Hari ini, aku akan pulang ke kampung halamanku, Bandung.

Kuketuk-ketuk kakiku dengan tidak sabar, dan aku mendecak sebal sembari memperhatikan papan elektronik di hadapanku yang berbunyi “QZ 3677 SG-BDG – DELAYED”. Dalam hatiku, aku merutuki keputusan yang kubuat untuk pulang di hari Lebaran. Sudah tiketnya mahal, antrian pun pasti panjang di bandara Hussein Sastranegara nanti.

Advertisement

Lagipula, aku juga non-Muslim yang tidak perlu-perlu amat berada di rumah bersama keluargaku di hari Lebaran ini.

Kuputuskan untuk meluruskan kakiku sebentar, karena menurut petugas darat berbaju serba merah dari maskapai penerbangan satu-satunya yang terbang dari Singapura ke Bandung itu, penerbangan masih akan delayed selama setengah jam ke depan. Aku beranjak dengan earpiece yang mendendangkan lagu favoritku, menjinjing tas NaRaYa yang kudapat sebagai oleh-oleh dari suamiku saat ia bertugas di Bangkok beberapa minggu yang lalu. Kurasakan seseorang menjawil lenganku, dan serta-merta aku menoleh. Seorang wanita mungil – usianya mungkin baru beranjak 20 – berkulit cokelat, dan bermata besar, berkomat-kamit kepadaku. Aku segera melepaskan earpieceku.

“Maaf itu tas kertasnya?” ujar perempuan itu sambil menunjuk tas kertas Charles and Keith.

Advertisement

Aku menoleh dan tersenyum padanya, “Ah iya, aduh saya kelupaan. Terima kasih ya…”

Perempuan itu berkata lagi, kali ini aku mendengar logat Sundanya yang kental, “Nggak apa-apa, Teh. Soalnya itu kelihatan mahal, takut dicuri orang.”

Aku tersenyum, mengingat dompet di dalamnya yang berharga $40. Tidak mahal bagiku, tetapi mungkin uang sebanyak itu berarti untuknya.

Baru aku akan beranjak mengambil tas kertas itu ketika seuntai nada mendengung. Pengumuman bahwa kami para penumpang dipersilakan untuk check-in diikuti oleh gumaman orang-orang disekitarku yang mengeras. Kulihat seorang ibu yang diikuti oleh tiga anaknya, menyuruh mereka untuk berjalan dengan rapi di belakangnya. Ibu itu sendiri sibuk mengumpulkan beberapa tas yang berusaha diboyongnya sendiri. Sang ayah berusaha membantunya, tetapi rengekan dari salah satu anaknya yang ingin digendong membatalkan niatnya.

Kurenggut tas kertas Charles and Keith itu, dan merasa sedikit bersalah mengingat bagaimana aku menggerutu ketika Mama memintaku untuk membelikan dompet yang sudah diincarnya sejak lama.

“Jillian, Mama titip beliin dompet Charles and Keith ya. Yang waktu itu Mama tunjukkin, kamu tau yang mana kan?” ujarnya di telepon dua minggu yang lalu.

“Hah? Dompet Charles and Keith? Kudu belinya di Orchard kali Ma, jauh dari rumah. Lagian nggak murah tau Charles and Keith itu sekarang,” tumpasku.

“Iya kalo kamu sempet aja. Nanti duitnya Mama gantiin deh ya. Hati-hati ya kamu pulangnya, jangan lupa passport sama dompet sebelum terbang!”

Aku memutar bola mataku, “Ih Mama, iya tau kali emangnya aku anak umur 15 taun yang baru pertama kali pulang ke Indo?”

Melihat ibu tersebut dan gembolannya, aku merasa sedikit malu karena mengeluh tentang membawa pulang sebuah dompet untuk ibuku sendiri.

Setelah merapikan barang-barangku di overhead compartment, aku meletakkan tas NaRaYa ku di bawah kursi pesawat, dan aku segera memejamkan mataku. Bising sekali di dalam kabin pesawat itu – anak-anak kecil yang luar biasa banyaknya hari ini menjerit-jerit, ibu-ibu mereka mendesis panik, menyuruh mereka untuk diam, dan para pramugari berusaha untuk membantu penumpang yang mengalami kesulitan. Aku mengerang, menyerah untuk mencoba tidur.

Dua kursi di sebelahku masih kosong, tetapi tidak untuk waktu yang lama. Beberapa menit kemudian, kulihat sosok perempuan yang tadi kutemui di ruang tunggu, kali ini bersama gadis kecil yang menggandeng tangannya. Perempuan itu melihatku, dan ia pun tersenyum.

Teteh, ketemu di sini lagi ya,” ujarnya.

“Iya,” aku menelengkan kepalaku pada gadis kecil itu, “Itu adiknya?”

Ia tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, “Anak saya, Teteh. Memang saya kawin muda, jadi aja umur segini udah ada buntutnya.”

Mataku terbelalak mendengarnya. Perempuan semuda ini, bersama dengan anak kecilnya, hidup di Singapura? Bagaimana caranya mereka bisa survive di negara yang serba mahal ini?

Aku tidak kuasa menahan rasa ingin tahu, dan ingin segera bercakap-cakap dengannya ketika ia duduk.

“Namanya siapa?”

“Saya Euis, Teh. Anak saya namanya Tiara. Tiara, geulis, salim itu sama Tante,” ujarnya sambil menjulurkan tangan gadis kecil itu untuk menyalamiku. Tiara tersipu malu sebelum aku sempat menggamit jemari kecilnya.

“Euis di Singapur kerja?”

“Iya Teh, saya di sini jadi pembantu rumah tangga. Yah, lumayan lah untuk bantu ibu saya di kampung. Suami saya kan udah nggak ada waktu Tiara masih bayi,” jawabnya.

Hatiku merosot mendengarnya, “Ah, maaf ya, nggak bermaksud mengungkit…”

Euis mengangguk dan tersenyum, “Iya nggak apa-apa. Sebenernya Tiara juga maunya sih saya tinggalin sama Ibu di kampung. Tapi alhamdulillah, pas kebetulan saya sama majikan yang ini udah kerja sebelum saya kawin, jadi waktu denger suami saya nggak ada, Ma’am nya langsung bilang ‘udah Tiara kamu bawa aja ke sini, saya yang sekolahin.’ Da udah tua dia mah, anak-anaknya udah pada gede, jadi mungkin ada uang lebih kali ya.”

Hatiku terenyuh mendengar ceritanya. Seorang pembantu rumah tangga yang memiliki gaji sekitar $500 per bulan, tanpa suami, dan mengurus anaknya sendiri di negeri orang. Aku yang beruntung memiliki orang tua yang berkecukupan sehingga aku bisa bersekolah di luar negeri sejak aku berusia 15 tahun baru saja meminta Mama untuk mengganti uang yang kupakai untuk membeli sebuah dompet yang harganya tidak seberapa dibandingkan dengan gaji ribuan dolarku.

Perjalanan 90 menit itu tidak terasa lama, karena aku terhanyut dalam cerita-cerita Euis. Dari percakapanku dengannya, aku mengetahui bahwa usianya baru 22 tahun, dan ia menikah pada usia 19 tahun. Ia telah bekerja di Singapura selama hampir empat tahun, sejak ia lulus SMA di Bandung. Dengan bersemangat, Euis juga menceritakan padaku bahwa ia membeli sekardus oleh-oleh untuk ibu dan tetangga-tetangganya, karena ini adalah pertama kalinya ia bisa pulang untuk Lebaran selama empat tahun ia bekerja di Singapura.

Usia Euis dua tahun lebih muda daripada usiaku, tetapi kesulitan hidup yang dialaminya tidak sebanding dengan apa yang selalu membuatku mengeluh dan menggerutu. Aku memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang lebih dari cukup, dan aku seringkali menggerutu tentang bos yang galak, barang-barang di Singapura yang semakin mahal, atau suamiku yang terlalu sibuk bekerja. Keceriaan dan senyum Euis mengingatkanku untuk terus bersyukur dengan apa yang kumiliki dan tidak meratapi apa yang tidak kumiliki.

Kuselipkan selembar uang $50 kepada Euis ketika kami meninggalkan bandara Husein Sastranegara setibanya kami di Bandung.

“Euis, ini jangan dilihat jumlahnya ya. Buat kamu kalau mau beli apa-apa, atau kalau mau disimpen siapa tau butuh nanti-nanti. Jangan ditolak, ya…”

Euis memandang lembaran plastik tersebut dan aku bergantian. Lalu ia menggeleng, dan mengembalikan uang tersebut padaku.

“Jangan, Teteh. Di Singapur uang $50 bisa buat beli banyak barang. Nggak apa-apa, saya sudah punya cukup di sana…”

Aku tersenyum, dan menyorongkan uang tersebut kembali padanya, “Ya udah, kalo gitu ini buat beli susu Tiara ya?”

Euis terlihat bimbang sejenak, lalu ia memandangku dengan senyumannya lagi. Euis memelukku, mengucapkan terima kasih dengan sebuah doa yang kuamini, dan aku memandanginya berjalan keluar dengan Tiara, menuju sekelompok orang yang menyambutnya dengan rindu yang melimpah ruah.

Jika ada yang harus berterimakasih, seharusnya akulah yang berterimakasih pada Euis. Karena Euis, seorang non-Muslim seperti aku pun dapat mencicipi berkah Lebaran di tahun ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya