Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kalimat "bertepuk sebelah tangan"? Jawaban yang paling banyak tentulah masalah cinta. Dan aku sendiripun salah satunya. Bertahun-tahun lalu aku pernah merasakannya. Cinta masa sekolah yang sering di sebut sebagai cinta monyet.

Kami adalah teman seangkatan. Dia cukup populer dan memiliki banyak teman sedangkan aku adalah siswi yang biasa saja tanpa ada hal yang istimewa sama sekali. Suatu ketika kami dekat lewat media ponsel. Namun seperti remaja pada umumnya, ketika berpapasan rasa malu membuat kami tertunduk bisu. Rasanya seperti di sinetron-sinetron dengan efek slowmotion, ocehan teman-teman terdengar seperti dengungan lebah dalam kepalaku karena titik fokusku berpindah di iringi debar jantung yang tidak menentu.

Advertisement

Mungkin memang aku bodoh perhatiannya dalam dunia maya terasa nyata, membangunkan sebuah rasa yang tertidur panjang selama bertahun-tahun, melambungkan ingin yang ku tekan dalam-dalam. Aku ingin dekat dengannya adalah salah satu keinginan terbesarku. Beberapa cara aku usahakan agar aku bisa memandangnya lebih lama, mulai dari ikut kegiatan yang sama, berjalan melewati kelasnya, pulang dengan bus yang sama meski aku harus berjalan kaki cukup jauh untuk sampai ke rumah setelahnya, dan beberapa cara yang lain hingga kemudian kami semakin akrab.

Di setiap doaku selalu terselip namanya dengan tambahan semoga dia selalu bahagia. Karena senyumnya seperti virus yang bisa menyebar ke sekitarnya. Apalagi bagiku yang memang sudah memiliki rasa kagum, hal-hal sepele tentangnya selalu menghadirkan rasa yang berlebih dari teman-teman yang lain.

Dan sumber terbesar dari tawa dan luka adalah dirinya waktu itu. Bahkan rasa takut pernah ia hadirkan ketika kami bertengkar hebat karena suatu hal. Rasa itu datang perlahan seiring amarahku yang memudar. Dan satu kalimat yang membuatku beku mengantarkan kedekatan kami kembali.

Advertisement


"Makasih ya, masih tetep perhatian, hehe," katamu di ujung perang dingin kita.


Waktu itu dia demam tapi masih melanjutkan aktifitas kegiatan sepulang sekolah yang merupakan tanggung jawabnya sebagai ketua salah satu organisasi di sekolah. Tidak ku lihat siswa lain selain dirinya di ruangan, wajahnya pucat dan dia terlihat lemas. Tak ada sepatah katapun yang ku ucap karena kami masih dalam masa perang dingin.

Setelah keperluanku usai, aku memutuskan untuk pulang. Sayangnya baru beberapa langkah aku menyadari bahwa ponselku tertinggal. Aku balik badan dan ku lihat dia terduduk dengan raut memelas. Tanpa pikir panjang aku membeli obat demam dan minum untuknya. "Makasih ya, masih tetep perhatian, hehe," katanya di ujung perang dingin kami membuatku kesusahan menyembunyikan senyum dan sipu.

Pernah terlintas dalam pikirku bagaimana rasanya menjadi miliknya, memiliki waktu berdua lebih lama, menghabiskan hari dengan canda tawa dan bersama menyusun rencana masa depan kita. Tapi aku masih tahu diri untuk tidak menyatakan padanya bahwa ada debar setiap sosoknya ada di depan mata.

Aku bukanlah siapa-siapa, di dekatnya sudah cukup ku rasa hanya saja aku ingin terus selamanya seperti ini, biarlah kami nikmati keakraban ini tanpa ada ikatan apapun yang bisa rusak dan membuat kami jauh. Sebuah pemikiran yang naif. Hingga aku menyadari bahwa sedekat apapun kami, rasa ini hanya aku yang memiliki.

Sakit? Perih? Tentu saja. Rasanya duniaku menghitam tiba-tiba ketika dia memperkenalkan pada kami seseorang yang menggenggam erat tangannya dengan senyum lebar memancarkan kebahagiaan di sebuah pensi sekolah. Tidak ada ucapan selamat, hanya sebuah senyuman yang ku harap mampu menyembunyikan retak dalam dada. Harap, bahagia, dan ikatan yang selama ini ku jaga agar tetap di tempatnya hancur hanya dalam hitungan menit. Berbagai gejolak rasa mengantarkanku pada fakta, bahwa selama ini cintaku bertepuk sebelah tangan. Kedekatan kami hanya sebuah ilusi yang ku buat sendiri. Tapi jika dia bisa terus tersenyum bahagia, aku mampu berkata aku baik-baik saja.


Bukankah cara membuat burung bahagia bukan dengan mengurungnya, namun membiarkannya bebas terbang. Jika dia memang milik kita, akan selalu ada jalan yang Tuhan tunjukkan untuknya pulang.


Kini kami jarang bertemu karena kesibukan masing-masing dan perbedaan tempat tinggal. Beberapa kali kami masih menyapa lewat media sosial, saling bertanya kabar dan melempar canda kapan mengakhiri masa lajang. Kadang getar rasa masih ada, mungkin sisa reruntuhan yang terlewat ku bersihkan atau hati mendeteksi bahwa pernah ada sesuatu yang tidak biasa tentang dia. 

Doaku masih sama sejak dulu, semoga dia selalu bahagia. Karena aku pun sedang berusaha bahagia, menikmati yang telah Tuhan berikan padaku. Ada atau tanpa dia di sampingku karena tetap saja, dia adalah temanku yang berharga.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya