Dulu saya berprinsip tidak akan mau berhubungan jarak jauh dan kata kata yang selalu saya pegang adalah yang deket aja bisa selingkuh apa lagi yang jauh.


Begitu banyak pengalaman teman-teman yang saya terima dari menjalin hubungan LDR, ada yang berakhir putus karna berselingkuh, tapi nggak sedikit juga berakhir bahagia, dalam hubungan LDR memang banyak yang di korbankan dari kuota internet, telpon, waktu, pikiran, dan yang pasti perasaan.

Tapi entah kenapa saya memberanikan diri "berteman dengan jarak". Semua berawal ketika saya mendapatkan notifikasi permintaan berteman pada akun Line, atas nama Andre pada tgl 04 Mei 2017. awalnya tidak ada yang spesial di antara kami, saya menerima pertemanan dia selayaknya yang lain, hanya dalam waktu singkat hubungan kami semakin dekat, aku jatuh cinta padanya, dan ku telan semua kata-kataku mengenai hubungan jarak jauh. Dan hal yang paling lucu adalah kami saling jatuh cinta tapi tidak pernah bertemu.

Sampai ketika aku bercerita pada temanku mereka hanya mengatakan " Sudah lah , jangan yang aneh aneh cari yang dekat aja" tapi, perasaan nggak bisa bohong "Cinta tidak bisa memilih kemana dia akan jatuh"

Hanya dalam waktu satu minggu kami sudah mulai nyaman, saling memanggil sayang, dan berkenalan dengan orang tua , ya walau cuma dari telpon atau media sosial.

Advertisement

Dia berbeda, dia laki laki yang berani ngomong sama mama. Minta izin buat dekat sama saya, ya mama cuma bisa bilang Jalani aja dulu, kalo udah ketemu baru ngomongin lagi. Mengingat jarak kami antar kota, Medan – Jakarta, jarak yang jauh buat saya.

Makin kami kenal, semua makin terbuka mengenai keluarga, teman-teman, atau pun mantan. Mulai saling cemburu, dan gangguan dari mana pun, memang LDR itu di uji banget soal kepercayaan, pernah satu ketika mantannya dia follow saya di Instagram, saya inget namanya ya mulai sedih-sedihan berantem karna dia bohong nggak komunikasi lagi sama mantan. Tapi ternyata dia bohong.

Hal paling menakutkan adalah, ketika sinyal dan kuota mulai habis terkuras, dimana pengeluaran paling besar bisa terjadi karna faktor ini saja, singkat cerita sudah banyak yang kami lewati bersama, saling memberitahu kesulitan masing masing, dan hal paling menyakitkan adalah, ketika saya tidak merasa berguna akan hal yang terjadi adanya, nggak bisa diam dia saat jauh, peluk dia, semangatin dia dari dekat.

Kejadian paling menampar saya adalah ketika saya mendapat kabar jumat pagi kalau mamanya kecelakaan di tabrak lelaki mabuk, lelaki tsb meninggal di tempat, saya kalut , saya gabisa berbuat apa apa, yang saya bisa hanya menunggu kabar perkembangan mama dari Andre, saya gabisa ada di sana nemenin dia, saya merasa sangat tidak berguna. Sampai akhirnya saya terima telPon dari dia bahwasannya mama masuk ICU dan tidak sadar dari sudut telpon yang jauh di sana, saya mendengar suara tangisnya, dia minta doa untuk mama, mendengar itu hanya hancur, apa yang harus saya lakukan, saya bingung, kami menangis berdua, saya bilang sama Andre


Maaf aku gabisa di sana, aku nggak berguna ya (tangis pecah), tapi dia bilang kamu berguna banget sayang, aku minta doa nya, kamu yang bisa nguatin aku sekarang.


Mama sempat sadar beliau mengatakan " Sakit Ndre" setelah itu pingsan kembali dan tidak sadarkan diri, dokter mengambil jalan operasi karna menurutnya mama kondisi mulai stabil, kami di berikan harapan, satu titik cahaya untuk bisa mama berkumpul bersama keluarga, jadwal yang di ambil hari minggu pagi jam 8 pagi. Malam minggu saya sempat telponan dengan Andre, kami tertawa , lucu-lucuan dia mulai tenang karna mendapat kabar bahwa kondisi mama stabil, minggu pagi mama di operasi, Andre minta doa kepada saya agar operasi berjalan lancar, sejak jam pagi sampai malam saya tidak mendapat kabar, saya tidur dengan tidak tenang, saya puasa, selesai saya sahur saya tidur kembali saya bermimpi mama pergi ninggalin kami semua , saya bangun (senin) pagi jam 7 pagi saya langsung chat Andre dan tanya " mama nggak papa kan sayang" dan kabar yang saya dapat adalah dari adiknya, bahwasanya Mama sudah pergi meninggalkan kami semua

Saya bingung, saya hanya bisa menangis memikirkan kondisi Andre, dimana papanya juga sudah meninggalkan dia tahun 2015 dan sekarang dia harus di tinggalkan lagi oleh mamanya, hati saya sangat hancur, keadaan makin menguatkan ketidak bergunanya saya di hidup dia, saya tidak kerja , saya tidak makan , saya menghubungi teman teman saya untuk mencari pinjaman agar bisa terbang kesana, saya masih terus menunggu kabar Andre, sampai ketika telpon saya berbunyi, saya mendengar isak tangisnya, tidak banyak kata yang terucap, hanya kata " mama sayang, mama uda nggak ada" tangis kami pecah bersama, saya bingung sekali, hanya bisa menangis, dada saya sesak kepala saya sakit. Saya menghukum diri saya, saya merasa sangat bersalah, tidak bisa ada dan tak bisa memluknya akan semua yang terjadi.

Bahkan sampai detik ini, entah kenapa saya masih merasa bersalah dan yang bisa saya lakukan hanya terus menghibur diinya, tidak akan meninggalkannya, saya hanya berpesan, tidak peduli apapun itu ketika kamu mencintai seseorang, ketika kamu memilihnya, berarti kamu memilih untuk masuk dan menyentuh hidupnya, teruslah tulus dan jujur dalam memberikan perasaan karna kita tidak tau balasan apa yang akan di berikan Allah nanti. jangan lupa berdoa dan terus bersyukur.