat dan kepercayaan dirinya.  Justru setelah mengutarakan pendapatmu dengan jujur, kamu sepatutnya mempercayakan segala keputusan kepada dia dan berharap untuk yang terbaik baginya.

9. Mencoba Untuk Menyenangkan Semua Orang

Annie_Leibovitz_Photoshoot_2009_for_Vogue (1)

cara pakaiannya aja beda-beda, apalagi kepribadiannya via s1d6.turboimagehost.com

Jangan pernah mencoba menyenangkan setiap orang yang kamu temui, jika kamu tidak ingin terlihat palsu dan tidak tulus. Karena pada kenyataanya, tidak ada satu orang pun yang bisa memuaskan keinginan tiap orang yang berbeda-beda. Jadi, kamu hanya akan kecapaian mengikuti batas kesopanan atau topik pembahasan yang disukai orang tertentu dan ternyata tidak disukai orang lain. Yang jauh lebih berbahaya adalah kecenderungan bahwa kamu akan kehilangan jati dirimu yang sebenarnya ketika sibuk memuaskan hati orang lain.

Cobalah jujur dan menjadi dirimu yang seutuhnya dalam setiap pembicaraan. Memang tidak semua orang akan menyukaimu karena kepribadian aslimu tidak mungkin akan sesuai dengan semua orang. Tapi itu lebih baik dibandingkan harus memalsukan diri di hadapan semua orang. Lagipula asalkan kamu tidak menyinggung atau menyakiti orang lain, kamu tidak berhutang apapun kepada siapapun.

Nah, coba bercermin dan amati dirimu secara pelan-pelan. Bisa jadi secara tidak sadar kamu sering melakukan hal-hal di atas dalam percakapan sehari-hari. Kebiasaan itu memang susah untuk diubah, tapi pengakuan adalah cara paling baik untuk mengawali perubahan itu. Baru setelah bisa mengakui dan menerima, kamu akan bisa mencoba berhenti melakukannya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day