Pertemuan kita teramat singkat. Sesingkat detakan jam yang kian mengikis pikiran dan membuat kita bertanya risau, "Ke mana saja waktu, berlalu begitu saja tanpa disadari. " Ya, seperti itulah pertemuan kita. Namun ada satu hal yang berbeda, singkatnya pertemuan itu menyisahkan banyak pelajaran dan pertanyaan yang tak kunjung usai. Hingga sampai detik ini, aku dilanda demam rindu berkepanjangan.


Kupikir, hanya cinta pertama yang tak bisa dihapuskan. Nyatanya, ada satu rasa yang juga tak bisa dihapuskan hanya karena sebuah obrolan.


Advertisement

Pertemuan kita memang cukup unik, tidak diwarnai dengan obrolan ringan dan santai. Tapi melainkan sebuah obrolan universal yang bisa membangkitkan jiwaku yang sedang tertidur pulas di atas hutan-hutan beton, gelumat transportasi, dan gemerlapnya dunia.

Kau orang pertama di antara ratusan juta manusia di muka bumi, puluhan juta manusia di Nusantara, ratusan orang yang pernah ku lihat, puluhan orang yang pernah kukenal, dan satu sahabat yang kumili, yang berbeda dan tak pernah ku duga.

Kau mengajarkan banyak hal, tak ada cela buruk yang kulihat dari sisi manapun dalam dirimu. Entahlah, mungkin karena pertemuan kita yang terlalu singkat. Namun kejujuranku tak mungkin bisa aku dustai. Ucapanmu adalah doa. Kata-katamu adalah sumber mata air. Kalimatmu adalah makanan jiwa. Tak ada satupun perkataanmu yang bisa aku ingkari. Dihadapanmu aku layaknya kura-kura yang kehilangan tempurung, ikan yang berenang di air keruh, dan burung yang kehilangan arah mata angin.

Advertisement

Kau ajarkan aku banyak hal hanya dengan melalui obrolan singkat kita. Tingkah sederhana lakumu yang membuatku kagum. Dari hal-hal sederhana yang tak pernah kulihat dari siapapun yang pernah ku kenal. Sungguh, sikapmu sangat terpuji.


Kita saling bertukar cerita kehidupan. Syukurlah, kita memiliki banyak kesamaan. Latar belakangmu tak jauh berbeda dariku. Kita insan yang terbentuk dari ketidakadilan hidup.


Meskipun begitu, kau membimbingku dan memintaku untuk mensyukuri segala hal, namun disertai dengan kerja keras. Kau mengajakku untuk menjadi manusia yang seutuhnya, memilih jalan yang sesungguhnya. Memang, aku salah jika aku terlalu mengaggumi ucapan dan tingkah lakumu itu. Karena kau hanyalah manusia biasa, yang hanya saja berhati malaikat.


Andai saja pertemuan kita jauh lebih lama, dan andai saja ada pertemuan ketiga, keempat dan seterusnya, mungkin aku tidak akan menjalani takdirku saat ini. Menjalani kesalahan dan kebodohan yang pernah kuperbuat.


Mungkin inilah Tuhan menguji umatnya, dia selalu memberikan kita pilihan. Jika kita menunda-nunda dan tidak berani mengambil keputusan, maka Tuhan akan menuntun kita ke jalan yang salah. Dan begitu juga jika kita sudah memutuskan untuk memilih, jika pilihan itu adalah kebaikan maka Tuhan serta merta akan mengiringi jalan hidup kita.


Dari sini, aku jadi belajar banyak hal. Setiap hari aku dihantui penyesalan atas kebodohanku dan sikapku yang tidak memiliki pendirian. Aku terlena dengan kenyamanan sesaat yang tidak seberapa. Yang akhirnya berujung dengan perasaan yang tidak tenang. Aku seolah dihukum oleh kehidupan.


Dan untukmu, bagaimana kabarmu sekarang? Kuharap kau baik-baik saja, tapi kuyakin kau pasti baik-baik saja. Andai kau tahu, aku ingin sekali bertemu denganmu, berbagi kisah dan mengungkapkan penyesalanku di hadapanmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya