Bolehkah Aku Mengagumimu? Sekadar Jadi Teman Tak Apa, Aku Bisa Terima

pengagum rahasia


Mungkin benar aku mengagumimu.


Advertisement

Sejak pertemuan itu di sore hari aku bisa menarik perihal tentangmu. Laki-laki sederhana dengan kesederhanaan itu yang membuat diri nya menjadi rendah hati dan sifat aktivis nya yang ia selalu tunjukkan.


Lantas apa aku ingin memilikimu?


Sepertinya sebuah ketidakmungkinan karna aku cukup tau diri untuk sebatas mengagumimu saja.

Advertisement

Sang panglima dari Palembang yang merantau seorang diri ke Jakarta untuk menjadi santri yang mempunyai cita-cita sangat tinggi. Begitulah sedikit aku gambarkan profil tentangmu, kesan pertama aku mengenal mu sambil berkata dalam hati "tengil sekali ini anak yah, asik, santai tapi ternyata ilmu dan pengalaman nya patut di acungi jempol.."

Kita banyak berbagi cerita pada waktu itu, tepatnya kamu yang bercerita kepada aku tentang kehidupan kamu, pendidikan kamu yang membuat aku penasaran lebih dalam lagi. Cukup panjang kamu menceritakan satu persatu tentangmu, tentang ke aktifan dirimu di suatu organisasi itu. Dan akhirnya kamu menanyakan kenapa aku mau berlanjut kuliah dan jurusan apa? Aku bergegas menceritakan nya bahwasannya ketertarikan aku dengan Sejarah Kebudayaan Islam dan cita-cita ku ingin memasuki sebuah kampus itu, tak lupa kamu sedikit menceritakan Sejarah Islam pada waktu itu. Akhirnya aku mendapat ilmu.

Advertisement


Kagum denganmu apa salah?


Seperti nya tidak salah karena aku tidak meminta untuk mengagumimu tetapi kepribadian mu saja yang membuat aku kagum.

Aku tidak peduli akan masa lalu mu, sejatinya kamu tetap laki-laki yang pernah mengalami kenakalan remaja tapi tahu batasan.

Kenakalan-kenakalan pada waktu sekolah sudah di rasain dan kamu sebutkan satu persatu tapi yang aku ingat kamu pernah berkata "aku emang nakal dalam hal ini tapi untuk urusan cinta, perempuan aku tidak" malah aku ingin sekali berjuang bareng-bareng dari 0 dan aku juga pernah di tinggalin seseorang.

Dariku yang hanya perempuan biasa..

Semua yang mengenalmu tahu akan ilmu kamu, pengalaman kamu yang luar biasa di tambah pengalaman kamu di sebuah organisasi tapi tidak membuat kamu merasa di atas, kamu tetap rendah hati bahkan selalu menghargai orang lain, siapa pun lawan bicaramu. Itulah kepribadian kamu yang selalu aku kagumi dan jadi pelajaran yang bisa aku ambil.


Sang panglima, santri, aktivis. Mengenal mu adalah sebuah anugerah.


Aku ingat ketika kamu berkata "aku tidak perlu terlihat bicara di depan, cukup dari belakang saja." Dalam hatiku ternyata masih ada seorang senior yang tidak mau terlihat tetapi ketika terlihat di depan dia bisa tunjukkan kecerdasan wawasan nya, yang membuat orang lain takjub.

Tak terasa kita sudah menghabiskan waktu dua jam lebih yang ternyata tidak cukup, untuk saling bertukar cerita menghabiskan waktu sore hari sambil menunggu Jakarta gelap yang di temani satu bungkus mild mu, dua gelas milo dan sepiring roti bakar yang sedari tadi sudah menunggu untuk di santap sang pemesan nya tapi karena aku menghargai seseorang yang sedang bicara aku menunda untuk menyantap nya ternyata itu cukup untuk pertemuan singkat kita.

Terima kasih untuk ceritamu yang berkesan ini.

"Lantas bagaimana dengan kekagumanku ini? "-dalam hati ku berkata. Aku cukup tahu kok dengan perasaan ku ini harus bagaimana, mungkin menjadi teman mu sudah cukup. Iya teman bertukar cerita atau teman menjelajah? Aku siap.

Akhirnya kita bergegas pulang, kamu seorang santri yang punya tanggung jawab lebih di asrama menyudahi pertemuan singkat kita ini dan saling berjanji untuk bertemu kembali.

Sekian, untukmu dariku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Explorer - Write "Perempuan Betawi"

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE