Menjadi ibu adalah salah satu pekerjaan paling berat di dunia. Tanggung jawabmu bukan hanya soal uang dan benda-benda, namun hidup seorang manusia. Dari mengandung, melahirkan, hingga memperkenalkan berbagai hal di dunia kepada anak; terpaksa izin tak masuk kantor ketika dia sakit, membelanya dari bully di sekolah, memeluknya saat ia pertama kali patah hati — hidup ibu dan anaknya berkelindan di tiap jengkal.

Dengan kehadirannya di tiap hari yang kita punya, pantaskah kita menunggu Hari Ibu setahun sekali untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang membuatnya bahagia?

Advertisement

Jangan menunggu untuk menyampaikan ucapan-ucapan ini kepada ibumu. Biarkan beliau tahu, pengorbanannya untukmu selama lebih dari 20 tahun terakhir ini tak sia-sia!

1. “Maaf aku sering tak sabar mengajarkan Mama memakai laptop. Padahal, Mama tak pernah gusar saat mengajariku berbicara atau membaca.”

mama selalu sabar ngajarin berbagai hal

mama selalu sabar ngajarin berbagai hal via tiffytiff451.tumblr.com

Mama, aku minta maaf kalau aku sering tidak sabaran. Ketika Mama minta dibimbing untuk menggunakan laptop atau ponsel baru, aku pasti akan menggerutu. “Duuuh, begitu aja kok nggak bisa sih?” Semua hal yang baru bagimu adalah hal yang terlihat mudah dan sederhana bagiku.

Aku lupa bahwa dulu Mamalah yang mengajarkanku banyak hal baru — hal-hal yang bagi Mama begitu mudah dan sederhana. Mamalah yang mengajarkan aku bicara, berjalan, membaca, hingga meresapi materi dari mata pelajaran paling sulit di sekolahku dulu.

Advertisement

Aku tak ingat Mama marah ketika aku salah mengeja huruf dan angka. Aku tak ingat Mama mengeluh kenapa aku tak bisa-bisa, ketika konsep matematika yang kumengerti tak juga melebihi “1 + 2”. Ah, apa hakku untuk marah-marah ketika Mama kesulitan berinteraksi dengan teknologi? Bukankah dengan apa yang telah Mama ajarkan padaku selama ini, seharusnya aku malu ketika gagal bersabar saat mengajarmu?

2. “Mama benar, aku sering malas mengerjakan pekerjaan rumah. Tak ada pembelaan diri di sini — hanya permintaan maaf yang murni.”

mama gak pernah males mengganti popokku

mama gak pernah malas mengganti popokku via www.brebeauty.com

Ketika sedang berada di rumah, aku pasti merasa malas dan ogah-ogahan ketika Mama meminta sedikit bantuan. Bahkan, aku sering pura-pura tidak mendengar atau menyibukkan diri dengan tugas kuliah, padahal sebenarnya aku hanya malas dan sedang asyik dengan gadget-ku saja. Kalaupun aku akhirnya membantu, tak jarang Mama akan mendengarkan gerutu dan keluhanku.

Aku tak pernah berpikir bahwa pekerjaan yang dalam 15 menit sudah membuatku capek dan pegal-pegal ini adalah pekerjaan yang selalu Mama jabani, berjam-jam setiap hari. Aku tak pernah berpikir bahwa Mama sudah melakukan ini bertahun-tahun, dalam diam.

Mama bukan malaikat, aku tahu. Mama pun pasti pernah merasa kesal, muak, dan bosan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah ini. Mama ingin punya seseorang yang membantu — seseorang untuk berbagi. Maaf ya Ma, aku belum bisa menjadi orang yang bisa Mama andalkan untuk membantu selama ini.

3. “Mama tidak harus menjadi ibu. Tapi, Mama memilih memiliki aku daripada melakukan hal-hal lain yang bisa membuat Mama bahagia. Terima kasih, Mama.”

mama selalu memenuhi permintaanku

mama selalu memenuhi permintaanku via www.aphotoeditor.com

Aku selalu ingin menanyakan hal ini pada Mama. Namun, selalu urung kutanyakan karena aku tak berani mendengar jawabannya:

Jika Mama bisa memilih lagi untuk punya anak atau tidak, apakah Mama tetap memilih untuk memiliki anak?

Rasanya jahat sekali kalau seorang Ibu bilang “Tidak. Seandainya saya bisa memilih sekali lagi, saya tidak akan mau menjadi Ibu.” Namun seharusnya kita bisa memahami perasaan seperti itu. Bukankah menjadi ibu adalah pekerjaan yang berat — yang mengharuskan seorang wanita mengorbankan banyak hal dalam hidupnya, termasuk ambisi-ambisi dan seringkali pekerjaannya?

Aku ingin menanyakan hal itu, karena tahu betapa melelahkan dan mahalnya membiayai kehidupanku. Aku punya banyak permintaan, banyak kebutuhan dan lebih banyak lagi keinginan. Bahkan di usiaku yang sudah 20-an ini aku belum bisa membiayai sepenuhnya hidupku. Ingat ketika aku harus minta uang lagi karena laptopku harus direparasi? Ingat ketika aku bertanya apa Mama masih bisa membantuku membayar uang kost tahun ini?

Kadang, aku berkhayal apa saja yang bisa Mama lakukan seandainya Mama tak harus membiayai dan merawatku. Mama bisa pergi keliling dunia, Mama tak perlu menolak promosi dari kantor dengan alasan tak bisa berpisah dari keluarga, Mama bisa belanja dan melakukan hobi Mama sepuas-puasnya. Mama bisa bahagia.

Seorang wanita tak punya kewajiban untuk punya anak. Seorang wanita bisa lebih memilih karier atau hobinya, dan itu sah-sah saja — tak ada yang berhak mengatur-atur pilihan hidupnya. Namun di antara semua pilihan yang Mama punya, di antara semua kesempatan yang jelas bisa membuat Mama bahagia… Mama memilih memiliki aku. Terima kasih, Ma, karena telah memilihku. Maafkan aku karena terlalu sering lupa: aku bisa ada di dunia ini karena pilihan Mama.

4. “Aku sedang menikmati hidupku saat ini. Namun kadang aku begitu sibuk, sampai lupa bahwa Mama ingin dikabari sekali-sekali.”

kamu selalu sibuk dan tidak menyempatkan diri

kamu selalu sibuk dan tidak menyempatkan diri via splatter.com

Mama, aku minta maaf jika banyak SMS darimu yang terabaikan dan panggilan telepon yang teranggurkan. Di usiaku yang sekarang ini, aku dihujani berbagai kegiatan yang sering membuat energiku habis di ujung hari. Akhirnya aku lebih memilih untuk tidur daripada membalas pesan darimu.

Padahal bukannya Mama tak punya kesibukan juga. Mama juga bekerja, Mama juga punya teman dan dunia sendiri. Mama bukan wanita yang akan seharian menunggu Papa pulang dari kantor atau anak-anaknya pulang sekolah, seperti ibu rumah tangga yang bosan di tahun ’50-an. Toh Mama juga sempat menelepon atau mengetik pesan yang menanyakan kabarku.

Ah, berapa detik sih yang kuperlukan untuk membalas pesan Mama? Apa benar aku begitu sibuknya, atau aku hanya malas dan menganggap remeh Mama saja?

5. “Aku ingat saat Mama marah karena aku pacaran. Pendapat kita akan selalu berbeda dalam beberapa hal, dan aku sedang belajar untuk menerimanya.”

Aku sedang belajar menerima Mama

Aku sedang belajar menerima Mama via www.fotografindo.com

Beberapa kali aku dikagetkan dengan pandangan keras Mama akan beberapa hal. Jangan pacaran, buang-buang waktu aja! Jangan kuliah Sastra, kamu nanti mau jadi apa? Jangan kuliah jauh-jauh, nanti Mama di rumah sama siapa?

Tak hanya itu. Ingat saat kita bertengkar gara-gara punya jagoan yang berbeda dalam Pilpres? Ingat waktu kita bertengkar karena Mama mengatur siapa yang “layak” jadi temanku dan siapa yang tidak?

Beberapa pandangan Mama tak akan pernah aku terima. Beberapa pandangan Mama tak akan pernah aku suka. Namun, hubungan kita tetap lebih erat dari berbagai perbedaan yang selama ini ngotot kita pertahankan.

Aku tetap menyayangi Mama. Segala perbedaan pandangan di antara kita? Aku sedang belajar untuk menerima mereka.

6. “Jujur, ada beberapa kalimat Mama yang sampai saat ini membuatku sakit hati. Aku sedang berusaha memaafkan dan memahami.”

Ada

Aku sedang belajar untuk memahami via data.whicdn.com

“Kok kamu kurus banget sih? Coba gendutin badannya dikit, dong. Biar ada cowok yang suka.”

“Haduh, IPK-mu kok cuma segini. Contoh Adek, tuh, kuliah Teknik, tapi IPK-nya nggak jongkok kayak punya kamu.”

Mungkin bagi Mama perkataan-perkataan di atas biasa saja. Mungkin bagi Mama malah kalimat itu bagus sebagai cambuk untuk menyemangatiku. Namun aku juga manusia yang punya perasaan, dan karena aku punya perasaan, aku bisa sakit hati. Kalimat-kalimat itu membuatku sakit hati.

Kadang aku berharap Mama bisa memelukku saja daripada mengeluarkan kata-kata yang membuatku mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Kadang aku berharap Mama bisa lebih percaya, bisa lebih menghargai bahwa aku berusaha.

Kata orang, memiliki anak adalah jalan terbaik untuk dikecewakan dan mengecewakan. Mama dikecewakan olehku yang punya banyak kekurangan. Aku dikecewakan oleh Mama yang melontarkan beberapa kalimat mencengangkan. Namun memiliki anak juga jalan terbaik untuk memahami bahwa tak ada manusia yang sempurna.

Tak ada dari kita yang bebas dari kekurangan, termasuk aku, termasuk Mama. Aku akan selalu berusaha menerima kenyataan ini. Maukah Mama berusaha bersamaku?

7. “Aku tahu Mama mencemaskan masa depanku. Tapi aku bisa lelah jika terus ditanya kapan menikah.”

aku pingin seperti mama

ketika aku siap, tak akan ada yang menghalangiku via junebugweddings.com

Di usiaku yang 20-an ini, ada begitu banyak yang sudah kulalui. Aku sudah merasakan patah hati pertamaku, melalui pahit-manisnya berjuang menyelesaikan skripsi, hingga akhirnya meraih gelar sarjana. Kini aku sudah bekerja. Aku pun sudah punya dia yang kukira bisa menjadi partner menyenangkan untuk menghabiskan hari tua. Aku tahu, dalam pikiran Mama, apalagi yang kutunggu? Bukankah sebaiknya aku segera menikah saja?

Tapi Ma, aku bisa lelah jika terus Mama tanya kapan menikah. Percayalah, aku sudah mempertimbangkan masak-masak — dan aku tahu sekarang belum saatnya aku mengikat janji. Saatnya akan tiba nanti, namun tidak hari ini. Dan percayalah, Ma, aku baik-baik saja dengan keputusanku ini. Mama tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Bukankah masih banyak hal lain di dunia ini yang bisa dikhawatirkan — selain kapan di jariku cincin kawin akan melingkar?

8. “Aku pernah menyaksikan Mama tertawa. Pernah pula kulihat Mama terurai air mata. Terima kasih telah menunjukkan bahwa Mama juga manusia.”

Aku bangga.

Aku bangga. via www.japantoday.com

Ketika aku kecil, Mama adalah sosok yang sempurna. Mama bisa menjadi koki yang hebat, sopir pribadi, tukang jahit yang mumpuni, pengawal pribadi anak-anaknya, hingga wanita karier yang cerdas. Mama adalah segalanya.

Setelah aku tumbuh, barulah aku melihat “sisi-sisi manusiawi” dari Mama. Aku tak hanya pernah menyaksikan Mama tertawa. Aku juga pernah melihat Mama menangis karena kecewa. Aku pernah melihat Mama gusar, marah, mengeluh, menggerutu akan sesuatu.  Ingatkah Mama waktu Mama membanting rokok Adik dan membuangnya ke tempat sampah saat pertama kali tahu bahwa Adik merokok? Lalu Mama masuk kamar dan aku bisa mendengar Mama menangis. Pagi harinya, aku melihat lingkaran hitam dan bengkak di mata Mama.

Kini aku tahu Mama bukan sosok yang sempurna. Kini aku mengerti bahwa Mama juga manusia. Dan tahukah Mama? Aku bangga memiliki sosok Mama yang tak sempurna. Aku bangga Mama juga melakukan kesalahan, aku bangga Mama juga merasa punya banyak kekurangan. Karena justru dalam sisi-sisi Mama yang paling “manusia” tersebut… aku merasakan kehangatan.

10. “Lewat Mama, aku mengerti: kita tak harus jadi sempurna untuk bisa dicintai.”

mama selalu ada buatku

mama tak harus jadi sempurna via youngfreespirit.tumblr.com

Ma, apapun yang pernah terjadi di antara kita, aku menghargainya. Siapapun Mama sebelum dan setelah memilikiku, aku memilih menerimanya. Mama memang tak sempurna, namun kita tak harus jadi sempurna agar bisa membuat orang lain mencintai kita. Dan aku mencintai Mama — sesungguh-sungguhnya, sedalam-dalamnya.

Terima kasih karena Mama selalu tulus menyayangiku, memanjakanku, merawatku, menjagaku. Kadang-kadang aku khawatir akan masa depanku sendiri; aku bertanya apa tujuanku hidup, apa tujuanku bekerja, apa yang aku lakukan dalam satu, dua, lima tahun. Kemudian aku akan sadar bahwa aku memiliki Mama. Paling tidak, Mama memberiku alasan untuk terus berjuang: bukan untuk jadi sempurna, namun untuk membuat Mama bangga.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya