Sayang, jangan salahkan aku yang berkali-kali haru karena mu. sebab rindu mendera seluruh hati. Membuat aku terdampar diujung malam yang penuh kerinduan akan dirimu. Pilu ku memang sederhana, hanya karena rindu yang menyapa dan aku mulai terlena dalam bait-bait hujan yang turun, ia mengantarkan bayanganmu.

Tak terasa bahwa rintik hujan yang turun, menggenang menjadi rindu. membasahkan setiap rentang pelukan bayanganmu.

Advertisement

Sayang, aku tergila-gila akan rindu mu. Matamu yang selalu jadi bagian paling ku tunggu ketika bertemu. Bagiku, matamu itu adalah bagian tak terpisahkan dari anugrah tuhan atas penciptaanmu. Berlebihan memang jika ku kagumi itu. namun, aku masih tak bisa lepas dari dua matamu.

Andai malam ini bisa ku habiskan dengan pelukan. maka aku akan biarkan peluk lengan mu membuat ku merasa tenang, Akan ku biarkan pelukmu terus tenggelam dalam raga ku. Aku tau lengan kokohmu itu adalah tempat untuk pulang dan melepas sedikit beban dalam hari ku. Aku ingin dengar bisikan lirihmu yang selalu berhasil memenangkan pertaruhan ku dengan jarak dan waktu.

Sayang, maukah kau bertukar hati ?

Advertisement

Aku ingin engkau dengarkan apa yang sedang ku bincangkan dengan rindu. Aku ingin kau rasakan seberapa besar ku genggam harapan untuk mu, seberapa banyak ku pungut rindu setiap kali ia jatuh dipusaran kalbu, seberapa kuat aku mendulang kasih sayang untukmu.

Setelah itu tanyakan lah lagi, siapa yang akan lebih patah jika rindu mu tak lagi untukku ?

Andai kau dengarkan setiap alunan nada rindu yang didendangkan angin malam bersama not sayup dipelupuk dedaunan, ia begitu sayup namun menusuk dari telinga hingga ujung hati. Jika kau ingin dengar suara itu, maka nikmatilah setiap angin yang berhembus, sementara angin tak pernah hilang dan seperti itu pula nada nada ku tak pernah habis pada bait rindu. Aku yakin kau pun ingin aku datang bersama angin, namun percayalah bahwa angin tak datang bersama ku. Angin selalu sampai lebih dulu dan aku akan datang bersama DOA mu wahai manisku.

Oleh sebab itu, jaga lah doa mu dengan istiqomah. Agar harapan akan kedatangan ku lebih cepat dari angin yang berhembus.

Sudahlah sayang, tak ingin rasanya aku teruskan bait tulisanku malam ini. Tapi apalah daya ku. Harus ku curahkan pada siapa lagi rindu ini ? Padamu ? Untuk apa ku jelaskan padamu. Sementara menatap setiap matamu yang berkedip sudah membuat tumpukan rindu semakin menjulang semakin tinggi.

Sayang, matahari mungkin tak pernah berharap untuk bertemu rembulan, namun selalu ada gerhana sebagai perantara diujung sana agar mereka sempat bertemu walau sekejap mata. Jika rindu ku tak sampai pada sudut hatimu yang ku damba, maka berlalu lah saja. Akan ku simpan patahan patahan itu. Biarlah kapal yang ku layarkan bersama rindu ini karam dalam kehampaan dan muncul dipermukaan perih yang gersang

Untuk mu, Ode ku tak pernah habis. seperti rindu yang belum tuntas

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya