Hidup itu unik, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terkadang mudah dijalani, tetapi tidak jarang semua pilihannya sulit. Satu yang pasti, kita selalu bisa memilih bagaimanapun keadaannya.

Pagi itu, aku sedang duduk di teras rumah ditemani secangkir teh dan guratan awan yang indah. Bulan masih terlihat walaupun samar, ia seakan-akan sedang melambai mengucapkan selamat tinggal karena harus berganti shift dengan mentari.

Advertisement

Sambil menatap dua sejoli yang jarang bertemu itu, aku termenung, terdiam, seakan-akan kehilangan akal. Tanpa sadar aku masuk ke dalam dimensi imajinasi yang membunuh waktu.

“Dik, boleh kakek duduk di sini?” suara seorang kakek terdengar samar memecah keheningan.

Aku terkejut, karena refleks aku langsung mengijinkannya duduk bersama di teras rumahku.

Advertisement

“Silakan kek, ada yang bisa aku bantu?”

Sambil melempar senyum ia berkata, “Kakek hanya ingin menikmati pagi bersamamu. Dari jauh, kakek melihat kamu begitu asyik melihat langit. Memang ada apa di sana?”

“Ah, sebenarnya tidak ada apa-apa, aku hanya senang saja melihat lagi yang biru, tenang rasanya,” jawabku.

“Tenang? Maksudnya bagaimana dik?”

“Iya, seperti damai gitu kek.”

“Menurut kakek, bukan langit biru yang membuat kamu tenang.”

“Bukan langit biru? Lantas apa kek?”

“Hemmm, Menurut kakek, negeri yang sudah merdeka ini yang membuat kamu tenang. Coba kamu lihat langit saat zaman perjuangan dulu, warnanya sama, tetapi pasti rasanya berbeda. Kakek merasakannya sendiri.”

“Loh, kakek dulu ikut berjuang?”

“Iya, bersama teman-teman sejawat kakek berjuang di medan tempur.”

“Wah, kok bisa kek?”

“Waduh, itu cerita yang panjang dik, habis nanti waktu kamu.”

“Aku punya banyak waktu kok kek, aku mau mendengar ceritanya, hehe.”

Kakek itu memulai cerita yang sangat panjang, mengasyikan untuk didengar, tetapi akan menakutkan dan menyedihkan untuk dirasakan. Kakek adalah orang terakhir yang masih hidup dari seluruh teman-teman seangkatannya. Beberapa orang gugur di medan perang, beberapa orang hilang ketika orde baru berkuasa, beberapa lainnya harus pulang karena termakan usia.

Waktu itu, kakek berjuang masih sangat muda, kira-kira usianya masih belasan. Walaupun tidak dipaksa untuk masuk sebagai pasukan yang membela tanah air, tetapi memang kebanyakan orang dengan sukarela bergabung. Mereka punya cita-cita bersama untuk memerdekakan bangsa ini.

Mendengar cerita kakek, rasanya masa itu adalah masa yang cukup menakutkan sekaligus membanggakan. Takut karena setiap orang bisa kapanpun gugur di medan perang, bangga karena mereka berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri atau tanah airnya, mereka sedang berjuang untuk menyediakan kehidupan yang lebih baik bagi anak cucunya.

Ternyata, setelah aku lihat lebih dalam, setiap goresan keriput yang ada di wajah kakek punya ceritanya sendiri. Tubuhnya bukanlah tubuh biasa, tetapi tubuh yang membuat kita tenang menatap langit hari ini.

“Kehilangan, itu yang selalu kakek takutkan setiap harinya. Ketika kami saling bergantian menuju medan perang, teman-teman di basecamp hanya bisa menunggu dengan cemas. Apakah akan kembali dengan kondisi baik, luka-luka, atau tidak kembali karena harus gugur di medan perang.

Selalu, ketika salah satu dari kami harus gugur, suasana basecamp menjadi sendu, air mata setiap kami mentes hingga kering. Mungkin jika dikumpulkan air mata selama perang, bisa-bisa membentuk sebuah danau yang sangat luas.

Tapi yang pasti, kami selalu percaya, setiap darah yang menetes, setiap nyawa yang hilang tidak akan pernah berakhir sia-sia. Pada akhirnya penantian panjang untuk merdeka cepat atau lambat akan sampai juga,” kakek menutup ceritanya dengan suara yang agak lirih.

Sepertinya kenangan kakek masih terpatri jelas dalam pikirannya, matanya yang berkaca-kaca saat bercerita memperlihatkan perasaan yang begitu kuat.

“Kira-kira begitu ceritanya. Hari ini tentu kakek sudah tua dan renta, tidak bisa berjuang seperti dulu. Paling-paling hanya ngobrol dengan anak muda seperti kamu dik.”

“Cerita kakek sangat menginspirasi, itu kan salah satu perbuatan baik. Mungkin perjuangannya saja kali kek yang berbeda, hehe.”

“Kalau begitu apa yang akan kamu lakukan setelah mendengar cerita kakek?”

Aku tersenyum dan tidak menyangka kakek akan menanyakan hal itu kepadaku. “Hemm, belum tau sih. Memang apa yang bisa dilakukan orang muda seperti kami?”

“Menurutmu, apakah Indonesia sudah baik?”

“Belum kek.”

“Apa kekurangannya?”

“Banyak! sampai bingung mau mulai dari yang mana, hehe.”

“Nah, banyak kan? Kenapa kamu tidak berbuat sesuatu?”

“Aku bingung kek, mau berbuat apa, hehe.”

“Jangan bingung. Kamu kan tidak perlu mulai dari hal-hal yang besar, cukup mulai melakukan hal yang sederhana namun bermakna.

Menurut kakek, Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Bukitnya banyak dari kita yang bisa menjadi sorotan di kancah internasional. Entah itu dalam sebuah pertandingan, maupun penelitian.”

“Lalu Indonesia kekurangan apa kek? Apa yang bisa aku lakukan untuknya?”

“Indonesia kekurangan orang-orang yang peduli dik.

Oh iya, sebentar lagi kan kita akan memperingati hari Sumpah Pemuda. Coba kamu tahu tidak isi sumpah pemuda?”

“Sebentar, 

Pertama, kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga, kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Benar kan kek?”

“Iya benar, tapi kan kamu baca di google melalui HP-mu itu. Ketahuilah risiko para pemuda waktu itu saat berkumpul adalah mati. Mereka bisa kapan saja dibunuh. Risikomu hari ini apa dik?”

“…”

“Paling-paling hanya malu saja kan.”

“Hehe,” aku membalas pernyataan kakek dengan tertawa. Walaupun aku tertawa, tetapi aku sadar bahwa apa yang kakek bilang itu benar. Risiko kita berkarya hari ini adalah malu, tidak sebanding dengan para pemuda dulu yang ketika berbuat sesuatu risikonya adalah mati.

“Tidak apa-apa jika kamu belum mencintai Indonesia. Semua ada waktunya. Tetapi satu hal yang perlu kamu tahu. Indonesia ini lahir dari perjuangan yang tidak mudah, dibesarkan dan dirawat dengan cinta. Kami orangtua telah selesai berjuang membuat negeri ini bisa menentukan nasibnya sendiri. Sekarang gilirian generasi muda melanjutkan tongkat perjuangan dengan karya-karya positif.

Pikirkanlah dik, kakek pamit pulang,” kata kakek yang kemudian beranjak pulang.

Kawan, dari Kakek aku sadar bahwa negeri ini menunggu. Menunggu kita berbuat sesuatu. 

Tetapi pada akhirnya semua akan kembali kepadamu. Karena hidup selalu bisa memilih. Mau diam dan terus ditunggu, atau bangkit lalu kita semua bersama-sama mengakhiri penantian sang merah putih yang sedang menunggu kita mulai berkarya.

Negeri ini memang tidak seindah yang diceritakan buku pelajaran, tetapi rasanya negeri ini tetap layak untuk diperjuangkan.

Maukah kamu berjuang? Sehingga Indonesia bisa mengakhiri penantiannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya