Banyak impian yang ingin ku raih. Banyak cita-cita orangtuaku yang ingin ku wujudkan. Tiba-tiba saja engkau datang dengan manis mengajakku bersamamu. Entah apa yang membuatku akhirnya mendekat kepadamu. Sejenak aku terhanyut akan senyum dan canda tawa yang engkau tawarkan. Tiba-tiba saja aku nyaman denganmu dan dengan hatimu. Dahulu aku adalah orang yang sudah benar-benar muak membicarakan cinta. Benar-benar malas berurusan dengan hati dan aku sangat menjaga hatiku dengan hati-hati.

Aku sudah bosan dengan siklus yang hanya main-main datang pergi selalu seperti itu. Selalu menampakkan cinta yang dibuat-buat. Hingga pada akhirnya aku berada pada titik kelelahan untuk bermain soal hati, rasanya malas dipermainkan lagi. Aku sadar bahwa cinta adalah anugrah yang tidak dapat dibuat-buat dan bukan untuk dipermainkan. Nyaman dengan keadaanku yang sendiri menunggu dengan tepat pada siapa nanti aku melabuhkan hatiku kembali. Entah mengapa rasanya hanya ingin memberi kesempatan satu kali lagi dan untuk terakhir kali. Hingga pada akhirnya aku bertemu denganmu tak tau mengapa aku mudah sekali membuka hati untukmu.

Advertisement

Aku lupa akan impian yang dulu menggebu, yang dulu hanya menjadi tujuan hidupku. Yaitu membahagiakan orangtuaku. Yang ku inginkan pada saat itu hanya terus bahagia bersamamu dan bersamamu. Tapi tiba-tiba ternyata kau bersama seseorang di belakangmu. Seseorang yang tanganya masih kau genggam erat. Seseorang yang pernah bersamamu di masa lalu. Aku tau kau berusaha menyembunyikannya padaku.Tapi lambat laun aku juga akan mengetahui orang itu. Aku tak tau apakah kau masih mencintainya atau kamu tidak bisa melupakannya. Walaupun banyak hal yang kau ceritakan padaku dari pada dia yang tanggannya kau genggam di belakangmu. Kau masih mempertahankan banyak orang dari masa lalumu untuk tetap di hatimu. Tapi aku? aku sudah membuang banyak masa lalu dan mengubur semuanya. Aku tak pernah mengizinkan orang lain untuk masuk di hatiku lagi. Aku juga sudah berjanji untuk membuka hatiku untuk yang terakhir kali dan tak ingin bermain-main lagi.

Aku masih bingung, lalu untuk apa kau mengajakku bercerita banyak hal bersamamu? Untuk apa aku di sini bersamamu? Aku lupa telah banyak membuang waktuku untuk terus menerus memikirkanmu, untuk terus bersamamu. Ini memang tak adil, kau mempertahankan banyak pilihan sedangkan aku bertahan pada satu pilihan.

Baru sekarang ku sadari siapa aku bagimu. Aku jatuh sejatuh jatuhnya tapi tiba-tiba aku melihat ada dua orang di belakangku. Ya, mereka adalah orangtuaku. Mereka hanya terdiam dengan seyuman tipis dan dengan dihiasai kerutan di wajah. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Entah mengapa aku bangkit berlari terus berlari lagi sambil menyeka air mataku. Banyak luka yang ada dan sakit yang masih tersimpan sesak, tetapi entah kenapa tak ku hiraukan semua rasa sakit itu. Sambil mengingat tentang impian yang dulu pernah membuatku bahagia.

Advertisement


Aku memilih pergi dan tak lagi di sini bersamamu.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya