Tak ada seorang pun yang dapat mengendalikan kadar cinta dalam hati seperti “aku akan mencintainya sewajarnya saja”, pun tak ada yang bisa membuat hati dan pikiran berjabat tangan tanda setuju. Melepaskan seseorang dari pandangan dan menjadikannya asing adalah pertarungan antara hati dan pikiran. Bukannya pantang menyerah, hanya saja aku tahu ini saatnya tuk melepaskan.

Ku yakin ini yang terbaik, untukku setidaknya. Terlalu lelah aku dipermainkan harapan dalam ketidakpastian. Kau adalah sebuah pelajaran bagiku. Keberadaanmu membuat aku mafhum akan salah satu warna dalam hidup ini, cinta. Sekarang aku tahu, mencoba melepaskan seseorang seperti menikam hati sendiri.

Advertisement

Aku seperti berpura-pura dengan diri ku sendiri. Aku selalu melarikan diri dari memandang mata mu dan sering tak ku berikan umpan balik perkataanmu seperti orang di sekitar kita lakukan. Aku tidak tahu harus mengatakan apa, pun jika telah ku pikirkan tuk mengatakan apa, aku takut jika keluar dengan suara gugup. Aku tiba-tiba saja jadi pendiam, berharap kau sadar bahwa aku telah memohon pamit. Hatiku seakan ikut serta dalam perlombaan, sebab aku harus terus memberikannya dorongan seperti “tidak apa-apa, hari ini kau sudah melakukan yang terbaik”.

Pada akhirnya, aku gagal. Tak terjadi perkembangan apapun padaku. Bukan terlihat seperti orang yang hilang perasaannya, justru aku tampak kacau, bahkan terlihat menyedihkan di mata orang-orang yang mengetahui cerita antara kita. Dan aku sadar bahwa aku salah. Kau adalah hal yang harus ku hadapi bukan tuk dihindari.

Keberanian sedikit demi sedikit ku tanam, semoga saja aku bisa memanennya dengan berhasilnya perjuangan melepasmu. Aku memulainya dengan menatap kedua matamu. Semoga saja ketika mata kita bertemu, aku tidak jatuh cinta lagi tuk kesekian kali. Menimpali perkataanmu adalah hal yang selanjutnya ku hadapi, meski hanya sekedar tawa. Butuh proses untuk memiliki hati yang baru. Dan akhirnya aku membiarkan waktu mengambil alih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya