Kicauan burung, mentari yang memancarkan sinarnya begitu sempurna.
Teh hangat nan manis begitu menyempurnakan pagiku. Semua hal ini begitu indah dan sempurna di balik sudut pandangku saat kau dan aku pertama kali bertemu. Yah, tahun pertama bersamamu Mas, begitu sempurna seakan alam memberikan seruan kebahagiaannya untuk kita berdua.

Aku selalu bersyukur Tuhan mendengarkan doaku setelah lama ku tutup hatiku, mengenalmu aku tak lagi bersembunyi di balik ketakutan dan kekecewaan yg kualami. Iya Mas, sebelum bersamamu aku pernah bersama dengannya, orang yang selalu kupuja tapi yang tersisa hanya kekecewaan mendalam, yang memaksaku untuk menutup diri. Namun kehadiranmu membuatku berani untuk membuka kembali hati yang sudah lama ku tutup.

Kau bukan orang yang baru kukenal, Mas.
Kau adalah orang lama, yang hanya saja baru masuk dalam hidupku, kau teman kecilku. Aku mengenalmu saat kita kecil dulu tapi tak pernah bertegur sapa, kita berada di lingkungan yang sama namun tak pernah bertatap atau bahkan sapaan basa-basi tetangga. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bersekolah dan melanjutkan karirku di luar pulau jauh dari jangkauanmu dan begitu pun denganmu keluargamu memilih untuk pindah.

Lama aku tak mendengar tentangmu, Mas.
Meski kita teman kecil dan di lingkungan yang sama, namun kita bertindak layaknya orang asing. Hingga akhirnya kau tiba-tiba menghubungiku saat kita berada di pulau yang berbeda. Entah keberanian apa yang telah memaksamu untuk menghubungiku karena yang ku tahu pribadimu yang pemalu, yah mungkin itu salah satu alasan mengapa kita tak pernah bertegur sapa meski kita di lingkungan yang sama dan kau adalah teman di masa kecilku.

Aku begitu tersentak begitu tau yang menghubungiku adalah kau, Mas.
Bagaimana tidak setelah 25 tahun kita tak pernah bertegur sapa atau hal basa basi yang biasa orang-orang lakukan saat bertemu dan berpapasan dengan kenalannya. Malam itu kau menghubungi dan bertanya kabar, dan lebih mengejutkan kau memintaku menjadi bagian dari hidupmu. Kau memintaku untuk menemanimu dalam ikatan halal.

Aku tak perlu berpikir lama untuk memutuskan jawaban apa yang harus ku berikan untukmu karena orang tuamu dan orang tuaku saling mengenal baik satu sama lain. Lagi pula bukankah kita sudah mengenal satu sama lain kau adalah teman kecilku sekaligus tetanggaku?

Apa yang mesti ku ragukan darimu?
Namun sebelum ku menjawabmu tentu aku menceritakan siapa aku bagaimana aku yang dulu.
Bagaimana ketidaksempurnaanku, bagaiamana aku terpengaruh oleh budaya barat, cara berpakaian yang tidak sesuai dengan budaya Timur kita.

Namun kau tak sedikit pun getir dengan hal tersebut, hari ke hari kau makin membuatku jatuh cinta, Mas – sejatuh jatuhnya.

Kau membuat ku merasa Tuhan menjawab semua doa di sujudku, Tuhan mendengar seruan dan tangisku di sunyinya malam saat kau belum hadir. Kini malam ku tak lagi semenyedihkan saat sebelum kau hadir, Mas. Kau membawa perubahan yang begitu dahsyat dalam hari-hari ku.

Kini aku bersemangat bangun pagi dan mengulang rutinitas di setiap harinya. Kau bagai vitamin yang memberikan kesegaran dalam tubuhku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ketanah kelahiranku dan menghentikan semua mimpi dan karirku di tanah rantauan. Aku ingin lebih dekat denganmu. Toh kita punya agenda bersama.

Aku tak sabar, Mas.
Sungguh aku tak sabar untuk bisa mendampingimu, hanya sekedar melakukan rutinitas indah nan sederhana, membangunkanmu di pagi hari, membuatkanmu sarapan, dan mendapatkan kecupan hangat di waktu sebelum kau berangkat kerja. Aku tak sabar, Mas.

Namun sebelum semua itu terjadi, aku memintamu untuk memberikan aku waktu untuk mencari pekerjaan.
Iya, Mas. Aku tak ingin menyusahkanmu saat nanti kita sudah menikah. Aku ingin tetap bisa mandiri. Seiring berjalannya waktu, semuanya berjalan sesuai rencana. Aku punya karir yang aku inginkan, dan kau pun begitu selamat untuk kenaikan jabatanmu, Mas. Aku bangga dengan pencapaianmu.

Lagi-lagi Tuhan menjawab dan mendengar doaku, Mas.
Semua terasa mudah. Bersamamu, semua terasa ringan, semua bisa aku hadapi, tentunya karena kehadiranmu, Mas.
Hari berganti bulan dan tahun. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan perubahan sikapmu mulai kurasakan.

Tak ada lagi semangat yang kau berikan, tak ada lagi gombalan yang membuat seutas garis di pipiku membentuk senyuman dan merahnya pipi. Berulang kali kau berkata pembicaraan yang tersaji saat kita berbincang di telepon tak penting.

Aku tau akan hal itu, Mas. Namun, tahukah kau, Mas? Itu semua karena aku tak mau kau menghentikan percakapan kita. Karena kau selalu menghindar saat aku membahas hal yang kau bilang tak penting itu, bahkan aku tak pernah lagi mendapatkan morning call darimu saat kau bangun pagi dan sebelum berangkat kerja.

Masih teringat jelas saat pertama kalinya kau datang bertamu ke rumahku dengan sopannya kau bertemu dan meminta ijin kepada orang tuaku mengajakku keluar hanya sekedar duduk berbincang melepaskan rindu. Tentunya hal yang kau lakukan itu dengan datang ke rumahku membuat orang tuaku tak percaya dengan apa yang telah kau lakukan, Mas. Orang tuaku sangat mengenalmu dengan baik.

Katanya kau adalah anak pemalu yang tidak mungkin melakukan hal itu. Namun hal itu membuatku bahagia. Betapa tidak kau ingin melakukannya untukku, sekarang tidak lagi. Jika ingin bertemu kau hanya cukup menelponku dan memintaku untuk menemuimu di rumahmu atau bertemu di luar. Aku sangat tau dan kau juga tau hal ini tidak sesuai dengan kebiasaan dan adat kita. Namun tetap ku lakukan karena aku sayang kamu, Mas.

Kau berubah, Mas.
Kau bukan lagi yang ku kenal. Begitu cepat kau berubah hingga aku bingung apakah ini sifat aslimu yang baru tampak seiring berjalannya waktu kita bersama. Atau kah kau benar-benar berubah karena jenuh dengan hubungan kita.

Aku tahu Mas ini kali pertamanya kau punya hubungan begitu lama. Yah, hanya denganku. Apakah itu yg melatarbelakangi perubahan sikapmu? Ataukah ini adalah sikapmu yang sesungguhnya. Apa pun itu yang ku ingin hanyalah kau yang dulu. Semuanya sudah tercapai, Mas.

Aku tak akan memintamu lagi untuk mengulur waktu dan aku tak perlu lagi mendengarmu mengulur waktu atas niat baikmu terhadapku. Insha Allah aku sudah bisa mandiri dan kau sekali lagi aku ucapkan selamat atas pencapaianmu.
Apa lagi yang harus kita tunggu?

Bukankah Tuhan telah menjawab doa dan memudahkan jalan kita atas niat baikmu itu?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya