Salah satu keputusan terbesar yang diambil seorang anak manusia ketika hidup adalah menikah. Pekerjaan boleh berganti sesuka hati, rumah boleh pindah sana-sini, begitu pun dengan harta, mau jual lalu beli lagi tak menjadi soal berarti. Tetapi kalau gonta-ganti istri atau suami? Tak semudah itu, Ferguso!

Advertisement

Pertanyaan “kapan kawin” memang masih menjadi pertanyaan yang sulit dijawab ketika kamu memasuki usia 25, sudah mapan dengan pekerjaan, dan tak punya banyak tanggungan. Terutama di acara-acara keluarga dan reunian. Saking risihnya dengan pertanyaan itu, kamu pasti ingin sekali untuk tidak menghadirinya dengan menyusun beragam alasan.

Hanya saja menghindar bukanlah solusi terbaik untuk menghadapinya. Selain bisa dianggap tak kenal saudara ataupun kehilangan koneksi dengan teman lama, bisa saja kamu juga akan kehilangan kesempatan untuk ketemu calon jodohmu karena tak ada yang tahu kalau kamu bakal ketemu jodoh di acara-acara seperti itu.

Apalagi ketika adik, junior, ataupun orang yang lebih muda usianya ternyata lebih dulu menemukan tambatan hati untuk dinikahi. Perasaan dilangkahi serta merta akan muncul dihati. Membuat motivasi berlipat ganda untuk segera menyusulnya, bagaimanapun itu caranya.

Advertisement

Hal seperti itulah yang harus kamu hindari. Perlu kamu pahami bahwa menikah itu bukanlah adu balap cepat. Dia yang cepat, maka dia akan menang. Perlu perhitungan matang dari setiap detail yang akan kamu lakukan. Bukan apa-apa, kehidupan yang sebenarnya baru akan dimulai setelah kamu bisa menjawab pertanyaan “kapan kawin” itu dengan foto serta video wedding yang aduhai dan menyayat hati. Ya, hidup dimulai ketika kamu sudah menambatkan hati pada satu orang perempuan/lelaki.

Jangan dikira tak akan muncul lagi pertanyaan “kapan” lainnya setelah menikah. Oke,  buat kamu yang sedang bimbang pingin buru-buru menikah karena tak tahan dengan pertanyaan “kapan kawin”, coba deh kamu berfikir sejenak. Kira-kira sudah siap belum dengan pertanyaan lanjutannya. Begitu kamu menikah dan beberapa bulan belum dikaruniai anak, akan muncul pertanyaan baru, “kapan punya anak?”.

Begitu anak pertama lahir, tak lama kemudian muncul lagi pertanyaan baru “kapan si kakak dikasih temen?”. Itu baru soal anak. Lantas saat anak sudah 2 dan masih naik motor buat kesana-sini, kamu akan dapat pertanyaan baru lagi, “kapan punya mobil? Kasian tu si dedek keanginan”. Sudah selesai? Tentu saja tidak. “Kapan punya rumah sendiri?”, “Kapan punya investasi?”, “Kapan pindah ke kantor yang lebih besar?” dan puluhan pertanyaan basa-basi tapi bikin risih dihati lainnya.

Kalau kamu tidak siap untuk terus menerus diberondong pertanyaan semacam itu, ada baiknya kamu bersabar. Menikah itu untuk mereka yang sudah siap, bukan untuk mereka yang galau dan terburu-buru. Apalagi kalau kamu menikah atas dasar perjodohan yang baru seumur jagung. Pacaran setelah menikah memang terlihat indah, tapi kamu tidak bisa “putus” seenaknya ketika terjadi ketidakcocokan.

Menikah itu memang mudah. Tinggal ada persetujuan kedua belah pihak, sesuai aturan, dan ada saksi maka sudah cukup untuk mengikatmu dengan janji suci pernikahan. Yang sulit adalah menjalani kehidupan setelahnya. Jangan mikir "enak-enak"-nya saja, sebab itu hanya sebagian kecil nikmat di alam pernikahan.

Jarang yang mengungkapkan duka pernikahan, sebab bagi sebagian orang hal seperti itu tabu untuk diceritakan. Paling-paling yang bercerita soal kepedihan hanya mereka yang bercerai saja. Tahu apa alasan yang banyak muncul? Ya, tidak ada lagi kecocokan. 

Lantas apa sih yang paling dibutuhkan untuk menghadapi pernikahan? Jawabannya hanya satu, komitmen. Kamu harus punya komitmen untuk mempersiapkan pernikahanmu sebaik mungkin, kamu harus punya komitmen untuk bertahan dengan satu wanita/pria saja seumur hidupmu, kamu harus punya komitmen untuk terus bekerja keras agar dapur tetap mengepul dan beragam komitmen lainnya.

Tanpa komitmen, apa yang kamu harapkan dan cita-citakan tak akan pernah terwujud. Karena itulah, belajarlah lebih dahulu untuk membuat komitmen dan menepatinya sebelum kamu buru-buru mengajak pasanganmu ke meja pelaminan. 

Tentu kamu masih ingat juga kan ungkapan "Tuhan bersama orang-orang yang bersabar?" Untuk itu bersabarlah. Percaya saja, seperti halnya rejeki, jodoh juga tak akan pernah tertukar. Perkara jodohmu tertikung teman, anggap saja itu kecelakaan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya