Britain atau yang dikenal Britania Raya (The Great Britain) merupakan sebuah negara kesatuan yang diatur di bawah pemerintahan monarki konstitusional dan sistem parlementer. Terdapat empat negara dalam kedaulatan Britania Raya yang masing-masingnya berdiri sendiri, antara lain Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia dan Wales. Pembahasan mengenai Britain sangat kompleks dengan berbagai hal termasuk keberagaman budaya. Salah satu pembahasan budaya yang menarik dari Britain, yaitu kebiasaan masyarakat minum teh yang telah menjadi tradisi sejak bertahun-tahun lamanya.

Mengambil referensi dari film berjudul “Asterix & Obelix: God Save Britannia”, yang disutradarai oleh Laurent Tirard, telah direpresentasikan betapa sakralnya minum teh bagi masyarakat Inggris. Diceritakan dalam adegan film tersebut, ketika tiba waktu pukul 5 sore hari, semua orang tidak melakukan aktifitas lain selain menyajikan dan menikmati secangkir air panas yang dibumbui daun teh. Bahkan juga diadegankan seorang wanita hamil yang sedang melahirkan pun, sejenak menyempatkan waktunya untuk mendapatkan secangkir teh di sela waktu proses kelahiran bayinya.

Advertisement

Referensi lainnya mengenai budaya teh di Britain juga terdapat dalam sebuah lirik lagu berjudul I’m an Englishman in New York, karya Gordon Matthew Thomas Sumner, atau yang dikenal dengan nama panggungnya, Sting. Disampaikan pada bait awal lagu tersebut, yaitu “I don’t drink coffee, I take tea my dear, I like my toast done on one side. And you can hear it in my accent when I talk, I'm an Englishman in New York …“. Sting menyampaikan bahwa ia merupakan seorang pria Inggris yang tidak meminum kopi, tetapi memilih teh yang disuguhkan dengan hidangan roti. Pernyataan itu pun merepresentasikan bahwa minum teh menjadi bagian dari budaya yang telah melekat.

Pada penjelasan di atas dapat diasumsikan bahwa terdapat tradisi minum teh di Britain, yang kemudian menjadi budaya lokal yang merekat kuat pada masyarakatnya. Pembahasan mengenai budaya minum teh ini pun menjadi menarik untuk ditelusuri lebih jauh sebagai pembelajaran di samping masyarakat terus mengalami perkembangan hingga pada perubahan budaya. Pada pembahasan ini pun terdapat penjelasan mengenai budaya minum teh yang disampaikan langsung oleh dua warga asli Inggris dan seorang pelajar asal Indonesia yang kini berada di kota Cambridge, Inggris, sebagai narasumber dalam tulisan ini.

Tamtowi Jauhari atau dipanggil Thio, seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh studi di St. Andrew’s College, Cambridge, Inggris. Beberapa hari lalu gagasan mengenai tulisan ini muncul ketika melihat postingan foto di media sosial dari akun Instagram Thio (@Thioalmacero). Thio sedang berpose bersama keempat temannya sesaat setelah menikmati secangkir teh yang disuguhkan dengan beberapa sajian makanan di sebuah Tea House yang berlokasi di Ely, Cambridgeshire, Inggris. Dari momen itu, keterangan yang diberikan Thio menjelaskan bahwa ia meluangkan waktu bersantai bersama keempat temannya sekaligus mengenal lebih dekat keadaan kota dan masyarakat setempat.

Advertisement

Pada kesempatan lain membahas budaya minum teh, Thio turut mewawancarai dua warga asli Inggris sebagai narasumber untuk memberikan penjelasan secara langsung. Kedua narasumber tersebut yaitu Richard dan Ben, adalah pengajar di kampus tempat Thio menempuh studi saat ini. Berdasarkan keterangan dari Richard, ia menjelaskan bahwa orang Inggris memiliki budaya minum teh yang sudah sangat populer selama bertahun-tahun lalu. Bahkan dapat dikatakan bahwa Inggris sebagai negara peminum teh jika melihat kembali jauh pada bertahun-tahun lalu. Richard pun menegaskan bahwa budaya minum teh yang dilakukan orang inggris saat itu sangat serius.

Lanjutnya, perkembangan zaman saat ini telah mempengaruhi perubahan budaya secara modern, seperti pola kehidupan yang jauh lebih cepat dan semakin banyak orang bekerja, sehingga tidak banyak waktu untuk duduk dan bersantai dengan secangkir teh bersama keluarga atau teman-teman setiap harinya. Richard masih meyakini bahwa tingkat esensi teh sejauh ini tidak terlalu banyak mengalami perubahan.

Budaya minum teh masih tetap terjaga, terdapat waktu tertentu untuk minum teh, seperti pada pagi dan sore hari. Minum teh pada pagi hari biasanya dilakukan oleh orang-orang Inggris untuk mengumpulkan semangat beraktifitas di tempat kerja, toko-toko atau pusat perbelanjaan. Sedangkan minum sore hari akan lebih sering dilakukan di rumah bersama keluarga atau teman-teman.

Richard mengatakan kemajuan teknologi mengubah budaya melalui modernisasi. Berbagai kesibukan pekerjaan masyarakat telah menggeser waktu untuk menikmati teh bersama, yang saat ini kemungkinan hanya dapat dilakukan pada setiap akhir pekan saja. Meskipun demikian, Richard menyadari bahwa saat ini budaya tak terbatas oleh suatu hal tertentu, selain minum the, di sisi lain minum kopi juga menjadi bagian dari keseharian masyarakat saat ini.

Richard sebagai orang Inggris pun mengaku lebih sering minum kopi daripada teh, walaupun sesekali kadang ia tiba-tiba ingin menikmati secangkir teh yang menurutnya memang memiliki kenikmatan tersendiri yang belum dapat tergantikan sama sekali.

Penjelasan lain dari Ben. Ditanyakan mengenai budaya dan popularitas teh di Britain, Ben menjelaskan minum teh merupakan bagian dari budaya lokal yang sangat kuat, namun sebenarnya juga aneh karena teh tidak berasal dari Inggris. Menganggap teh sebagai minuman nasional atau khas Britain merupakan suatu kejanggalan, yang notabene tanaman teh tidak tumbuh di daratan Britain, tetapi itulah yang terjadi bahwa teh telah menjadi budaya di masyarakat Britain.

Masyarakat Britain sangat familiar dengan istilah seperti tea-time, morning tea, dan afternoon-tea, selain itu juga terdapat ungakapan bahasa inggris yang menyangkutpautkan teh sebagai pernyataan ekspresif dalam percakapan sehari-hari, salah satunya seperti, “It’s not my cup of tea”, yang berarti “itu bukan kesukaanku atau bagianku”.

Terdapat banyak jenis teh yang bisa ditemukan di Britain. Menurut Ben bahwa setiap situasi sosial masyarakat lokal akan selalu dimulai dengan menikmati secangkir teh bersama. Biasanya secara khusus aktifitas minum teh bersama menjadi bagian dari sosialisasi masyarakat setempat. Ben termasuk seorang maniak teh, yang meminum semua jenis teh.

Salah satu yang ia sukai, yaitu Builder's tea, biasanya dikenal orang Inggris dengan sebutan Builder’s brew, merupakan jenis teh yang kuat secara karakter dan biasanya dicampuri susu. Secara umum teh tersebut disajikan dengan roti pada pagi hari sebagai sarapan ala masyarakat Inggris, ungkap Ben. Selain itu Ben juga meminum teh herbal, seperti jenis Chamomile dan Peppermint, yang menurutnya, jenis teh tersebut cocok dikonsumsi untuk menjaga kesehatannya.

Ben mengatakan perkembangan saat ini memang membawa perubahan, penikmat teh di Britain nampaknya tidak sebanyak dulu, karena orang-orang juga mulai menikmati kopi, namun teh tetaplah menjadi bagian dari budaya lokal dan memiliki ceritanya sendiri. Ditambahkan Thio, bahwa eksistensi teh di Britain sangatlah kuat. Pada dasarnya teh adalah bagian dari budaya yang berbarengan dengan gaya hidup masyarakat Britain dari bertahun-tahun lalu sampai saat ini. Sehingga menurutnya, menikmati teh bersama masyarakat lokal merupakan hal yang istimewa dan patut dicoba. So, don't say that it’s not my cup of tea!

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

***

REFERENSI


  • Film: Tirard, L. (Sutradara) 2012. Asterix & Obelix: God Save Britannia. Fidélité Films, Wild Bunch, France. 110 minutes.

  • Lirik Lagu: Sumner, G. Matthew (Musisi & Penulis Lagu) 1987. I’m an Englishman in New York. Associated Independent Recording (AIR) Studios, Montserrat. A&M Label, United States.

  • Internet:

    • https://en.wikipedia.org/wiki/Great_Britain

    • https://id.wikipedia.org/wiki/Britania_Raya



Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya