Rasa seperti tarik ulur itu sesungguhnya hanya ilusi yang kita rasakan. Terbuainya hati dengan bayang-bayang akan hal yang indah bersama dia yang hanya mampu untuk ditatap.

Bukan sengaja hati ini ingin masuk ke dalam ilusi ini. Tapi…..

Advertisement

Sesekali senyumnya menatapmu jelas tanpa maksud membuatmu berdebar. Tapi hatimu tidak tau mengartikan. Chatnya tentang tugas dan pekerjaan membuatmu girang tak keruan. Sampai akhirnya hatimu merasakan dan pikiranmu menyimpulkan. “Oh, aku suka dia”

Awalnya hanya ingin menyimpan rasa dengan rapih. Lalu kemudian menjadi risih. Rasa-rasanya ingin sekali kusampaikan padamu bahwa ini lah perasaanku. “aku menyukaimu, tak tau kenapa? Tak tau juga sejak kapan? Mungkin sudah lama. Aku coba mengungkapkan kepadamu barangkali lega hatiku ini, tapi keinginanku semakin serakah rasanya ingin dibalas. Ingin lebih dekat dan semakin baik. Perasaan yang tak stabil dan pengharapan yang mustahil, tak bisakah kau bantu aku untuk lebih mudah mewujudkannya?”

Maaf, tapi tak jadi

Advertisement

Keberanianku hanya sepersekian persen saat melihatmu. Sadarnya perasaan ini tak memiliki porsi yang sama, membuatku makin kecut dan menciut. Kau terlalu tak mungkin kurasa, walau katanya tak ada yang tak mungkin di dunia ini, tapi tetap saja tak mungkin.

Mengontrol perasaan? Jangan ditanya. Sudah aku lakukan seperti halnya ujian.

Barangkali memang ilusi, sedang usaha menarik diri, ada saja hal yang entah dari mana menghubungkan percakapan kita kembali, situasi yang mendukung kita untuk bersua lagi. Seperti semesta memang setuju mempermainkan perasaanku.

Kemudian hanya diam yang menjadi teman perasaan. Tapi ternyata indera perasamu telah pindah bukan lagi di lidah tapi di hati. Buktinya saja kau tau apa yang tidak kuucapkan, melainkan segala pola tingkahku yang menyampaikan seluruh isi hati tanpa izin.

Hati ini senang kiranya kau mengerti. Ternyata rasa senang itu berimbang dengan keberanianku, tak bertahan sepersekian detik, karna kau jauh dan semakin jauh. Tak kulihat lagi senyum pendebar hati, apalagi chat bertema tugas. Aku tahu kau bukan benci, sama sekali bukan. Ternyata sudah ada tambatan hati, penenang jiwa.

Mohon maaf, yang hampir mengusik hati, pikiran dan malammu. Aku yang terlalu salah mengerti. Ekspektasiku berlebihan tentangmu, tentang kita. Mari saling melupakan, maksudku perasaan ini. Bukan juga saling tapi aku yang lebih harus.

Mungkin 1000 langkah di depan ada satu jalan bahagia, atau mungkin 1000 langkah lagi bisa melupakanmu, kemudian 1000 langkah lagi adalah berkah Allah Ta’ala.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya