Saat ini isu perselingkuhan sering menjadi bahan utama untuk menjadi perbincangan dari kaum artis sampai masyarakat biasa, apakah berhak kita sebagai orang luar untuk menghakimi atau mengklaim itu benar atau itu salah, padahal sungguh kita tidak ada satupun yang mengetahui akar permasalahan yang mereka hadapi dalam situasi keluarga mereka.

Banyak contoh yang mudah sekali kita temui dalam media sosial, yang terbaru saat ini ada perceraian salah satu artis dan istrinya, sungguh bukanlah waktu yang sebentar dengan anak – anak. Bukanlah sesuatu yang pasti akan mudah untuk mengambil keputusan, menikahi pasangan dari bawah sebelum terkenal sampai menjadi orang hebat dan terkenal saat ini. Apakah mungkin kita bisa sembarangan meninggalkan keluarga?

Apapun alasannya, perselingkuhan tetaplah salah secara norma agama dan budaya. Tetapi kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Semua orang berhak untuk memilih bukan? Setiap orang berhak untuk mendapatkan kebahagiaan, bahkan saat ini kita tidak ada yang mengetahui apa yang dialami oleh mereka dalam pernikahan.

Hal tersebut tentunya tidak membuat kita menjadi dewa yang bisa menilai baik atau buruk pilihan yang dihadapi orang lain. Sementara pada kasusnya, pastilah ada yang mengecewakan dan pasti ada yang merasa dikecewakan. Siapapun itu, mau menikah 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun atau 50 tahun, selama kita masih hidup dan bernafas, kita berhak untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk diri kita sendiri.

Dalam pernikahan, anak merupakan sumber kekuatan orang tua. Lebih mudah untuk mengurangi rasa egois agar mereka tetap tumbuh dengan sempurna. Tapi pertanyaannya,

Apakah kita akan selalu mengajari mereka dengan kepura-puraan, berpura-pura kita berbahagia, berpura-pura saling mencinta?

Saya yakin anak juga akan sangat merasakan apa yang terjadi kepada orang tuanya. Jika dihadapkan pada pilihan, mereka pasti akan memilih untuk melihat orang tua mereka selalu dekat dan bersama terutama saat mereka masih kecil dan belum banyak mengerti apa – apa tentang kehidupan. Tapi saat mereka dewasa, akhirnya mereka akan mulai mengerti apa yang terjadi kepada orang tuanya.

Memasuki tahap pilihan, apakah nanti tidak akan menyesal?
Tentu saja semua pilihan seperti memiliki dua hasil akan baik atau buruk. Tidak masalah apapun hasilnya dan tidak perlu disesali karena itulah yang dinamakan proses. Tetapi dalam keputusan apapun yang kita ambil jangan sampai kita menjadi pengecut, yang pergi dan meninggalkan.

Bagi saya keputusan untuk berpisah, bukan berarti memutuskan tali silaturahmi atau kekeluargaan. Itulah yang sebenarnya butuh kelapangan hati dalam mengatasi semua konflik dan emosi dalam hubungan berumah tangga.

Pada akhirnya semua orang saat menikah akan memiliki mimpi yang indah.

Adanya rasa sayang dan rasa cinta. Tapi ingat, rasa itu bukan rasa yang tetap dan pasti.
Rasa itu yang perlu dipertahankan, dijaga, dan dibumbui agar tidak hilang termakan waktu dan kekecewaan.

Jadi untuk pasangan yang akan menikah, sebenarnya itulah adalah komitmen untuk saling berusaha, terus dicintai, terus dipertahankan dan jangan sampai tergantikan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya