Hai kamu! Pemilik senyuman manis dengan tatapan mata yang teduh. Apa kabarmu sekarang? Terakhir aku melihatmu saat dihalaman rumahmu. Namun,tak satu kata pun keluar dari bibir manismu. Yang ada kamu malah menghindar,pergi dari hadapan ku.

Waktu itu kita masih terlalu muda untuk mengenal sebuah kata bernama cinta. Kamu memulainya duluan. Menghubungiku dipenghujung hari itu. Aku yang belum mengenalmu namun tak asing dengan dirimu. Perlahan-lahan kehadiranmu memberikan warna baru dalam hidupku.

Advertisement

Memberikan nafas baru agar aku dapat tetap melanjutkan mengejar semua mimpi ku. Hadirmu terasa begitu menyejukkan hati ku. Kamu selalu membuatku tersenyum ketika berbalas pesan singkat. Aku terlihat seperti orang gila pada saat itu. Aku tersenyum dihadapan handphone ku,membalas semua pesan singkatmu. Dirimu penuh canda tawa, penuh kasih sayang.

Hingga pada akhirnya,jarak memisahkan kita. Aku terus mencarimu saat itu. Saat aku berlum tahu bahwa kamu pindah ke kota lain atas kemauan keluargamu. Hatiku hancur pada saat itu. Bagaikan tertusuk oleh katana seorang samurai, semangatku hancur berkeping-keping.

Aku terus mencari keberadaanmu,hingga pada akhirnya aku menemukanmu. Aku menemukanmu disebuah tempat yang dijuluki sebagai Kota Kembang,kota dengan suasana yang romantis dengan balutan dinginnya udara Bandung Barat kala itu. Aku berhasil menemukanmu. Kita menjalin komunikasi lagi seperti biasanya. Hubungan kita semakin dekat. Aku tahu apa yang kamu rasakan,begitupun sebaliknya. Kamu tahu apa yang aku rasakan.

Advertisement

Tepat di pagi itu,kita memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius lagi. Kita lewati semuanya dengan kasih sayang. Kita tak pernah bertengkar walau hanya satu detikpun kita tak pernah. Hubungan kita terus berjalan dengan baik hingga lima tahun lamanya. Aku mulai tumbuh dewasa dengan segala pemikiranku, kamu yang mulai tumbuh dewasa dengan kasih sayangmu.

Kita lewati semua dengan bahagia. Ingatkah kamu? Ketika aku memakaikan mu jaket yang aku kenakan ketika hujan turun lebat. Pada saat itu dirimu terlihat sangat kedinginan. Kamu memelukku dengan erat hingga aku dapat merasakan detak jantungmu. Aku berusaha memberikanmu kehangatan.

Di bawah hujan yang turun deras,kita bersanda gurau. Kamu yang suka melihat air hujan yang turun dari atas rumah. Kamu tertawa sambil tetap memeluk erat tubuh ku dari belakang. Aku menggenggam erat tangan mu untuk memberikanmu kehangatan. Kita sepakat untuk menjalaninya. Kita memegang teguh komitmen kita. Hari-hari yang kita jalani terasa begitu menyenangkan. Kita semakin dekat,dan aku juga semakin mengenal keluargamu, begitupun sebaliknya, kamu semakin dekat dengan keluargaku.

Kita berjuang bersama,merangkai kisah kasih bersama. Melawan jarak yang membentang. Waktu lima tahun yang terasa begitu singkat namun penuh cerita bersamamu. Hingga pada akhirnya,kamu mulai berubah. Kamu mulai jarang menghubungiku dengan berbagai alasanmu. Namun,aku tak sampai disitu saja. Aku mencari tahu tentang berbagai hal yang kamu kerjakan hingga jarang menghubungiku. Namun,aku tak menemukan jawaban yang pasti tentang dirimu.

Waktu terus berjalan,aku semakin merasakan dirimu yang sangat berbeda dari kamu yang aku kenal dulu. Kamu yang dulu wanita yang penuh perhatian dan kasih sayang berubah menjadi seseorang yang sangat acuh. Kamu terus mengabaikanku. Hingga pada akhirnya aku tahu. Kamu dekat dengan pria lain, pria yang tak aku kenal. Kamu sering bertelfon dengannya. Kamu yang sering berbalas pesan singkat dengannya. Bahkan kamu yang memberikan dia akses ke akun media sosialmu.

Ku tak sampai di situ. Aku yakin bahwa kamu akan segera sadar bahwa aku yang terbaik untukmu, aku yang pantas untuk mendampingimu. Aku tetap bertahan, aku tetap berjuang hingga separuh waras ku aku abaikan.

Aku berjuang sendirian untuk masa depan kita,masa depan yang kita mimpikan. Namun,kamu semakin berubah. Kamu mulai berpaling dariku dan lebih memilih pria itu. Pada saat itu aku berfikir, "apa kamu lupa komitmen yang kita sepakati?". Atau bahkan kamu lupa dengan keseriusan hubungan yang saat itu kita jalani? Cincin nyaris saja terpakai di jari manismu. Namun sosok pria tersebut membuatmu berpaling dariku.

Kamu lebih memilih dia,kamu pergi tanpa kata. Kamu meninggalkan aku yang terpuruk atas kepergianmu bersamanya. Hari-hariku terasa begitu pilu. Hanya air mata yang setia menemaniku. Aku terus menatapi fotomu ketika liburan bersamaku. Aku memeluk erat fotomu. Bahkan aku tak lupa bagaimana rasanya saat dipeluk olehmu. Aku hanya ingin kamu ada disampingku untuk memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku hanya ingin kamu kembali bersamaku,bukan dengannya yang datang secara tiba-tiba. Aku ingin menjalani hari-hariku bersamamu. Aku ingin terus melanjutkan kisah kasih bersamamu. Namun,kamu terlalu egois untuk saat itu. Kamu tetap memilih dia, seseorang yang baru kamu kenal melalui media sosial. Padahal saat itu hubungan kita tak ada masalah sedikitpun, namun aku tak tahu bagaimana dia bisa masuk ke dalam hubungan kita.

Kamu mulai berpaling. Kamu mulai tidak pernah lagi untuk menghubungiku. Bahkan pertemanan di media sosialpun kamu blokir. Begitu jahatkah kamu? Aku terus bertahan dan berjuang untukmu, namun apa yang kamu berikan saat itu adalah tamparan keras untukku. Aku terbangun setelah dua tahun lamanya aku jalani hari-hariku tanpamu. Aku mulai bangun, menata kembali mimpi-mimpi yang sempat layu. Melanjutkan hari-hariku seperti biasanya walau harus tanpamu.

Aku tidak benar-benar melupakanmu. Aku tidak pernah membencimu. Aku tetap menyimpan semua fotomu dan semua kenangan yang kita buat. Hingga sampai saat ini,luka yang kamu berikan padaku belum juga mengering. Ternyata luka yang kamu berikan terlalu dalam hingga sulit untuk sembuh. Namun, aku tetap jalani semuanya meskipun tanpamu. Aku kembali melanjutkan mimpiku mesikpun harus tanpamu.

Dan sekarang,aku hanya berharap yang terbaik untuk kita berdua. Semoga kamu dapat mengejar semua angan dan mimpimu tanpa sedikitpun niat untuk melupakan kisah kasih kita.

Kini aku bangkit dari serpihan masa lalu tentangmu,mencoba melawan rasa ku agar tetap bertahan dan berjuang untuk mu,kini aku mulai sadar bahwa tanpamu semua akan baik-baik saja meskipun terjalnya jalan harus aku lewati sendirian.

Terima kasih telah singgah untuk lima tahun lamanya. Semoga kebaikan selalu menyertaimu.

Dariku,

Lelaki pecinta senja dan kopi

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya