Cinta, aku tidak tahu ini sekedar pertemuan atau mempersatukan. Sejak pertama aku bertemu denganmu, rasa ingin memiliki lebih besar. Rasa ingin melindungi dan rasa ingin mencintaimu begitu tulus mengalir. Senyum manis di wajah indahmu membuatku bahagia.

Kau teman kakakku atau lebih tepatnya sahabat kakakku, tapi aku mencintaimu. Walau aku tahu ini salah, walau aku tahu perasaan ini benar-benar salah namun aku tidak peduli soal itu.

Advertisement

Aneh memang, marga kita menjadi permasalahan sedangkan dalam agama kita tidak pernah menjelaskan itu, ‌Dik, aku menyayangimu. Aku sangat menyayangimu. Namun kata "sayang" tidak hanya sekedar kata, tapi butuh tanggung jawab yang begitu besar. Tapi aku sakit di sini, memendam rasa cinta dan aku percaya kau mempunyai rasa yang sama.

Tapi kenapa takdir begitu kejam? Teganya mereka memisahkan kita, teganya mereka hanya mempertemukan kita tanpa mempersatukan?

Namun rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan. Rasa sakit dari ibumu, yang ingin kau bersanding dengan lelaki itu, lelaki pilihannya. Tanpa rasa cinta dan tanpa rasa setuju.

Advertisement

Dik, jika kau kelak menikah dengan lelaki itu, aku tidak tahu harus apa. Jika kau melihat bunga ucapan selamat di depan rumahmu, itu bunga dariku yang terlambat memilikimu.

Kelak jika kita bertemu kembali, jangan kau bersedih. Jangan kau tampakan air mata dari mata indahmu. Berikan aku senyuman bahagiamu, agar aku tak menangis di sini. Aku terkadang benci pertemuan tanpa mempersatukan tapi aku tidak pernah sedikitpun membenci pertemuan kita.

Dari aku yang mencintaimu namun tidak mampu memilikimu di sisiku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya