Ada rasa aneh ketika aku harus bertemu denganmu.

Aku kembali harus memainkan dramaku, memainkan peran yang jauh dari keinginanku, aku berperan untuk menjadi orang asing yang seakan tak pernah mengenalmu.

Advertisement

Dari balik kaca itu ada seribu tanya dan rindu yang melekat erat seakan menjadi batas antara rindu dan benciku kepada mu.

Aku hanya bisa memandang sebatas punggungmu, di balik kaca itu.

Aku memandangmu sesaat setelah kamu berlalu. Ku buntuti langkahmu lewat bayangan, ku coba isyaratkan tentang hati yang rindu yang tak dapat ku ungkapkan.

Advertisement

Tapi mungkin hatimu memang kaku, atau mungkin hatimu memang sudah hilang untukku. Kamu meninggalkan aku dan tak perduli bagaimana cara ku untuk baik-baik saja padahal tidak.

Menyesali perkenalan kita, membuatku semakin sakit, dan rasa itu semakin menusukku, saat aku benar-benar sadar kamu berlalu di depanku tanpa sapa, seakan kita tidak saling mengenal.

Saat aku tau di balik kaca itu kamu berjalan tak pernah anggap aku ada. Aku hanya bisa berpura-pura menyibukkan diri dengan pekerjaanku, dan fokus pada laptop di depanku.

Tak bisakah aku menyudahi drama ini?

Kadang dari balik kaca itu, aku melihatmu bercanda, tertawa lepas dengan teman-temanmu. Aku iri pada mereka. Ingin sekali aku mendengar ceritamu lagi, bagaimana kabar burung kenarimu yang mengharuskan kamu bangun pagi untuk memberi makan dan membersihkan kadangnya.

Bagaimana kabar koleksi sepatumu, sudah berapa banyak sepatu yang kamu punya sekarang.

Dan rasanya aku harus ucapkan selamat karena yang terakhir aku tau, kamu sudah berhasil membeli barang yang kamu inginkan.

Ah….rasanya jika aku mengatakan semua ini aku terdengar sulit move on darimu.

Aku ingat ketika aku duduk diantara teman-temanmu. Waktu itu kita belum saling mengenal. Dan kamu mencoba menarik perhatianku dengan bertanya banyak hal.

Hari berikutnya setelah kita berkenalan. Kita mulai membicarakan banyak hal, tentang aku, tentang kamu, tentang kita.

Selayaknya orang sedang jatuh cinta, sedetik tak bertemu pun rasanya satu tahun kita harus menahan rindu.

Kita pun sering muncuri waktu, meminta Tuhan untuk menghentikan waktu agar kita terus bersama. Saat itu ku katakan padamu bahwa aku takut jika waktu akan mengikis cerita kita berdua.

Disampingmu, aku coba mengingat aroma tubuhmu, yang saat itu ku yakin akan ku rindukan. Ku simpan baik-baik lekuk wajahmu saat kamu tersenyum dan garis matamu saat kamu tertawa.

Ku simpan baik-baik semua tentangmu, agar aku bisa tetap melukis bayangmu, disaat kita benar-benar sudah tidak bersama lagi.

Aku sadar banyak wanita di sekitarmu yang lebih mampu membuatmu tersenyum. Aku tau, aku begitu membosankan, dengan kepribadianku yang labil, sering berubah tak punya prinsip.

Kini biar kan aku mengingatmu cukup di balik kaca itu. Biarkan aku tetap merindukanmu hanya sebatas punggungmu, punggungmu yang dulu menjadi tempat ku bersandar saat aku menangis.

Ku ceritakan ini bukan berarti aku tak bisa move on darimu, terkadang ada masa lalu yang masih ingin kita rindukan. Dan merindukamu bukan berarti aku ingin kembali padamu. Akan ku katakan “Tidak” dengan sangat keras, karena sudah cukup rasanya aku memperjuangkan hatiku untuk bahagia. Sudah cukup bagiku untuk mengumpulkan hati yang sudah kamu hancurkan.

Aku hanya ingin mengingatmu, tetap bisa merindukanmu di balik kaca itu.

Biarkan semua itu aku lakukan, walau sakit yang aku dapatkan, tapi kita pernah berbagi cerita bersama. Ada impian yang tak pernah terwujud dan rindu yang ku batasi cukup dibalik kaca itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya