Jika dirasa, Ini memang sakit. Saat aku sudah mulai membuka hatiku kekecewaanpun malah menghampiriku. Dan kini terjadi untuk yang kedua kalinya. Ketika dekat dengannya rasa ini makin menjadi-jadi, membuat ku salah tingkah saat kubertemu dengannya, membuatku tak bisa berkata banyak dihadapanya.

Tak banyak orang yang tau bahwa kita sering  jalan berdua. Suatu ketika ia mulai berbeda, feelingku pun semakin menjadi-jadi, dan mimpi itupun menjadi nyata. Bukan mimpi aku dan dia menjadi satu, tapi mimpi dia bersatu dengan orang lain.

Memang setiap ada orang yang ngajak kenalan, aku tak langsung merespon begitu cepat

Awal kita kenal dan bertemu memang dikenalkan dengan teman. awalnya ia tak mau jujur siapa yang memberikan nomor teleponku ke dia. Namun pada akhirnya ia mengakuinya. Temanku adalah pacar temanya waktu itu, dari temanya itulah ia minta dikenalkan ke seorang wanita, dan wanita itu adalah aku.

Singkat cerita belum lama kenal dia sepertinya sudah tertarik denganku, diapun mengungkapkan perasaanya ke aku. Karena waktu itu aku baru kuliah semester satu, akupun menolaknya dengan alasan aku mau fokus dengan kuliahku. Setelah itu kitapun tak berhubungan lagi, diapun menghindariku, karena aku orangnya cuek, jadi aku tak begitu memikirkannya karena memang belum ada rasa apa-apa.

Dua tahun berlalu, iapun menghubungiku kembali. Meski belum terlau intens, karena kecurigaanku. Lama-lama akupun mulai nyaman dan sering berkomunikasi via massage. Aku memancing dengan obrolan ringan, dan ternyata pas kita tidak berkomunikasi beberapa tahun lalu ia sempat pacaran tapi putus pas mau diajak bertemu dengan orang tuanya, setelah itu sempat dekat juga dengan seseorang (tapi belum menjadi pacar). Di pikiranku, apakah ia akan melampiaskan kesepianya ke aku. Entah kenapa setiap kali ia ngajak bertemu aku selalu mengalah. Karena kita beda kota, aku yang selalu mengalah untuk berkunjung ke kotanya demi ingin sama-sama bertemu.

Hati semakin menggebu-gebu untuk mengungkapkan yang sebenarnya tentang rasa ini, tapi aku tak sanggup

Rasa nyaman tanpa ikatan membuatku khawatir, dan membuang-buang waktu. Ingin sekali rasanya mengungkapkan dan bertanya tentang kepastian hubungan ini, namun aku tak sanggup. Lama-lama aku sadar kenapa hanya aku yang berjuang? Ku pancing ia agar sesekali ia yang berkunjung ke kota ku, tapi ada saja alasan yang dia lontarkan dan seperti tak mau mengusahakan. Entah ia yang tidak peka atau aku yang terlalu polos, yang mempunyai rasa tidak tegaan yang pada akhirnya akulah yang harus mengalah.

Kenyataanpun berkehendak lain, ketika aku sudah mulai membuka hati

Libur tahun barupun semakin dekat, ia pun menghubungiku dan berkata kalau ingin berkunjung ke kota ku. Aku pun merasa senang, dan ingin menyambutnya dengan baik seperti ia menyambutku ketika aku berkunjung ke kotanya. Namun lagi-lagi hal itu hanyalah ucapan belaka, sampai hari H kita mau bertemu ia pun tak memberi kabar. Akhirnya aku beranikan untuk bertanya, ia membalas “iyaa jadi ketemu” tapi keesokan harinya di kotanya dengan alasan tak cukup waktu karena ia ada janji siangnya.

Dengan sedikit kecewa dan badmood akupun menemuinya, memang aku tak banyak bicara dan merasa canggung karena lama tak jumpa ditambah ada rasa. Mungkin saat itu sikapku membuatnya merasa bosan. Ketika pulang tak seperti biasanya, sesampaiku dirumah ia pun tak mengirim masagge. Biasanya ia sekedar bertanya “sudah sampai rumah?” Tak hanya itu, ketika ia kembali ke kota tempat ia bekerja, aku sempatkan bertanya “sudah sampai kah?” dengan singkat ia membalas dan bercerita mengenai kendaraan barunya. Aku dengarkan semua apa yang di ceritakanya.

Setelah pertemuan itu komunikasi kita mulai canggung dan ia mulai berubah. Ketika aku kirim massage jawabnya singkat. Akupun mulai curiga, feeling-ku mulai bekerja. Selama itu aku selalu cek semua sosial medianya untuk mencari kepastian. Namun, tak ada hasilnya. Akupun sudah mulai berprasangka bahwa dia sudah mempunyai seseorang. Doa demi doa selalu kupanjatkan agar segera mendapat kepastian.

Di setiap status yang ia posting selalu mengisyaratkan sesuatu meskipun belum pasti maknanya. Dan pada suatu ketika ia memposting sebuah foto ke acara pernikahan, ia tampak berfoto begitu dekat dengan seorang wanita. Seketika hatiku terasa teriris-iris, yaaa sakit itu terulang lagi. Entah pikiranku makin tak karuan, karena saat itu aku juga ada masalah dengan pekerjaan. Di saat aku berada di bawah ia pergi. Disitulah aku merasa seperti orang gila, kehilangan semangat, tujuan, keceriaan, dan kecewa.

Terimakasih untukmu yang memberiku pelajaran, walau sakit itu terulang

Obrolan kita semakin tak ada tujuan, dan akhirnya aku beranikan untuk memutuskan hubungan dengan tidak lagi menghubunginya. Biarlah ini menjadi pelajaran untuk ku, biarlah sakit ini aku yang merasakan. Meski luka ini menganga semakin dalam, dan butuh waktu lama untuk menyembuhkan.

Dari peristiwa ini, alam mengajariku bahwa berharap kepada manusia akan berakhir kekecewaan. kini saatnya aku kembali ke kehidupanku sendiri, aku ingin menepi, aku ingin menyadarkan diriku bahwa hidup tak melulu soal cinta. Ingin rasanya ku hapus kontakmu di hp ku, tapi aku belum sanggup. Aku menghindarimu bukan berarti aku memutus pertemanan, aku hanya ingin menyembuhkan hati yang terluka, mengutuhkan kembali hati yang hancur.

Terima kasih telah datang dikehidupanku dan memberikanku pelajaran hidup. Semoga kita bahagia berjalan di jalan masing-masing. Membuka lembaran baru seolah seperti tak terjadi apa-apa. Inikah yang dinamakan cinta #bertepuksebelahtangan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya