Hai, apa kabar?

Bagiku, sepenggal pertanyaan ini adalah hal yang paling baik untuk memulai tulisan ini. Walau tidak mungkin rasanya kamu menemukan tulisanku, tapi aku berusaha menyapamu dari sini. Semoga kamu baik-baik saja di sana dan selalu diberi kemudahan dalam melewati semua perjalanan hidup ini.

Advertisement

Bagaimana status barumu? Lebih indah atau masih terasa sama saja? Bagaimana dengan dia? Pasti sangat bahagia kan karena berhasil membuatmu menjadikannya partner pilihan terakhirmu dalam menjalani hidup ini. Pikirku begitu! Walaupun bagimu tidak seperti itu, tapi aku sudah biasa dengan perbedaan kita.

Masih ingat denganku kan? Aku, iya aku. Seseorang yang sejujurnya tidak ingin bertemu kamu dalam dunia nyata, seseorang yang lebih nyaman berhubungan dengan kamu lewat dunia maya, seseorang yang sangat bahagia bercanda dengan kamu walau hanya lewat chatting, seseorang yang sangat-sangat takut untuk menerima ajakan kamu untuk bertemu, dan lebih tepatnya lagi seseorang yang tidak ingin rasanya tidak terkendali jika bisa berada di sampingmu.

Ah, sudahlah. Semua sudah terjadi dan segala hal itu juga sudah terjadi. Bahkan mungkin, kamu sudah lupa dengan semuanya. Tapi tidak denganku, aku masih mengingat semuanya terkhusus semua hal yang pernah kita lewati. Yaah kita, yang sejatinya tidak pernah benar-benar menjadi kita. Karena semua itu hanya ada dalam harapanku, tidak denganmu.

Advertisement

Aaaahhh sudahlah, kamu juga sudah tidak sendiri saat ini. Ada dia, wanita pilihanmu, teman sekolahku, seseorang yang sudah aku anggap saudara, tapi tidak begitu dengannya. Yah, kalian sama.

Hijau dan hitam! Dua warna berbeda dengan serenade yang berbeda pula, antara keharusan atau sebuah keterpaksaan. Aku rasa perbedaan itu sangat tipis, dan mampu menepis segala hal yang menjadi kebimbanganku sebelum memutuskan untuk menerima ajakanmu untuk bertemu.

Tapi, apapun tentangmu dan segala hal yang pernah terjadi diantara kita, semua itu sudah ada dalam skenario Tuhan. Menyesalinya adalah hal terbodoh bagiku, apalagi memutuskan berhenti hanya karena kamu lebih memilihnya.

Apapun yang sudah menjadi pilihanmu, aku turut bahagia walau kamu pun tahu bahwa hatiku tidak pernah benar-benar bisa menerima semua keputusanmu. Satu hal yang harus kamu tahu, sampai kapanpun segala hal tentangmu akan selalu terpatri indah dalam ingatanku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya