Bisakah kamu menjadi diriku? Duduk termenung di reruntuhan bulan, mengingat kamu yang bisa dengan mudahnya pergi begitu lama, mengingat kamu yang dengan mudahnya melupakan kita dulu. Tanpa kabar, tanpa penjelasaan. Aku ingin kamu menjadi diriku. Setiap waktu menangis lirih, mengisak rindu untuk seseorang yang bahkan tak tahu di mana sekarang. Tak banyak yang bisa kuperbuat. Semua hal telah kulakukan agar bisa bertemu. 1000 air mata pun tak akan bisa mengembalikanmu karena nyatanya engkau enggan melihatku.

Setelah kamu pergi banyak hal yang harus kamu tahu, sungguh hidupku berbeda saat jauh darimu. Tawaku ini sehambar air payau, tangisku ini sedingin air laut, sedihku ini sepilu anak yang kehilangan Ibunya. Hanya bisa merenung di seperempat malam, berpikir apakah yang sebenarnya terjadi padamu. Berpikir bagaimana keadaanmu. Apa makanmu teratur? Apa tidurmu cukup? Aku takut kau tak betah berada di sana.

Advertisement

Kumohon kembalilah, aku sangat teramat merindukanmu. Aku ingin mendekapmu dengan sangat erat agar kamu juga merasakan semua kesedihan yang kurasakan, agar kamu tahu betapa menyiksanya dipermainkan rindu. Sampai saat itu tiba aku akan tetap menjaga janji yang kita buat. Kembalimu untukku, membawaku ke pelaminan.

Terkadang akupun sering berpikir, apakah kamu merindukan aku seperti aku merindukan kamu? Apakah kamu menjaga hatimu selayaknya aku menjaga hatiku? Aku berharap kamu tak melupakan janji-janjimu, aku berharap kamu tetap setia kepadaku.

Hari berganti hari kulewati, akhirnya hari yang kutunggu-tunggu itu tiba..

Advertisement

Ku dengar kamu telah kembali dari perantauan. Aku sangat senang mendengarnya. Tak bisa kutahan diri ini untuk segera menyambangi pintu rumahmu, untuk segera melihat dan memelukmu dengan erat, untuk meyakinkan kamu, aku tetap menjaga hati.

Tapi kembalimu membawa sesuatu yang lain, orang-orang yang kau sebut istri dan anakmu.

Aku tersentak. Tanganku gemetar, aku coba untuk bertahan. Inilah akhir dari 3 tahun penantianku? Inilah akhir dari kisah cintaku? Menjaga milik orang lain selama ini? "Penantianku yang sia-sia", ucapku mencoba menyunggingkan seulas senyuman. Aku terhuyung lalu mencoba menyadarkan diri, langkah kaki ini secara otomatis berjalan mundur meninggalkan sebongkah kekecewaan. Kalian tahu jika diberikan pilihan, aku hanya ingin mati saja. Aku hanya ingin tertidur kaku di dalam peti mati tanpa merasakan apapun. Cinta ini sungguh membunuhku. Sisa-sisa kesadaran aku gunakan untuk berlari dan mencari jalan pulang dengan pikiran yang kosong dan hati yang hancur.

Jadilah aku yang kamu tinggalkan.

Jadilah aku yang kamu campakan.

Jadilah aku seseorang yang kini tak memiliki tujuan.

Bahkan kini daun pun enggan bersandar dipundakku.

Apa sehina itu diriku.

Aku tersungkur disudut kamar ini, lalu memperhatikan bulan yang semakin pudar, gemercik hujan mulai turun seolah mewakili perasaan. Aku mencoba menggunakan sedikit logikaku untuk bertahan hidup. Rasa ini adalah kesakitan terhebat yang pernah aku rasakan. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku pun berpikir dengan keras. Sungguh jika aku sanggup aku ingin bertanya kepadamu, tidakkah kamu ingat saat kamu genggam tanganku dengan erat? Tidakkah kamu ingat saat kamu kecup keningku dengan mesra? Tidakah kamu ingat setiap memori yang kita buat dulu? Kenapa bisa dengan mudahnya kamu bunuh dia yang kau sebut itu cinta? Kenapa bisa dengan teganya kamu gantikan posisi seseorang yang selalu menjaga sabar hatinya untukmu disini? Dan kenapa aku begitu mencintaimu?

Tuhan, kenapa? Kenapa harus berakhir begini? Setelah lelah menunggu, kini aku harus melumat habis kekecewaan. Kenapa mencintai sesakit ini? Kenapa hidup ini begitu rumit hanya karena sebuah perasaan cinta. Begitu banyak pertanyaan mengakar diotakku. Tapi hanya satu pertanyaan yang ingin ku dengar jawabnya. Kenapa cinta dibungkus palsu oleh kebahagiaan?

Dan kini cinta yang dulu kuagung-agungkan membawaku kepada kematian, kematian rasa untuk mencintai lagi.

Aku yang berjalan tertatih mencoba bangkit di kesendirian, kutata hati ini kembali. Cintaku terlalu berharga untuk seorang pengkhianat. kulapangkan hatiku menerima semua jalan, mungkin inilah cara Tuhan menyelamatkanku dari cinta yang salah. Inilah akhir dari semua penantianku.

Aku seseorang yang kamu tinggalkan, tak akan sanggup membencimu walau setitik. Terima kasih atas pengharapan-pengaharapan yang kamu berikan. Terima kasih karena pernah mengajarkan bahagianya cinta. Terima kasih atas semua rasa sakit yang aku terima. Kini aku ikhlas melepasmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya