[CERPEN] Berdamai dalam Menunggu, Membawaku pada Kebahagiaan

Sore itu, tak ada lagi air mata yang mengalir membasahi pelupuk mataku. Tak ada lagi ratapan pilu memintanya untuk kembali kepadaku meskipun waktu itu dialah dalang dari luka menganga di hatiku.

Aku bukanlah manusia paling sabar yang akan menunggu dengan diam dan anggun tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, hari itu dia merubah segalanya.

Advertisement

Sore itu, aku menatap langit senja dibalik jendela coffeshop langgananku. Pandanganku kini beralih ke jalanan yang dipenuhi kendaraan lalu lalang. Aku mencoba menghitung jumlah kendaraan yang berlalu lalang sore itu. Sebuah kebiasaan baru yang aku lakukan setiap berkunjung ke tempat ini. Setelah genap sepuluh kali aku melirik jam tangan yang melingkar di tanganku, aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. 

Sore itu, tak ada lagi air mata yang mengalir membasahi pelupuk mataku. Tak ada lagi ratapan pilu memintanya untuk kembali kepadaku meskipun waktu itu dialah dalang dari luka menganga di hatiku. Aku bahkan tertawa untuk pertama kalinya ketika tak sengaja melihatnya sedang merajuk mesra dengan wanita disampingnya. Melihatnya merajuk seperti itu, mengingatkanku pada kenangan yang kini mulai memudar. 

***

Advertisement

Semua kenangan manis bersamanya mulai luruh, memudar, dan hilang satu persatu ditelan waktu. Kecuali satu, hari dimana dia datang kepadaku dengan menggenggam tangan wanita itu. Aku bingung, belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sampai wanita itu berkata kepadaku "Aku tahu kamu adalah kekasihnya. Aku tahu selama apa kalian membangun hubungan kalian. Tapi, kini aku calon istrinya. Tolong jauhi dia karena kami akan menikah tiga bulan dari sekarang".

Kini, aku mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia, pria yang aku puja selama ini diam-diam menjalin hubungan dengan wanita itu dibelakangku. Dia, pria yang aku cintai ternyata diam-diam sedang menyiapkan pernikahannya bersama wanita itu dibelakangku. Lalu, apa arti hubungan 5 tahun ini baginya? 

Advertisement

Aku tak tahu. Setelah wanita itu berkata demikian, aku merasa langit senja tak lagi seindah seperti biasanya. Aku menunduk sembari tersenyum mencoba sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air mata setetespun didepan pria yang sangat aku cintai ini dan wanita yang kini mengaku sebagai calon istrinya. Dari sejuta tanya yang ada dibenakku hanya ucapan selamat yang berhasil aku sampaikan dan berlalu meninggalkannya.

Kini tak ada lagi kabar darinya, tak ada lagi lelucon-lelucon receh darinya, tak ada lagi bahunya untukku menangis, tak ada lagi dia yang selalu menyodorkan helm hitam ber-sticker bintangnya dan mengajakku mengelilingi setiap sudut kota ini. 

Kini tak ada lagi pesan-pesan singkatnya berisikan kekesalannya ketika tahu aku lupa makan karena kesibukan aku hari itu, tak ada lagi tiket bioskop film terbaru, tak ada lagi sesi berebut membayar tagihan makanan dan tak ada lagi serentetan kegiatan yang selalu aku dan dia lakukan bersama.

Semua kenangan yang dia ciptakan bersamaku berhasil membuatku terluka sedemikian parahnya. Kepergiannya berhasil membuatku kehilangan arah tujuan hidup. Kebingungan mengawali hariku seperti apa. Ketika hari baru telah dimulai, kudapati diriku terbangun dengan mata bengkak karena menangis semalam suntuk.

Aku tak sanggup menatap bayang-bayang kesedihan dari sorot mataku di cermin. Saking terlukanya, aku bahkan tak sanggup melihat wajahnya bahkan dalam sebuah foto sekalipun. Aku bahkan tak sanggup melangkahkan kakiku untuk sekedar meninggalkan ruangan ini. Kepergiannya menciptakan ruang kosong nan kelam dalam hatiku. Sesak. Rasanya ingin mati saja.

Tanggal 23 yang ke-48 kali. Artinya empat tahun telah berlalu sejak hari kepergiannya bersama wanita itu.

Aku menunggu selama empat tahun. Menyembuhkan luka dan akhirnya berdamai dengan traumaku sendiri, tidak aku lalui hanya dengan mengurung diri dalam sebuah ruangan yang disebut dengan kamar. Dia yang telah pergi mungkin tidak ingin tahu apa saja yang aku lalui sembari menunggu hari ini tiba. Tapi, aku ingat dengan jelas bagaimana aku melalui hari demi hari selama ini.

Aku ingat bagaimana aku menghabiskan hariku selama 24 jam setiap harinya dengan begitu banyak kesibukan. Aku memutuskan meninggalkan kota ini dan menjadi sukarelawan dalam setiap kegiatan kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Mengabdikan diriku kepada mereka yang lebih membutuhkan tenaga dan perhatianku.

Aku ingat, setiap harinya aku hanya mampu tidur selama 3 jam karena tidak punya banyak waktu untuk beristirahat. Aku harus terbang dari satu negara ke negara lain, dari satu kota ke kota yang lain. Tapi, aku tak peduli selama semua kesibukan ini mampu menyembuhkan luka dan traumaku. Jam tidur yang jauh dari kata cukup dan makan yang tidak pernah teratur sukses membuat berat badanku menurun drastis.

Aku melingkari angka 23 pada sebuah kalender. Seharusnya tanggal 23 kali ini aku masih bisa mendengar dia mengucapkan selamat hari jadi dengan ekspresi bahagianya.  Tapi, kali ini biar aku yang mengucapkannya. Bukan untuk dirinya. Melainkan untuk diriku sendiri.

Tanggal 23 kali ini menjadi pengingat untuk diriku sendiri bahwa ternyata aku baik-baik saja tanpamu.

Butuh empat tahun bagiku untuk menyembuhkan luka ini. Aku menunggu hari ini dengan sabar tanpa perlu menunjukkan kepada semua orang aku terluka, karena aku yakin hari ini akan tiba. Hari dimana aku menyadari bahwa aku tak serapuh itu, bahkan aku menyadari kepergiannya tak membuatku memlih jalan pintas untuk mengakhiri hidupku sendiri.

Hari ini di tanggal 23, tanggal yang selalu aku dan dia rayakan bersama, aku memandangi diriku yang baru di cermin dengan senyum merekah bahagia. Tak ada lagi mata bengkak. Tak ada lagi aku yang seperti mayat hidup yang kebingungan mencari tujuan hidup. Kini aku lebih banyak tersenyum sekarang, lebih banyak mendengar, lebih banyak memperhatikan sekitarku dan lebih bijak dalam bersikap. Ruang kosong nan kelam dalam hatiku kini telah sirna.

***

Sore itu setelah empat tahun berlalu dan ini adalah kali pertama aku melihatnya, aku tak perlu menunduk untuk menyembunyikan air mataku. Aku tak perlu berlari untuk bersembunyi. Hilang sudah sakit dari luka yang dia torehkan. Aku bahkan baik-baik saja ketika melihatnya. Satu-satunya kalimat yang ingin aku sampaikan padamu suatu hari nanti adalah "Terima kasih, ternyata kepergianmu dengan cara seperti itu menyadarkanku bahwa hidupku jauh lebih bahagia tanpamu"

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis
Qhy

Penikmat Lari, Baca, Nulis, dan tentu saja KAMU :)

CLOSE