Perlahan tapi pasti kehidupan akan terus berjalan, begitu juga rasa sayangku yang tak mampu ku tahan-tahan. Tanpa kenal lelah aku berjuang, untuk dirimu yang selalu membayang.

Sudah lama kita berpisah, tapi rasa sakitnya masih terasa basah. Sebenarnya beberapa kejadian membuat luka kering, namun kenangan sering kali mengajak tubuh ini untuk berbaring.

Aku rajin merapal doa agar Tuhan menjadikanmu takdir, tapi apa daya hanya sebatas dibibir.

Semakin hari rasa sayang ini semakin mendalam, tanpa kusadari hatiku pun mulai terendam. Sempat terpikir untuk mencari dermaga yang baru, namun kenangan 21 Oktober membuatku terharu.

Kau anggap aku sebagai penganggu seperti lalat, tapi apakah kau ingat kita pernah berbagi keringat? Kau memang cantik, namun sikapmu berkali-kali membuat hatiku tercekik.

Advertisement

Terkadang sikapmu membuatku bingung, hingga aku kau buat linglung, bertahun pula hatiku kau gantung. Kita pernah berbagi ludah, kini kau pandai bersilat lidah.

Aku tidak akan menganggumu, atau punya niat berusaha sekali lagi menggenggammu. Di sana kamu sudah menemukan teman hidup, yang tak pernah membuat harimu redup. Sekarang aku bisa melihat senyum, berbeda dulu denganku kamu lebih sering manyun.

Salamkan pesanku untuk dia, dia yang sudah berhasil membuatmu bahagia. Sempat aku meminta Tuhan diberi amnesia, nyatanya aku hanya manusia. Yang tak bisa melupakan semua dengan mudah, dirimu yang pernah singgah.

Mungkin Tuhan hanya ingin melihat kita bersatu untuk belajar, bukan membahagiakan.