Setiap hari Indonesia dan Malaysia selalu bersaing untuk menjadi siapa yang terbaik, bahkan sampai menimbulkan konflik. Tetapi, tanpa sadar kita sebagai bangsa Indonesia ternyata mulai tertinggal dari berbagai aspek, dan tentunya menjadi motivasi kita untuk berbenah daripada ribut terus.

Mendengar Malaysia, tentunya kita sebagai masyarakat Indonesia masih memiliki stigma negatif terhadap negara tetangga kita ini. Banyak dari kita yang menilai bahwa Malaysia adalah negara yang seringkali melakukan klaim budaya-budaya yang dimiliki oleh Indonesia, Negara kaleng-kaleng karena tidak mempunyai sejarah kemerdekaan yang lebih hebat dari Indonesia dan kemerdekaannya merupakan pemberian dari Inggris, sampai menilai bahwa Malaysia adalah negara yang mengalami krisis identitas.

Advertisement

Mendengar Malaysia saja sudah membuat panas sebagian masyarakat Indonesia. Unjuk rasa menentang Malaysia mengenai masalah-masalah seperti pengakuan budaya, masalah perbatasan, dan lainnya masih terus saja bermunculan di banyak tempat. Padahal, jika terus mengalami konfrontasi seperti ini, baik Indonesia maupun Malaysia sama sekali tidak diuntungkan.

Malaysia dan Indonesia memang merupakan saingan abadi. Dikarenakan faktor geografis yang mirip-mirip, bahkan budaya yang sama, dua negara ini terus menciptakan inovasi untuk menunjukkan siapa yang terbaik di Asia Tenggara. Tetapi permasalahannya, sepertinya karena Indonesia terlalu sering mengomentari Malaysia, kita sebagai bangsa Indonesia lupa untuk memperbaiki diri dan tidak menyadari bahwa sekarang Malaysia terus berbenah untuk menjadi Negara yang lebih unggul dibanding Indonesia.

Malaysia semakin hari terus mengembangkan berbagai sektor yang mereka punya seperti pendidikan, pariwisata, politik, dan ekonomi serta infrastruktur. Indonesia pun demikian, tetapi nyatanya Malaysia lebih masif untuk mengembangkan negaranya di berbagai bidang di banding Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

Advertisement

Contohnya dalam bidang pendidikan tinggi misalnya. Universitas-universitas di Indonesia selalu menggaungkan slogan ‘The World Class Univerisity’ atau ‘Universitas Terbaik di Asia’, tetapi slogan tersebut kalau menurut Wannofri Samry, Dosen Universitas Andalas, hanyalah nyanyian vokal yang tidak jelas bunyi awal dan akhirnya. Nyanyian itu indah didengar dan dibayangkan, tetapi buruk dilihat dan pahit dirasakan. Realitasnya, universitas-universitas di Indonesia tidak pernah menduduki peringkat puncak di Asia, bahkan di Asia Tenggara.

Tetapi Malaysia mampu menembus 100 universitas terbaik di dunia dengan Universitas tertuanya, Universiti Malaya, yang sekarang juga menduduki universitas terbaik ketiga di Asia Tenggara menurut QS Top Univeristy. Perguruan Tinggi di Malaysia seperti UM, Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Putra Malaysia, Universiti Sains Malaysia, mendominasi sebagai Universitas terbaik di Asia Tenggara.

Sedangkan universitas terbaik kita, Universitas Indonesia, turun peringkat di tahun 2019 ini menjadi peringkat 292 di ranking dunia. Hal tersebut menunujukkan bahwa Malaysia benar-benar serius dalam meningkatkan mutu pendidikan di negaranya dalam 5 tahun terakhir dibanding Indonesia yang grafiknya malah semakin menurun.

Selain pendidikan tinggi, ternyata destinasi wisatapun juga menjadi sorotan. Jika melihat dari penilaian subyektif, tentu kita pasti memahami bahwa Indonesia selalu yang terbaik dalam aspek pariwisata dengan keanekaragaman destinasi wisata di Indonesia yang lebih unggul dibanding Malaysia. Tetapi jika kita cermati, keadaanya justru adalah sebaliknya. Malaysia sebagai Negara yang ingin mengembangkan pariwisata juga bisa mendatangkan turis dalam jumlah  yang banyak.

Dengan destinasi wisata yang dikembangkan dengan stragtegis dan pengembangan infrastruktur yang tepat, salah satunya dengan membangun MRT yang berhenti tepat di tempat wisata, Negara Malaysia bisa berbangga karena berdasarkan data yang dilansir dari CNN, Euromonitor Internasional, penyedia data bisnis untuk industri asal London, menempatkan Kuala Lumpur sebagai kota dengan jumlah kunjungan turis asing paling tinggi ke sepuluh di dunia, yaitu 11,63 juta orang setiap tahunnya.

Dari 25 kota yang dipaparkan Euromonitor, tidak disebutkan satu pun kota atau destinasi wisata dari Indonesia. Kekalahan ini harus disadari indonesia karena sebenarnya Indonesia bisa mempunyai potensi menghadirkan turis jauh lebih banyak dibanding Hongkong sekalipun, jika pemerintah bisa memaksimalkan potensi pariwisata yang sudah ada, seperti Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumba, Pulau Sumbawa, Pulau Flores, Pulau Komodo, Pulau Bunaken, Pulau Wah, Pulau Bangka, Pulau Belitung, dan puluhan ribu pulau lainnya.

Kemudian dari segi transportasi umum, Malaysia juga ternyata juga sudah berbenah lebih awal dibanding Indonesia. Hal ini terlihat dari MRT Malaysia yang sudah beroperasi sejak Desember 2016 lalu, dengan jalur yang melewati Sungai Buloh – Kajang, atau disingkat MRT SBK. MRT ini bisa berhenti di tempat-tempat strategis di Kuala Lumpur seperti KL Sentral, Pasar Seni, Musium Nasional, dan Bukit Bintang, sehingga bisa meningkatkan jumlah turis dengan signifikan.

Sedangkan Indonesia masih mengejar ketertinggalan dengan menargetkan MRT Jakarta bisa beroperasi di 2019. Walaupun LRT di Palembang sudah beroperasi sejak Asian Games 2018.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya