Masih berputar dan berusaha dalam kata kebodohan dan kecerdasan. Kata itu akan menjadi suatu yang wajar untuk dipahami oleh hati agar tak terdzolimi.

Kebodohan yang aku pertahankan ataukah kecerdasan yang sedang aku usahakan??

Advertisement

Tiap detik aku pikirkan dan bertanya kepada pemilik hatimu. Jika harus ada peringatan untuk berjuang, aku akan berdiri paling depan untuk mengambil antrian berlari dan menjadi terdepan. Setelah lama berdiri aku tak bersabar ternyata sudah lebih banyak dari yang aku bayangkan antri untuk memenangkan hatimu.

Sejenak aku berpaling dan melangkah lunglai ke depan menunggu giliranku datang untuk merindu.

Beberapa langkah maju aku pun terhenti melihat siapa aku, dan tak aku sangka arahku pun berbalik melangkah pada jalur yang berbeda. Mataku tertunduk, semangatku pun mulai kehilangan arah. Pikiranku tergoncang, menyadarkanku dari semua angan semu yang tergambar indah. Semakin kupaksa maju semakin terlihat siapa aku. Aku yang tak sempurna mengharapkan kesempurnaan, Aku yang lemah mengharapkan kekuatan, Aku yang serakah mengharap semua kebahagiaan, aku yang egois memberikan sakit untuk kebahagiaan.

Advertisement

Ah, begitu jahat raga ini, begitu kejam pemikiran ini, begitu sempurna gambaran kesakitan ini, hingga tak memikirkan hati yang tersakiti.

Inikah kecerdasan yang aku perjuangkan? Ataukah kebodohan yang aku pertahankan?

Biarkan aku sedikit lebih cerdas dalam usaha pemberantasan kebodohan jalan pikiranku ini. Kau tak harus menempatkanku pada sudur lupamu, pada tempat kasihanmu, pada lahan amarah dan kebencianmu.

Jangan begitu, pikirkanlah tempatku, sediakan lahanku unutk berada dalam ladang amal dan ibadahmu.

Kamu boleh membenciku, namun jangan biarkan aku kehilangan kesempatan berkebaikan denganmu.

Setelah ini, kebodohan tak lagi ku perjuangkan. Aku akan lebih memperingati diriku. Aku tak ingin membuat Allah cemburu dengan ulahku. Cemburu dengan kalimatku. Cemburu dengan sikap dan hatiku. Sekiranya aku memintamu bersama mengingatNya dalam sebuah kalimat, dalam sebuah sikap, dalam sebuah hati. Akankah Allah juga cemburu? Atau akankah ini termasuk kebodohan yang aku pertahankan dan aku perjuangkan?

Beritahu aku!

Bagaimana kamu menjelaskan "masuklah kedalam surga Allah secara berombongan". " Ada golongan yang berombongan masuk surga dan ada yang berombongan masuk neraka". Tak ada kata sendiri di sana.

Aku tahu kegelisahanmu. Ini akan terlihat seperti kebodohan yang dipertahankan dalam sebuah pikiran awam. Masih ada yang bersedia berada di sampingmu ketika kamu jatuh dan menerima apa adanya dirimu? Ku katakan aku tak mampu seperti itu. Aku tak bisa. Aku tak mampu susah bersamamu, tak mampu menerima apa adanya saja dirimu. Ada tuntutan yang aku butuhkan. karena sejatinya inginku bersedia tetap berjuang di jalan Allah dalam suka dan dukamu. Dalam jatuh dan berdirimu.

Menerimamu dalam hati yang memiliki Allah.Itulah saja inginku. Di jalan inikah yang bisa aku sebut dengan kecerdasan hati yang aku perjuangkan?

Seandainya itu pengakuan yang mengganggumu, memberatkanmu, menyakitkanmu, membuat kamu bersedih, kamu boleh melaporkanku padaNya pemberi rasa ini.

Mintalah Allah hilangkan semangat juangku yang mengingatnya denganmu.

Mintalah hapuskan rasaku untukmu.

Mintalah habiskan tempat ladang amal yang bisa ku gunakan denganmu.

Mintalah agar aku tak lagi menghantui namamu dalam doaku.

Jika benar begitu adanya aku akan berusaha melangkah pergi dan menghilangkan rasa ini. memberikan kebahagiaan tanpa rasa sakit yang memaksa. "Karena sejatinya jika dia ingin bersamamu ia akan menghargaimu, namun ketika dia tak ingin bersamamu ia tak akan mendzalimimu".

Aku tak mau kau berdosa dengan dalih menerima.

Dosa dalam dzalim terselubung tanpa kesengajaan.

Cukup syukur yang bisa aku berikan saat itu aku rasakan aku tlah jatuh cinta dan memperjuangkannya dengan segala rasa doa dan usaha yang ada dan sekarang rasanya menghilang saja darimupun cukup.

Menghilangkan rasa cinta yang memperjuangkanmu.

Menghilangkan hasrat beribadah bersamamu.

Menghilangkan impian berjuang di jalan Allah bersamamu.

Kamu insan yang berhati baik, barangkali kamu tidak menjadi baik bila bersamaku. Pelajaran berharga setelah semua ini dan berusaha mengikhlaskanmu. Aku bersedia terhapus dalam laporanmu padaNya, menghilang dari pintamu kepadaNya.

Sekiranya tiada tempat aku bersedia pergi memberikan tempat ternyaman untukmu karena-NYA. Sejatinya Allah hanya inginkan kebaikan untuk umatnya. Kamu hanya perlu memahami Kehendaknya dan berusahala berani dalam menggapai keikhlasan hingga kamu dapat berjalan dengan kepala tegak penuh keyakinan akan janji ALLAH.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya