Bagaimana aku mulai menulisnya? Sedang banyak penulis mengatakan bahwa semua yang terjadi tidak perlu di umbar, simpan baik-baik dan kita akan merasakan spesialnya. Tapi beberapa juga mengatakan bahwa untuk menunjukkan adanya diri kita, membuktikan untuk puluhan dan ribuan tahun ke depan, kita butuh sebuah tulisan. "Menulislah agar anak cucu mu yakin bahwa kau pernah hidup".

Nama ku Siti Munawaroh, apakah perlu gelar dibelakang nama? Yang aku rasa itu sekarang tidaklah penting, ini pernah ku bahas di post sebelumnya. Bukankah yang lebih penting adalah gelar di depan nama? "Alm" akan sejauh apa kita mempersiapkan semuanya agar kita lulus dengan baik untuk mencapai surga-Nya. Sejauh kita mempersiapkan baik-baik agar lulus mendapat gelar dibelakang nama.

Advertisement

Sapalah aku Mbest, mungkin ini panggilan teralay yang akan kalian dengar, dan kalian akan berpikir aneh-aneh. Tapi bagiku ini panggilan spesial. Nida Aisyah, dia sahabatku. Gelar dibelakang nama kita sama, itu karena kita sama-sama lulus di prodi dan kampus yang sama. Dan kalian bisa sapa dia Mbem, itu panggilan spesialku untuknya dan itu juga yang akhirnya membuatnya berpikir dan memutuskan memanggilku Mbest, kali ini aku bukan akan membahas sebuah panggilan, jadi tidak perlu membahas alasan apa hingga kita memiliki panggilan itu.

Aku pasien Labiopalasty dan Palatoplasty kalian mungkin masih awam tentang ini. Tapi kalian pasti tau jika aku sebutkan ini, ya Labiopalasty adalah bibir sumbing dan Palatoplasty adalah tanpa langit-langit. Sedang sahabatku pasien Glaukoma, apa kalian juga tidak tahu apa itu? Sama seperti aku yang dulu baru dengar dari ceritanya, mungkin kalian paham apa itu katarak? Ya, jika katarak adalah penyebab kebutaan pertama di dunia, glaukoma adalah kedua. Tetapi, jika katarak bisa disembuhkan, sedang glaukoma tidak (buta permanen).

Kenapa kami dipertemukan dan memutuskan untuk bersahabat? Jika pernyataan Kak Arfan (Kakak satu-satunya Mbem), Ini semua karena tadkir Allah, lalu kita bisa apa? Ya, kita bisa sama-sama menjalankan, sama-sama mendukung, dan sama-sama memahami, meskipun pasti ada rintangan.

Advertisement

Sebagai pasien? Apa yang aku rasakan? Jika sejak lahir aku telah mendengar hinaan-hinaan? Sedih? Itu sudah pasti, iri? Itu juga pernah ada dalam pertanyaanku. Kenapa harus aku yang mendapatkannya di keluarga ini? Orangtua ku punya enam anak, dan hanya aku. Aku marah? Tidak. Karena aku tahu setiap orang tua menginginkan anak-anaknya lahir dengan sempurna ke dunia ini.

Apa yang aku rasakan sebagai pasien? Jika aku tahu sejak lahir aku tak minum ASI, mereka bilang karena aku tidak doyan, tapi kini aku mengerti keadaan ini yang memang tidak memungkinkan aku untuk mengosumsi ASI karena akan membuat ku tersendak tak bernafas. Hingga akhirnya susu sapilah yang aku konsumsi. Aku marah? Tidak, bahkan aku tahu usaha keras mereka ketika membeli berkaleng-kaleng dan berdus-dus susu terbaik.

Apa yang aku rasakan sebagai pasien? Minder? Itu jelas ada, ketika semua riang bercerita dan bernyanyi tanpa beban. Aku justru terus mengurungkan diri untuk tidak berbicara banyak bahkan sering kali memilih diam dan tak mengeluarkan sedikit nada saja, itu karena aku tahu akan ada "apaan? Ah nggak ngerti" atau tawa. Aku marah? Tidak, justru semudah ini Allah memberi cara agar aku membahagiakan siapa saja.

Apa yang aku rasakan sebagai pasien? Sendiri, aku pernah merasakan ini, ketika orang-orang memilih-milih siapa saja yang akan menjadi teman dekat. Temanku terhitung. Aku sering terbuang, jelas aku tidak masuk kriteria. Aku marah? Tidak, lagi-lagi aku paham ketika kesetiaan itu akan hancur jika dilihat dengan sefisik saja.

Apa yang aku rasakan sebagai pasien? Manfaat, aku juga pernah merasakan ini, aku tidak cerdas, tapi kerajinan yang orang tua ku ajarkan membuat aku cukup berprestasi, berulang kali masuk 3 besar, ya paling tidak terus berada dalam 10 besar. Itu yang membuat teman-teman mendekat. Aku marah? Tidak, karena lagi, aku paham semudah itu Allah menjadikan aku orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Apa yang aku rasakan sebagai pasien? Bingung, aku pernah bingung ketika bersapa dengan anak kecil dan mereka bertanya "kenapa bibir kakak ke belah?" "Kenapa suara kakak kaya gitu? Lucu". Aku marah? Tidak, selugu itu mereka bertanya meski selalu saja aku mendunduk dan membendung air mata yang kapan saja mudah pecah.

Apa yang aku rasakan sebagai pasien? Mengutuk? Tidak, bahkan ketika semua orang menghina, ketika itu juga aku meminta Agar Allah tak membalasnya, tapi aku juga selalu berdoa, agar orang-orang itu merasakan apa yang aku rasakan, lewat mimpi. Aku sering meminta Allah agar mereka diberi mimpi. Karena aku tau tidak semua bisa sekuat aku. Jadi, tak perlu terbalas nyata, jika mimpi saja sudah cukup membuat sadar.

Apa yang aku rasakan sebagai pasien? Banyak, Allah terus memberikan aku sebuah rasa, rasa yang tidak orang-orang bisa rasakan. Rasa yang luar biasa. Rasa yang membuatku terus berpikir. Rasa yang membuatku tidak menyerah. Rasa yang membuatku bahagia. Rasa yang membuatku banyak bersyukur. Rasa yang membuatku paham. Rasa yang membuatku tahu, tahu atas cerita kehidupanku yang berbeda. Lihat, menjadi berbeda itu sangat sulit, tapi Allah memberi perbedaan itu dengan mudah.

Sahabatku, apa yang dia rasakan sebagai pasien? Sedih? Jelas sama. Ketika dia bertanya kenapa ini terjadi pada dirinya? Allah ambil satu penglihatan mata nya saat duduk di bangku SMA. Ya. Mata kirinya tak berfungsi. Bukankah butuh waktu untuk belajar berdiri dengan sebelah mata? Berjalan dengan pandangan berbeda? Tersandung dan terjatuh? Kejedot dan terbentur keras? Bukankah itu butuh waktu? Ketika dia harus menyuruh semua indera peraba untuk lebih sensitif ketika seseorang mendekat? Selalu kaget ketika ada yang diam-diam duduk disebelahnya.

Apa yang dia rasakan sebagai pasien? Ketika belasan tahun Allah kasih tubuh yang sempurna. Lalu dia harus belajar berjalan seperti layaknya anak kecil yang baru belajar jalan? Membutuhkan uluran tangan, kebasan tangan agar dia tahu ada benda apa di depan sana. Apa yang dia rasakan sebagai pasien? Sakit? Jelas sekali, sakit mata itu amat sangat, ketika obat menjadi teman, ketika cengkraman jari menarik rambut, ketika mata memerah nyala, ketika teriakan dan tangis itu pecah, ketika itu semua terjadi karena tekanan bola mata yang tinggi, amat tinggi. Aku tau rasa sakitnya? Tidak. Tapi apa aku merasakannya? Jelas, jika aku diserang migran saja kalah, bagaimana dia.

Apa yang dia rasakan sebagai pasien? Pelangi, ya dia sering melihat pelangi, tanda penglihatan mulai kabur, tanda mata butuh istirahat. Butuh memejamkan mata? Tidak, jika dipejam selalu membuat dia terganjal, lalu apa? Melihat tetap merasakan sakit. Serba salah, itu yang aku tahu.

Apa yang dia rasakan sebagai pasien? Lelah, dia pernah merasakan lelahnya, karena butuh berwaktu-waktu untuk kembali hidup, riang, tawa, celoteh yang membuat orang-orang disekelilingnya tertawa.

Hey, apa kalian tahu? Aku bersahabat dengan orang bawel ini, kebawelannya menular, akhir-akhir ini aku banyak berbicara, juga tak segan-segan bernyanyi, meski dia sering bilang "Yah kuping aku pecah dah". Kalian tahu kenapa begitu? Sebenarnya yang aku rasakan biasa saja, aku berbicara layaknya orang biasa yang berbicara, serius.

Karena aku mendengar sendiri bicara ku normal. Ketika mensenandungkan lagu aku juga pernah merasa yakin, suara ku tak kalah sama penyanyi tapi, ketika aku mencoba untuk merekamnya, aku paham apa yang orang dengar, tak jelas dan sumbang. Dan percayalah yang terdengar belum tentu terdengar sama. Itu mungkin efek langit-langit yang tak ada.

Lagi, ketika sahabatku ini yang doyan ngajak karokean aku tak pernah ikut bernyanyi. Kalian tahu? Agustus 2015 lalu aku operasi, dokter memberi harapan, langit-langit terbuat dari daging paha ku, aku bahagia? Entah, yang aku tahu aku merasa aneh. 23 tahun aku hidup tanpa langit-langit, membuat semuanya aneh, bahkan sempat kesal karena aku tersiksa ketika flu dan batuk menerpa.

Dokter sempat meminta ku setelah 3 bulan pasca operasi aku kembali ke rumah sakit untuk latihan berbicara agar otot-otot pada pita suara ku sedikit berubah tapi aku mengurungkan diri, tak pergi ke rumah sakit. Aku rasa, aku sudah nyaman seperti ini. Ini takdirku.

Disisi lain, kalian tahu, sahabatku berhasil menutupinya, tak ada yang tahu bahwa dia buta sebelah mata. Itu karena periangnya dia, dia bilang "Aku nggak mau kalo nanti orang-orang tahu mereka akan sayang sama aku karena kasihan". Ah, bukankah banyak pelajaran dari semua ini? Kita saling menyempurnakan meski masih jauh dari kata sempurna, ketika aku tak sanggup melawan orang-orang dengan kata, dia yang akan mewakilkan ku.

Ketika kita berjalan di malam hari, aku yang mengulurkan tangan membantu. Ketika dari kejauhan dia tak sanggup membaca kata, aku yang memberitahunya. Ketika aku ingin medengar sebuah lagu, dia yang akan menyanyikannya. Ketika aku menginginkan sebuah balon, dia yang akan meniupkannya. Ketika dia ingin menemui seseorang dan dia tak melihatnya, aku yang memberitahu. Ketika aku selalu malu memesan makan ditempat baru, dia yang selalu memesankannya. Kita berdua berusaha saling melengkapi, tapi bukan berarti kita tidak pernah marah-bertengkar, itu hal wajar yang akan membuat hubungan ini menjadi semakin erat.

(Kekurangan bukan aib, bukan? Sungguh ini persahabatan yang luar biasa bagi ku dan semoga bagi dia).

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya