Mengubah Patah Hati Jadi Karya yang Bermakna, Ternyata Bisa Jadi Buku yang Diterbitkan

Buku patah hati

Banyak orang yang pernah mengalami patah hati, mungkin kamu termasuk salah satunya. Bagaimana rasanya saat itu? Barangkali sedih dan sakit hati bercampur jadi satu. Wajar kalau kamu menghabiskan banyak waktu untuk menangis. Hari demi hari juga berlalu dengan hampa. Selama patah hati, seolah rasanya sulit sekali untuk bangkit lagi.

Advertisement

Namun tenang saja, dunia belum berakhir. Kamu hanya butuh penyaluran emosi yang sehat selama patah hati. Salah satunya adalah menuangkan perasaan menjadi tulisan. Bahkan bisa diolah menjadi buku yang diterbitkan lo! Bagaimana caranya? Untuk menjawab pertanyaan itu, Hipwee mengadakan sesi Instagram live bersama editor Penerbit Elexmedia, Farah. Yuk simak selengkapnya obrolan Hipwee berikut ini.

Patah hati memang sangat menyakitkan. Namun daripada tenggelam dalam kesedihan, kita bisa mengolahnya jadi tulisan

Bagi-bagi tips mengubah patah hati jadi karya via www.hipwee.com

Emosi seolah terkuras saat patah hati. Rasa sedih, menyesal, marah, dan kecewa seolah bercampur menjadi satu. Hati terasa kosong sementara pikiran terus bekerja. Supaya lega, tuangkan saja pikiranmu dalam tulisan. Tulislah apa pun yang terlintas dalam kepala. Mulai dari perasaanmu, kenangan manis yang belum bisa dilupakan, sampai ketakutan kalau-kalau nggak bisa menemukan jodoh lagi di masa depan.

Proses menulis bisa menjadi self healing atau penyembuhan yang baik. Dengan mengolah pikiran abstrak menjadi tulisan yang nyata, pelan-pelan kita bisa mengurai rasa sakit hati. Yang dibutuhkan hanya laptop atau komputer untuk menulis, bisa juga menggunakan buku dan pensil. Cara ini bisa menjadi distraksi yang bagus untuk kita. Apalagi di tengah pandemi, kita memang belum bisa keluar rumah untuk curhat pada teman atau sekadar jalan-jalan untuk melupakan rasa sakit hati. Jadi lebih baik menulislah~

Advertisement

Tulisan yang tercipta saat patah hati biasanya penuh luapan emosi. Jadi kamu perlu memeriksanya lagi agar lebih baik

Penting untuk ‘memoles’ emosimu menjadi karya via www.hipwee.com

Awalnya kamu bisa menulis jurnal harian. Lalu bisa dikembangkan jadi puisi, kumpulan cerpen, bahkan novel yang menarik. Bagaimana caranya? Kamu bisa menulis fiksi berdasarkan pengalaman patah hati yang pernah dirasakan. Dari ide itulah kamu bisa mengembangkan tokoh, latar, dan alur ceritanya. Mungkin memang terdengar agak rumit. Tetapi, awalnya menulislah dulu tanpa berpikir macam-macam. Yang penting tulisanmu selesai.

Setelah itu, kamu bisa mengambil jeda sejenak. Tinggalkan tulisanmu selama beberapa jam atau beberapa hari. Kemudian bacalah lagi dengan pikiran yang sudah lebih jernih. Dengan begitu, kamu bisa menemukan kekurangan dalam tulisanmu. Mungkin ada yang kurang logis, kurang lengkap, atau kurang lainnya. Jadi kamu bisa memperbaikinya agar lebih enak dibaca. Tetapi nggak perlu sampai sepenuhnya sempurna karena proses menulis malah bisa terhambat. Yang penting selesaikan tulisan menjadi buku, lalu kamu bisa beranjak ke langkah selanjutnya, yaitu menghubungi penerbit.

Bagi penulis pemula, nggak perlu ragu untuk mengirim naskah buku ke penerbit. Prosesnya nggak sesulit yang dibayangkan kok

Advertisement

Cobain deh, prosesnya tidak sesulit yang dibayangkan banyak orang via www.hipwee.com

Wajar kalau kamu takut mengirim naskah yang sudah jadi ke penerbit. Sebab ada kemungkinan naskahmu bakal ditolak. Tetapi, bukankah nggak ada salahnya untuk mencoba? Ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, datang langsung ke penerbit dengan membawa naskah yang sudah dicetak. Lalu yang kedua, kirim saja naskah itu ke e-mail penerbit. Jangan lupa untuk menulis pengantar yang sopan pada mereka. Kemudian kamu hanya tinggal menunggu balasan.

Kalau lancar, naskahmu akan diterbitkan. Pasti menyenangkan sekali rasanya! Tetapi seandainya ditolak, nggak apa-apa. Kamu bisa memperbaikinya lalu mengirimnya lagi ke penerbit. Jangan menyerah ya. Buktikan kalau patah hati yang kamu rasakan bisa diolah menjadi karya yang hebat.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE