Ayah, aku selalu merasakan jiwamu ada disini. Di sisiku dan membantu menyokong pundak yang lemah, keyakinan itu terlalu besar untuk merasakan bahwa kau benar–benar tidak akan hilang. Meski sering aku berbohong dan berpura-pura tidak mengingatmu, tapi kebohongan itu rasanya mustahil. Aku selalu mencampuri kehidupanku dengan mengingat semua tentangmu.

Berulang kali, kau menguatkan dan menopang segala keluhan yang aku laporkan. Meski saat itu belum banyak masalah yang harus aku jalankan, tapi sekilas pesanmu selalu teringat. Untuk terus kuat dan teguh disuatu keputusan. Begitu pun tanggung jawab yang telah aku tetapkan. Sedemikian rupa cara, harus dipertahankan. Bukan persoalan egois dan tidak menerima masukan dari orang lain. Tapi yang dimaksud adalah setiap keputusan, harus berani menanggung resikonya. Entah itu kondisi baik atau buruk nantinya.

Advertisement

Seharusnya aku kuat menanggung keputusan yang telah aku tetapkan. Tanpamu, seharusnya aku mampu terus bergerak tanpa mengubah keadaan. Nyatanya, tanpamu membuat aku tidak baik-baik saja. Aku katakan sekali lagi, tanpamu membuatku tidak baik-baik saja.

Bergelut segala pemikiran dan keyakinan perihal kekuatan, tapi itu hanyalah sia-sia. Berulang kali berkata pada diri sendiri “Kamu akan kuat!" Nyatanya hanyalah percuma. Ketika keadaan sedang menegurku dengan kejadian yang menghantam, mudah aku tersungkur sampai berdarah-darah menghadapinya.

Kepedihan yang terpendam. Bahkan sering pula aku merongrong emosi untuk melawan prakara yang ada. Sebenarnya itu bukanlah suatu hal yang bijaksana. Tapi hatiku mudah terbakar yang setelahnya bersedih tak karuan.

Advertisement

Ayah, aku ingat betul pesan baik mengenai kesabaran dan lembut sikap yang mendinginkan. Tapi, entah diakhir-akhir ini aku lebih tersiram minyak tanah yang rawan jika tersulut api. Aku menembus kaca persoalan dengan menghantamnya dengan emosi yang meledak-ledak. Aku tahu, malah akan membuat retak keadaan atau bahkan bisa membuat hancur menjadi kepingan. Aku tidak kuat, Ayah. Menembus persoalan dengan sikap yang kuat dan tetap sabar. Seakan hanya memakan waktuku saja. Pernah merasakan bom atom yang meledak berbalik ke arah tubuhku, itu karena aku sendiri yang melemparnya. Namun akhirnya hanya kesedihan yang kembali menyapa.

Kenapa kau sekuat itu? Kuat hatimu menjadi seseorang yang tabah dan sabar, bahkan mampu berbuat lembut pada seseorang yang sudah jelas membuatmu terperosok dalam?

Ayah, bantu aku mampu bisa sepertimu. Menghindari emosi dan tetap bersikap baik kepada mereka yang jelas mendorong hingga aku terseret berdarah-darah. Aku tahu, bukannya kau lemah dan tidak berdaya. Tapi sikap lembutmu yang akan mengalahkan kesadaran mereka. Ayah, bantu aku. Tidak ingin rasanya memiliki sikap dendam atau bahkan amarah yang akan membakar habis seluruh tubuhku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya