Suatu gambaran kehidupan yang mengisi imajinasiku, yang memungkinkan aku untuk selalu mencari yang hampir mustahil aku dapatkan, tapi aku yakini akan adanya karena aku butuhkan walau dia sedang tersebunyi jauh di balik ribuan mil jaraknya dari air yang menghidupkanku, dan mungkin yang memungkinkan darahku membeku karena dinginnya suhu es yang tak membiarkanku menginjakkan kaki di atas tanah yang kering.

Walau memang saat ini aku sedang tidak tersadar dengan keadaan ini, hingga tamparan itu datang dengan lembut tapi rasanya seperti dijatuhkan dari langit ke bumi . Yang mungkin tetapi pasti ini waktunya untuk bangun dari diriku yang tersadar, tetapi tertidur. Yang mungkin tetapi pasti ini waktunya bergerak dari langkahku yang berhenti. Bergerak untuk maju dari kemunduran yang terselubungi dengan kegiatanku yang mewarnainya dengan indah.

Aku harus merasakan haus walau sedang merasakan ilusi dahaga yang tidak mengingatkan tubuh ku untuk mulai meminum air yang nyata yang sekarang kian sekarat keberadaannya. Aku harus melawan dingin yang di tutupi hangatnya api mimpi yang membuatku tertidur dengan darah semangat yang membeku. Walau lembut tetapi sudah sangat cukup untuk membunuh mimpi ku yang sedang sadar tetapi tertidur.

Sang pemberi tamparan aku sangat menghargaimu dengan luka yang kau ciptakan karena ini akan menjadi pengingat untuk setiap masa-masa yang terlewatkan. Sedikitpun tidak ada kata untuk membencimu, karena kamu masih memberikan aku waktu berubah, walaupun itu sudah terlambat tapi aku masih kau berikan ruang untuk memulai yang terhentikan.

Sekarang aku mengerti bahwa masa depan penuh harapan itu memang ada. Walau hanya menduga tetapi namanya juga berharap, harapan dan usahakulah yang akan menjadi jawabannya kelak dimana aku kamu letakkan. Tamparanmu seperti embun pagi yang menyapaku dengan lembut setelah aku mengaku saat ini. Aku menyadari ternyata masih terlalu banyak orang yang menyayangiku saat ini, sehingga aku merasakan kebanggaan tersendiri yang membuat benteng pertahananku semakin kuat.

Biarkanlah aku menemukan air kehidupan yang sedang tersembunyi di tengah gurun tandus tersebut dan menemukan tanah berpijak yang hangat di tengah lautan es yang sedang menyembunyikanku, agar mereka menyadari bahwa aku masih berjalan di jalan yang benar.

Dan kelak biarkanlah aku menangis dengan semua ini.

Dan kelak biarkanlah kita tersenyum dan berpelukan.

Dan kelak biarkanlah tidak ada lagi tangis di balik harapan yang kalian yang sering ku tidak acuhkan dulu.

Dan sekarang biarlah cerita ini tidak ku akhiri, karena aku sedang akan memulai yang sempat terhenti dan amarah kalian biarlah menjadi semangat pelipur lara ku yang nyata.

Karena harapan ku tangis itu tidak datang lagi.

Biarlah cerita ini bukan menjadi cerita ku tetapi menjadi kisahmu yang sedang aku ceritakan karena kerinduanku yang menjadi harapanku atasmu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya