"Kasih ibu kepada beta.. tak terhingga sepanjang masa.. hanya memberi tak harap kembali.. bagai sang surya menyinari dunia"


 

Advertisement


Satu..satu.. aku sayang ibu

Dua..dua.. juga sayang ayah

Tiga..tiga.. sayang adik kakak

Advertisement

Satu..dua.. tiga.. sayang semuanya


Aku percaya ayah dan ibuku bangga denganku. Aku percaya mereka juga bersuka cita saat tahu ada janin di rahim ibu, yang setiap hari selama sembilan bulan lamanya aku dinantikan lahir ke dunia. Dan aku percaya mereka tetap sabar menghadapi kenakalanku di masa kecil hingga aku dewasa. Mungkin sampai hayat menutup mata. Kasih sayang orang tua tiada duanya, tidak tergantikan dengan apapun.

Tapi dengan perhatian dan sedikit waktu yang kita berikan kepada mereka di masa tuanya, mereka sudah merasa bangga terhadap kita. Meski kadang tidak sengaja maupun disengaja kita lalai dan menyakiti mereka, mereka tetap sayang kepada kita.

Aku terlahir dari kedua orang tua yang biasa saja dan bahkan sangat sederhana. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga dan ayahku buruh pabrik yang dulu menjabat sebagai kepala koperasi. Jabatan itu sedikit terpandang bagi buruh di pabrik itu.


Tapi sayang, ayahku kurang amanah dengan jabatan yang ia pegang. Judi jadi penyebabnya. 


Ayahku adalah seorang sarjana yang gagal karena ayah tidak menyelesaikan kuliahnya. Itu adalah masa silam, masa di mana ego lebih tinggi dari segalanya. Ayah tidak suka dipaksa, mungkin ayah akan ikut dengan sebuah perintah, tapi dengan sengaja ayah akan tinggalkan begitu saja. Itulah mengapa ayah tidak menyelesaikan kuliahnya. Tapi setelah ayah hidup di perantauan, jauh dari orang tua, ayah sadar betapa pentingnya pendidikan, andai saja ayah jadi sarjana ayah tidak akan jadi buruh pabrik dengan sangat terpaksa. 

Semua itu disesali ayahku dan ayah berubah jadi semakin buruk. Setiap hari hanya judi yang dilakukannya, gaji tak pernah lagi sampai ke tangan ibu, setiap malam hanya pertengkaran yang terdengar,  perhiasan ibu di rampas, uang simpanan ibu pun diambil untuk judi. Setelah semua habis.. uang perusahaan pun ikut dijadikan taruhan dalam perjudian itu. Bahkan hal yang paling buruk terjadi, saat kakek dan nenek tahu ulah ayah, yang pada akhirnya mereka mengganti kerugian akibat ayah. Dan itu tidak hanya sekali saja.

Perlahan ayah berubah, ayah tinggalkan semua tentang judi. Ayah berubah jadi sosok yang romantis terhadap kami anaknya, terlebih lagi aku satu-satunya anak perempuannya. Ayah begitu manis, lembut suaranya, tidak lagi terdengar suara pertengkaran di siang maupun malam hari. Semua jadi indah. Di kantor ayah jadi lebih baik, gaji selalu diberikan ke ibu, perhiasan ibu yang dulu dirampas sudah digantikan dengan yang baru. 

Seiring waktu berjalan, kami pun tumbuh menjadi dewasa, mengerti banyak hal, mengerti bahasa tubuh orang lain. Kebaikan ayah tercium oleh perempuan penggoda di luar sana, ayah pun kembali tergoda dengan rayuannya. Ayah berubah (lagi).

Ibuku adalah wanita paling baik sedunia, paling sabar dan pemaaf. Kerap ibu mendengar isu dari tetangga tentang hubungan ayah dengan perempuan itu, tapi ibu tidak percaya selama ibu tidak mendengar pengakuan ayah. Sesekali ibu beranikan diri bertanya langsung ke ayah, mendengar jawaban ayah "tidak" ibu pun percaya. Tapi kami tidak, kami anak-anaknya tidak percaya karena memang pernah terlihat oleh mata kami ayah menghabiskan waktu dengan perempuan itu. 

Sebagai anak yang sudah menjadi sosok yang dewasa, jelas kami malu. Jelas kami marah pada ayah, pada ibu pun kami marah karena begitu mudahnya percaya dengan ayah, karena masih saja selalu punya maaf untuk ayah.

Kami hanya bisa marah dan malu. Kasih sayang ibu lah yang mengajarkan kami untuk bersikap baik terhadap orang tua maupun orang lain. Di luar sana banyak anak-anak dari keluarga broken home yang berubah jadi brutal dan tak terkendali. Bukan tentang siapa yang salah, tapi ego yang tinggi dapat membawa kehancuran dan kriminal.

Alhamdulillah kami masih punya stok topeng untuk menutupi wajah dari gunjingan orang di sekeliling tempat tinggal kami. Meski itu topeng terakhir yang kupunya bahkan sudah hampir hancur, lagi-lagi kasih sayang dan cinta ibu lah yang mengobati kami. Ibu mengajarkan kami cara untuk selalu dan terus memaafkan serta mendoakan orang yang sudah menyakiti kami. Ibu tetap mempertahankan keluarganya, ibu tidak mau pisah walau seribu kesalahan yang sering dilakukan ayah, tapi ibu punya seribu satu kesabaran untuk memaafkan ayah. 

Di lingkungan pertemananku begitu juga kakak dan adikku, kami jelas malu. Rasanya semua orang mengetahui cerita tentang keluarga kami.

Tapi, kalau bukan kami anak-anaknya dan kalau bukan ibu yang jadi istrinya, mungkin saja ayah sudah hidup bebas dengan wanita itu atau  mungkin ayah sudah hidup sendiri tanpa kasih sayang dari keluarga.. 

Biar bagaimanapun dia tetaplah Ayahku, tetap lah pahlawanku. Kalau bukan aku lalu siapa lagi yang menyebutnya pahlawan? Siapa lagi yang memanggilnya ayah?

Seburuk apapun ayah, dia tetaplah Ayahku, orang tuaku, dan aku akan tetap cinta padanya.

Dan aku yakin Ayah pun demikian terhadap aku.


Ayah meskipun kini engkau tua dan renta, meskipun cerita semasa hidup ayah banyak hal buruk yang ayah lakukan, aku akan jadi orang pertama jika ada orang lain yang menyakiti ayah dan ibu, aku akan jadi nomor satu yang selalu membela kalian. Terima kasih ayah, terima kasih ibu, terima kasih karena kalian telah mengajarkan kami tentang ketulusan dan kasih sayang.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya