Angin masih bertiup kencang di luar. Ia menerbangkan debu, dan juga dedaunan, menyapu bersih setiap inci halaman sekolah, yang pagarnya terbuat dari bambu, nampak sudah tidak lagi kokoh di sana itu. Sudah lama tidak terlihat lagi bunga-bunga indah berhadap-hadapan di dalamnya. Musim kemarau kali ini terasa sedikit lebih lama dan lebih ganas dari biasanya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, setidaknya tanaman hias bongsai di depan kantor Kepala Sekolah masih terlihat dalam keadaan setengah hidup di sana.

Detik berkumpul menjadi menit, menit berkumpul menjadi 60 menit; konon, orang-orang biasa menyebutnya sejam. Sementara dari luar, matahari pagi hangat dengan cepat kini berubah begitu angkuh menyengat. Dan saat ini jam diding sudah menunjuk jarumnya pada angka 10, pertanda tidak lama lagi akan istirahat. Kalau bukanlah karena sebuah kipas angin tua menempel pada dinding dalam ruangan kelas III IPS 1 itu, sudah pasti ada acara buka-bukaan dada siswa laki-laki. Atau bahkan mencingkrang ujung celana, yang katanya mirib gaya Wahabi itu, lantaran tak sanggup menahan secuil saja hawa panas dunia.

Andi merupakan salah seorang siswa yang terkenal dengan kenakalannya. Berbeda dengan Rudi yang terlihat lebih kalem dan pintar. Keduanya sama-sama populer meski dengan jalan yang berbeda. Mereka adalah sahabat dari kecil yang sekarang sudah mulai tidak akur semenjak tragedi itu. Kejadian yang tidak diketahui oleh seorang manusia pun kecuali hanya mereka berdua. Namun begitu, keduanya terperangkap dalam satu kelas.

“Di, bangun Di!” Noval menepuk bahu Andi dari samping, “gempa Di … gempa!”

Dalam keadaan setengah sadar, Andi mencoba membuka mata, setalah itu dengan perlahan memalingkan wajah 90 derajat ke arah Noval. Noval mendapati Andi dengan kedua bola mata yang memerah seperti seorang gadis yang baru saja menangis karena putus cinta. Sesaat Andi terkejut, seakaan urat sadar telah kembali tersambung dengan benar. Ia melihat wajah Noval yang tirus dibuat-buat. Kemudian matanya menyapu anak-anak lain di depan dan belakang; nampak semuanya terlihat sedang asik-asik saja dengan gadget masing-masing di tangan, tidak ada adegan lari-larian. Andi kemudian sadar kalau dirinya sudah dikibuli kawannya ini. Lalu Ia bangkit berdiri tegak, setegak amarahnya.

Advertisement

“Duak…!” meja kayu mengeluarkan bunyi.

Rupanya Andi lebih memilih memukul meja dibandingkan temannya yang usil itu. Mungkin jika bukan karena tanaganya belum sepenuhnya kembali, maka sudah tentu meja itu menjadi bolong. Seisi kelas terkejut dan geger karenanya. Tapi tidak dengan Noval, ia masih saja tertawa geli.

Di sekolah, Andi dicap begitu dominan dan suka mengusai. Tapi bagi Noval, ia percaya Andi punya hati yang lembut. Ia lebih memilih berkesimpulan begitu, sebab ia memperhatikan Andi suka mengaji tanpa sepengetahuan darinya. Dan di sekolah, hanya Noval saja seorang yang tahu bahwa temannya ini punya suara merdu serta fasih saat melantunkan ayat-ayat suci al-Quran. Ya, mereka berdua merupakan santri sebalai, yang mana sama-sama menimba ilmu dari Ustadz Hamzah, ayahnya Noval.

“Ah…” Andi menggerutu, kemudian menarik nafas.

Noval untuk kesekian kalinya kembali tertawa melihat tingkah Andi. Andi melayangkan pandangan ke arah anak-anak lain yang masih dalam keadaan terkejut. Batinnya ingin meminta ma’af, namun ditahan saja ketika ia melihat sosok Rudi yang sedang duduk di bangku paling depan. Kedua mata mereka sempat saling bertemu sebelum akhirnya Rudi membuang muka. Noval melihat Andi beranjak pergi ke depan.

“Ke mana Di?” tanya Noval, “sebentar lagi mungkin guru masuk!”

“Toiletlah!” jawab Andi singkat, datar.

Sudah 15 menit waktu berlalu semenjak Andi keluar. Hawa panas semakin menjadi-jadi. Hari ini nampaknya kipas angin mulai tidak sanggup menjalankan tugasnya sebagai kipas angin. Walhasil, adegan buka-bukaan dada para siswa laki-laki dan “wahabisme” secara fisik pun berlangsung.

“Val!” panggil salah seorang siswi yang bernawa Bunga.

“Hmm…” dehem Noval, “Ada apa?”

Bunga hanya mengetuk kecil meja dengan ujung jemarinya, memberi isyarat meminta Noval ke depan, tepatnya di sebelah pojok kiri, yang mana Bunga ialah pemilik singgasana bangku paling depan di sana itu.

Bunga merupakan siswi yang cantik dan terpandai di sekolah mereka. 2 kali juara umum adalah buktinya. Ranking 1 selalu tertulis di rapornya, ada pun ranking 2 di rapor Rudi. Ayahnya merupakan Kepala SMAN 1 Unggul yang terkenal di kabupaten mereka. Tetapi, tidak ada yang tahu mengapa ia lebih memilih SMAN 10 sebagai kendaraan untuk menjelajahi samudra ilmu.

Tidak lama kemudian, Noval sudah berdiri di depan Bunga, ia menarik bangku kosong kemudian duduk di seberang meja.

“Val … Andi tadi kenapa marahan?” tanya Bunga, berbisik.

“Hahaha,” Noval tertawa layaknya orang yang merasa tebakannya benar. “Tanya sendiri sama Andi!”

“Eh … ini serius, nah!” gerutu Bunga.

Noval hanya diam, Ia lebih memilih menatap wajah Bunga yang cantik, yang pipinya mulai kemerahan, ia tidak perlu lagi membaca apa makna tersembunyi dari gurat wajah tetangganya ini.

“Nggak ada … biasa, urusan laki-laki,” Noval mencoba pengertian. “Sudah ya.”

Noval bangkit, dan melangkahkan kaki kembali ke tempat duduknya paling belakang. Sambil berjalan Noval sempat memperhatikan kembali Bunga yang terlihat termenung sejenak. Ia merasakan ada sesuatu yang semakin tumbuh dalam hati tetanggnya, sesuatu yang begitu kokoh yang tidak dapat digoyahkan oleh seorang pun.

“Entahlah, masih terlalu dini mengambil kesimpulan,” batin Noval sambil melanjutkan langkah.

Tidak terasa, jam dinding dengan penuh kearifan menunjuk ujung jarum pendeknya pada angka 10, dan jarum panjang pada angka 6. Belum ada tanda-tanda Andi kembali. Suasana dalam kelas terasa sedikit lebih nyaman tanpa dirinya. Tak lama kemudian, sesosok wanita dewasa masuk sembari memberikan salam. Wanita dewasa yang mempunyai nama lengkap Putri Sukmawati, plus menyandang titel “S.Ag” di ujungnya. Ia biasa disapa Ibu Sukma dalam pekarangan sekolah, maupun di luar. Tidak biasanya beliau terlambat. Namun, persalinan yang beliau jalani 4 bulan lalu mungkin sudah meyakinkan akan keniscayaan sebuah urgensi.

Seperti biasa, sebelum memulai proses belajar, beliau meminta semua yang hadir untuk berdoa terlebih dahulu. Langsung saja, lafal basmalah pun berdengung dalam kelas, kemudian setelahnya diikuti dengan doa yang pernah Nabi Musa As. panjatkan kepada Allah SWT. Sebelum menghadapi kaumnya, yang mana Allah SWT mengabadikan dalam firman-Nya, Al-Quran surat Thaha ayat 25 – 28. Dan seperti biasa, beliau selalu mengabsen terlebih dahulu setelah acara berdoa. Satu persatu pun yang hadir mengangkat tangan sambil menjawab: “saya Bu, hadir Bu.”

Dan tak lama kemudian, sampailah pada nama “Andika”. Sesaat seisi kelas terdiam. Ibu Sukma mengulang sekali lagi. Karena melihat tidak ada yang mau memberi keterangan, tak perlu berlama-lama bagi Noval berdiri, dan langsung menjalani tanggung jawabnya sebagai seorang teman. Bunga melihat aksi Noval, kemudian tersenyum penuh makna. Mendengar paparan Noval, Ibu Sukma pun hanya mengosongkan kolom kehadiran Andi di lembar presensi. Setelah itu melanjutkan kembali sampai selesai.

***

Sudah 10 menit proses belajar dalam kelas III IPS 1 berlangsung. Ibu Sukma memperhatikan anak didiknya nampak begitu acuh tak acuh menanggapi materi yang ia sodorkan. Beliau berasumsi, mungkin karena udara yang terlalu gerah sehingga anak-anak terlihat kepayahan. Ada yang menempelkan kepala di dinding. Ada yang mengipas-ngipas dengan buku, hingga kipas khusus yang dibawa dari rumah. Bahkan, ada yang terlihat merebahkan kepala di atas meja. Ibu Sukma terus saja memperhatikan sikap mereka. Beliau tidak marah, bahkan pengertian.

Dan di tengah-tengah kejadian yang melanda tersebut, beliau pun mencoba menarik perhatian mereka dengan mengganti materi pelajaran dengan topik lain, yaitu tentang “malas”.

“Anak-anak, siapa yang tahu apa itu definisi malas?” tanya Ibu Sukma sembari melihat ke arah mereka.

Rupanya usaha beliau terbilang berhasil. Mereka mulai kembali duduk tegap, bahkan kali ini begitu bersemangat.

“Ada yang tahu apa itu defini ‘malas’?” ulang Ibu Sukma lagi.

Tapi semua hanya terdiam. Mungkin, lantaran mengira pertanyaan tersebut tak lebih dari sebuah bentuk sindiran untuk mereka.

“Tidak, Ibu tidak nyindir siapapun. Ibu ngerti, cuaca hari ini pasti banyak menguras energi kalian, kan?” pede Ibu Sukma. “Mungkin kamu Noval?”

“Duk!” jantung Noval berdegup. “Sa-sa-ya Bu?” Noval balik bertanya, meyakinkan diri.

“Ya … kamu.” jawab Ibu Sukma.

Noval terlihat mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian ia menggerakkan lidah: “Malas itu berpangku tangan, Bu,” jawab Noval.

“Itu saja?” retoris Ibu Sukma. “Ayo, yang lain siapa mau jawab?”

Satu persatu siswa-siswi menjawab. Semua jawaban nampak sejurus dengan punya Noval. Dan layaknya sebagai seorang guru yang pengertian, Ibu Sukma tidak lupa memberi pujian bagi yang sudah menjawab. Kemudian beliau meminta Rudi menjawab pertanyaan tersebut. Kini semua mata tertuju ke arahnya.

“Malas ialah tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Suka menunda-nuda. Lawan malas adalah rajin,” lebar Rudi dengan mantap.

“Bagus sekali Rudi,” puji Ibu Sukma.

Kemudian beliau meminta jawaban dari Bunga. Hampir saja Bunga hendak menjawab, tiba-tiba Andi masuk mengetok pintu selanjutnya memberi salam. Seisi kelas pun terdengar menjawab salam.

“Dari mana saja kamu?” tanya Ibu Sukma. “Kenapa lama sekali?” tanya beliau lagi.

Andi hanya berjalan ke arah meja Ibu Sukma. Celana dan seragamnya nampak basah seperti orang yang baru saja kehujanan.

“Kamu tidak mandi tadi pagi di rumah ya Di?” canda Ibu Sukma.

Inilah beliau, Ibu Sukma, yang terkenal penyayang dan ramah kepada siswa-siswinya. Tidak cepat naik pitam, sehingga pantas saja semua anak-anak begitu menghormatinya, dan juga teramat sayang padanya, tak terkecuali siswa nakal sekalipun. Jika ada siswa nakal yang namanya tertera dalam blacklist sekolah kedapatan basah oleh beliau melakukan kesalahan, maka yang mereka rasakan bukanlah ketakutan, tetapi rasa “malu” yang memuncak. Ya, mungkin sedikit rasa takut juga ada.

Andi pun masuk. Ia berjalan menuju meja Ibu Sukma. Beberapa langkah akhirnya tiba. Kemudian langsung meminta maaf sembari tersenyum.

“Ya sudah, sana duduk!” Ibu Sukma menimpal.

Merasa mendapat restu, Andi pun memutar badan 90 derajat ke kanan. Baru saja Andi mengambil 2 langkah, tiba-tiba.

“Eit …coba kamu tulis dulu apa artinya ‘malas’ pada papan tulis Di!”

Tanpa pikir panjang, Andi langsung menunaikan perintah dari guru yang paling ia hormati itu. Memang terbesit pertanyaan dalam hatinya, namun ia lebih memilih untuk tidak membangkang. Dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan hal itu. Ia pun membalikkan badan menghadap papan tulis di depan.

Sesampainya di depan papan tulis, ia pun menundukkan kepala sambil melayang-layangkan pandangan mencari kapur. Namun tidak ia dapati kecuali debu yang tidak mungkin ia gunakan. Ia pun membalikkan badannya ke arah Ibu Sukma yang nampak sedang duduk memperhatikan yang lainnya.

“Bu, kapurnya sudah habis,” kata rudi.

Mendengar informasi itu, Ibu Sukma langsung membuka laci bawah mencari kotak kapur cadangan. Akan tetapi tidak beliau dapati kecuali kotak-kotak yang sudah kosong berdebu. Kemudian beliau melihat ke arah Rudi, begitu juga yang lainnya. Sadar akan tanggung jawabnya sebagai ketua kelas, Rudi pun berdiri dari tempat duduk mengambil langkah menuju kantor Kepala Sekolah. Untung saja Ibu Sukma tidak mempertanyakan tanggung jawab Rudi sebagai ketua kelas. Yaitu, salah satunya ialah setiap setelah upacara bendera tepatnya hari Senin, semua ketua kelas harus mengambil kapur tulis di kantor Kepala Sekolah.

Sementara Rudi pergi mengambil kapur tulis, salah satu siswi mengangkat tangan kemudian memberi pendapat. Bella namanya, ia merupakan sahabat terdekat Bunga. Mereka berdua duduk semeja.

“Bu, kenapa Andi tidak langsung menjawab saja?” kata Bella.

Ibu Sukma tersenyum mendengar usulan siswinya ini.

“Boleh saja, tapi nanti kita juga butuh kapur tulis kan Bella?” retoris Ibu Sukma kemudian tersenyum. “Semua sabar sebentar lagi ya!”

Tak lama kemudian, Rudi pun menampakkan batang hidungnya. Dan untuk kesekian kalinya seisi kelas menjawab salam. Rudi mengambil iangkah, Ia berjalan melewati Andi yang terlihat sedang menyandarkan badan pada dinding tepatnya di samping papan tulis. Beberapa langkah lagi sebelum ia sampai dekat meja Ibu Sukma. Beliau memperhatikan tangan Rudi kosong dan bersih. Beliau pun tahu dan dengan segera menyuruh Rudi kembali ke tempat duduk.

Di tengah-tengah krisis kapur tulis melanda, ketika Andi hampir saja kembali ke tempat duduk, tiba-tiba salah satu siswa bernama Raka teringat 8 batang kapur di dalam tasnya, yang ia dapati cuma-cuma dalam keadaan terbuang di depan sebuah Ruko megah yang baru saja tutup karena bangkrut. Pemilik ruko tersebut merupakan Ahong Wong Feng Hong. Orang-orang mungkin mengira, karena sering disambar makhluk bernama “rentenir” mengapa pedagang sukses sekelas Ahong Wong Feng Hong harus menutup usahanya. Padahal tidaklah sesederhana itu, yang benar adalah, bahwa, Ahong Wong Feng Hong harus terpaksa gulung tikar dari dunia “supply and demand” disebabkan kecanduan berjudi. Ada pun favoritnya ialah “sabung ayam.” Hari itu ayam jago impornya mendadak mati ketika sedang bertarung. Padahal waktu itu ia mempertaruhkan semua kekayaannya. Setelah kejadian itu Ahong Wong Feng Hong mengurung diri di kamar sebulan karena kesedihan yang mendalam. Ia menyangka ayamnya keracunan Kapur Ajaib, kemudian ia membuang semua benda tersebut dari rumahnya. Ia berspekulasi begitu karena pernah mendapati si ayam makan Kapur Ajaib. Namun beberapa hari kemudian barulah terungkap, rupanya si ayam tewas karena “overdosis” obat Sildenafil (Viagra). Ya, Ia merupakan aib bagi Cina lainnya.

“Bu, ni ada kapur,” kata Raka mantap, sambil mengangkat racun tersebut.

Tanpa mempertanyakan dari mana asalnya, Ibu Sukma langsung meminta Raka membawanya ke depan. Raka pun berdiri kemudian mengambil langkah. Dan sesampai di sana, ia pun menyodorkan batangan tersebut kepada Andi. Andi juga tidak mempertanyakan dari mana asal 8 batang tersebut, cuaca panas mungkin juga telah membuatnya kurang waras, seperti yang lainnya. Dan kemudian untuk kedua kalinya Andi pun kembali lagi mendekati papan tulis. Sesampainya di hadapan papan tulis, ia langsung menggerak-gerakkan tangan sebelah kanan, mencoret-coret huruf.

Huruf berkumpul menjadi sebuah kata, dan kata menjadi sebuah kalimat. Sebuah kalimat yang terpampang cukup jelas, bahkan yang duduk di bangku paling belakang sekalipun bisa membacanya dalam hati tanpa terputus.

Seisi kelas nampak tidak bergeming melihat apa yang sudah ditulis oleh Andi di sana. Kecuali Ibu Sukma, beliau nampak begitu sibuk mengotak-atik isi tas, seperti orang yang sedang mencari sesuatu.

“Dasar!” batin Noval sambil tersenyum kecil penuh makna.

Noval melayangkan pandangan ke arah anak-anak lain, yang ia tahu betul siapa saja di antara mereka yang suka mencari muka di hadapan para guru di dalam maupun di luar kelas. Ia juga sempat melihat Rudi menundukkan kepalanya, dan Bunga menaikkan alisnya. Kelas sesaat menjadi begitu hening. Hanya bunyi berisik kipas angin terdengar begitu jelas. Semuanya nampak begitu membatin. Seakan-akan seperti orang yang baru tersadar dari kekeliruan yang tidak pantas mendapatkan kompensasi sedikit pun, dan dalam bentuk apa pun. Kebanyakan mereka memilih menundukkan kepala seperti orang yang baru saja kalah berperang.

“Sudah Di?” tanya Ibu Sukma.

“Sudah Bu,” jawab Andi.

Ibu Sukma segera menyadari ada sesuatu yang salah sedang berlangsung.

“Kalau begitu coba bacakan apa yang kamu tulis barusan,” pinta Ibu Sukma. “Yang keras sedikit ya Di.”

Kali ini Ibu Sukma mengangkat kepala. Beliau melayangkan pandangan lurus ke depan, memperhatikan anak-anak dengan wajah sumringah sambil meletakkan kedua tangan lurus di atas meja, menunggu Andi membacakan untuk mereka semua.

Andi pun menggerakkan lidah, dengan suara mantap ia pun membaca:


“MALAS, IALAH RAJIN KETIKA ADA (ORANG) YANG MELIHAT!”


Dan, 3 detik kemudian …. bel istirahat pun berbunyi.