Pagi yang indah untuk memulai aktivitasku di hari senin. Setelah berpamitan kepada orangtuaku aku menyusuri gang setapak. Ini adalah jalan tercepat yang sedikit orang melewatinya. Kulihat wanita sebayaku sedang menangis, dan ditangannya terdapat sebuah bunga mawar.

"Maaf mba, anda mengapa? Pagi yang cerah ini sudah menangis" tanyaku kepada wanita yang membawa bunga mawar.

Advertisement

"Ini buat kamu aja" jawabnya memberikan setangkai bunga itu lalu pergi. "Maaf mba, nama mba siapa?" teriakku padanya saat dia mulai berlari.

"Mawar" jawabnya yang menghilang dari belokan jalan.

"Makasih ya mba" jawabku dengan harapan ia bisa mendengarku juga. Bunga mawar ini masih segar, dan wanginya terasa seperti baru kupetik. Aku bawa mawar ini sampai ke tempat kerjaku. Aku kembali mengajari murid muridku.

Advertisement

Tiba saatnya pulang aku melewati jalan setapak ini lagi. Kini ada pria yang sedang memegang bunga mawarnya.

"Mas nunggu siapa? Ga baik loh nunggu orang di tengah jalan setapak gini. Orang kaya saya gini kan jadi susah lewat" ucapku menyadarkannya. "Ini buat kamu" jawabnya seperti kejadian tadi pagi terulang kembali. Dia berdiri lalu terbangun hendak berjalan.

"Mas makasih bunganya. Nama mas siapa?" tanyaku mengerjarnya. "Rey, sepertinya aku menyukaimu. Dari pertama bertemu, maka dari itu aku akan memberi mu bunga mawar ini dan meninggalan mawar yang lain" jawabnya tanpa membalikkan badannya padaku. Lalu pergi.

Aku jadi kebingungan. Sepertina aku baru pertama kali bertemu dengannya. Entahlah aku teruskan jalanku sampai kerumah. Pria yang mengaku bernama Rey ada di depan halaman rumahku.

"Rey yang tadi ketemu di jalan setapak kan?" tanyaku. Ia mengangguk.

"Ada apa ya?" tanyaku lagi.

"Aku setiap pagi, sore sampai malam sering memperhatikanmu. Disini" jawabnya. "Memang kamu tau apa?" tanyaku lagi.

"Aku tau kamu pecinta jkt48, kamu sering makan buah tomat sebelum tidur. Membaca novel sambil bersandar di pintu kamarmu sendiri. lalu kamu tidak suka jika ada siapapun mengotori rumah" jawabnya dengan senyum yang manis. "Sedetail itu kah?" tanyaku sinis. Dia mengangguk lagi.

"Mau masuk ke dalam? Agar lebih tau tentang aku di dalam?" ajakku padanya. "Boleh, akhirnya" jawabnya.

"Akhirnya? Apa?" tanyaku. Dia menggeleng. Ibuku datang menghampiriku, "Gimana hari ini? Apa christian sudah kembali bermain lagi?" tanya ibuku. menanyakan tentang muridku yang terkilir saat mengikuti pertandingan di sekolahnya.

"Udah balik lagi ke kelas, tapi masih murung" jawabku. "Oh iya bu, kenalin ini" ucapku menunjuk Rey.

"Eh ada rey juga. Ayo masuk lagi" ajak ibuku pada Rey. "Ibu udah kenal?" tanyaku. Ibuku mengangguk dan tertawa kecil.

"Ibu udah masak? Aku laper" tanyaku pda ibu. Ibu menggeleng lalu berkata "Rey kamu tau nggak? Dia itu pinter masak dari SMP, cobain masakan dia gih". Aku yang sudah letih malah manyun karena disuruh masak oleh ibuku. Aku menurutinya, aku pergi ke dapur dan Rey mengikutiku.

Aku bertanya sebelum memulai memasak "Kamu udah sering ketemu ibu?". "Ini untuk kelima kalinya" jawabnya singkat. Jleb, sebanyak itu? Ngapain?.

"Aku tau nama kamu, murid kesayangan kamu, murid paling bandel, alasan kamu setiap hari lewat jalan setapak itu. Aku tau semuanya" ucapnya.

"Sepenting itukah kamu menginterogasi ibu sampai kamu hafal semua? Siapa namaku?" jawabku dengan sinis. "

Monia, lebih senang kamu kalau dipanggil moni. Betul?" jawabnya.

"Ga semudah itu deketin moni. Dengan tau semua yang moni lakuin dan sukain. Moni trauma sama cowo" jawabku keceplosan.

"Emang kamu ngerasa di deketin sm siapa?" tanyanya.

"Gpp. Rey kenapa pengen tau semua tentang Moni dan sampai tanya ke ibu?" tanyaku.

"Aku pengen kenal lebih kenal lebih jauh sama kamu Mon. Aku ingat saat kamu menangis di taman itu. Aku mulai melihatmu dan menyukaimu detik itu juga. Aku mendatangi ibumu esok harinya setelah kamu pergi bekerja" ceritanya padaku. Ingatanku kembali saat itu. Dimana saat aku sedang sakit dan menemui kekasihku di rumahnya. Kesakitanku semakin bertambah dengan apa yang kulihat. Dia membawa teman kuliahnya yang tidak lain adalah temanku juga. Dia tidak menyadariku yang baru turun dari taksi. Aku masuk ke dalam rumahnya, untuk pertama kali masuk kerumahnya dengan tidak meminta ijin. Aku menemuinya sedang tertawa dengan perempuan itu.

"Di, kita udahan aja" ucapku pergi pulang. Adi memanggil namaku dengan sebutan sayang, dia ingin mengantarku pulang.

"Stop. Jangan ganggu aku di" kataku.

Semenjak tragedi itu sudah tiga tahun aku tidak menemuinya dan sudah tiga tahun juga aku menanggap semua pria adalah teman. Tidak lebih dari teman. Air mataku berlinang dan menetes, menyadarkan aku.

"Rey , sorry ya. Laper gue udah ilang. Lu makan sendiri ya" ucapku padanya.

Dia menahan tanganku. "Maafin Rey di pertama kali Rey ngobrol sama kamu ternyata buat kamu nangis. Aku janji ga akan buat kamu nangis lagi" Dia memohon kepadaku.

Aku mengangguk, "gapapa ko. Tenang aja. Moni ke kamar dulu" ucapku pergi meninggalkannya. Sore sudah berganti malam, aku belum keluar kamar juga. Ibu datang ke kamarku untuk menanyai apa aku sudah lapar, aku hanya menggeleng. Pintu kamarku terbuka oleh angin yang besar. Mengagetkanku dan menyadarkanku. Aku bangun dan menutup pintu, aku melihat ke bawah ternyata Rey belum pulang. Aku turun dengan membawa novel.

"Aku yakin kamu pasti turun" sanggahnya. "Duduk mon, sebelah aku ya" pintanya. Aku pun menurut. "Ko belum pulang? Udh malem Rey, kerja kamu apa?"

"Aku mau tunggu kamu turun. Aku mau kasih ini. Makasih dan maaf ya buat hari pertama ngobrolnya. Aku akan tunggu hari selanjutnya. Aku bekerja di sebuah toko bunga, di pinggir kota. Aku pamit" jawabnya lalu pulang.

Aku tidak bisa mencegahnya aku kembali ke kamar. Hari berikutnya, aku melihat ada bunga mawar lagi di jalan setapak ini. Aku mengambilnya karena masih segar. Saat aku sampai di ujung jalan perkotaan aku melihat wanita yang kemarin. Tanpa pikir panjang aku menghampirinya.

Aku bertanya, "mawar, apa kamu yang membuang bunga ini di jalan setapak?". Dia sepertinya kaget dan menjawab "itu buat kamu. Aku adalah mawar yang ditinggalkan". Tidak mengerti dengan apa maksudnya, saat aku akan bertanya kembali ia memulai membuka mulut. Dan berkata, "aku pamit. Mawar itu diperuntukkan untukkmu bukan untukku". Ia lalu pergi.

Kembali aku bekerja dengan membawa setangkai bunga mawar. Aku simpan bunganya di meja kerjaku, dan membuang bunga yang kemarin. Aku kembali waktunya pulang. "Mbak, ada titipan dari toko bunga" sahut mahasiswa yang sedang magang padaku.

"Makasih ya" jawabku lalu ia pergi. Bunga yang indah, terdapat kartu ucapan di dalamnya. Aku baca, isinya "merekah mewangi itulah kamu. Moni".

Kartu ucapan yang aneh, mengapa di bawahnya tertulis namaku. Aku melanjutkan perjalanan pulang. Di depan rumahku terdapat ibuku yang baru menerima sebucket bunga mawar.

"Bu, bunga dari siapa?" tanyaku. "Nggak ada namanya, tapi itu buat kamu Mon" jawab ibuku. "Memang siapa pengirimnya bu? Tadi kurir bunganya apa nggak bilang gitu?" tanyaku lagi sebab penasaran.

"Paling juga Rey, dia suka sama kamu Moni" jawab ibu mengusap kepalaku dan meninggalkan bunganya di tanganku.

"Besok aku harus berangkat lebih awal. Aku harus mengetahui apa dan siapa yang mengirim bunga itu" ucapku pada diriku sendiri.

"Moni.. Bangunn.. Kamu harus lihat apa yang dilakukan Rey di halaman" teriak mama pagi ini. Aku mengintip di jendela, "Rey are you crazy?" gumamku langsung pergi ke halaman.

"Apa yang kamu lakukan Rey? Bunga sebanyak ini?" marahku padanya.

"Ini cuma setangkai mon. Hanya saja Aku merangkainya menjadi tiga kata" jawabnya. "Mau kah kamu menikah denganku mon?" ucapnya melamarku.

"Rey kamu gila. Kamu nggak ngerti Rey. Kamu bener bener gila Rey" jawabku pergi bersiap untuk bekerja. Aku meninggalkan Rey dengan ketidakwarasannya. Aku pamit pada ibu untuk pergi dan mengacuhkan rey di halaman.

"Apa yang ia lakukan, ia tengah melamarku saat aku mengenakan piyama. Rey benar benar gila. Siapa dia sebenarnya. Dimana tempat tinggalnya dan apa pekerjaannya. Apa mungkin seorang penjaga toko bunga mampu menghabiskan uangnya hanya untuk membelikan dan mengadiahkan aku bunga" celotehku sambil berjalan.

"Aku saja yang mendapatkan gaji yang lumayan setiap bulan. Sepertinya sayang untuk membelikan hal yang tidak perlu. Lebih baik aku simpan uangnya, untuk keperluan dua adikku yang ku bantu biaya sekolahnya" celotehku kembali. Sampailah aku di ujung jalan. Jalanan sangat macet saat aku berjalan.

"Toko bunga yang di depan halte, ganti nama loh" "Oh ya, apa namanya. Katanya pemilik toko bunga itu masih bujangan"

"Aku bakal sering kesana ah, siapa tau bisa jadi nyonya pemilik toko" Percakapan para wanita saat di angkutan umum.

Aku jadi ingat ucapannya saat dirumah kemarin. "Aku bekerja di toko bunga pinggir kota".

"Apa toko bunga yang dimaksud para wanita ini adalah toko bunga tempat rey bekerja" pikirku. "Pulang kerja nanti aku harus pergi ke toko bunga tersebut, untuk memastikan saja. Tidak lebih!" tekadku dalam hati.

Sepulang bekerja aku mampir ke toko bunga di depan halte ini. Aku masuk ke dalam, wangi sekali. Berbagai jenis bunga ada. "Ada yang bisa kami bantu mba?" tanya seorang penjaga toko ini. Sepertinya ia melihat aku yang sedang bingung memilih bunga. "Ia, saya mau beli bunga mawar ya. Se-bucket aja, mawar putih aja ya mbak" pintaku pada pelayan tadi. Seorang pria datang dan melaporkan kepada temannya. "Alamat yang tadi pagi udah gue kirim lagi bunganya. Kan disuruh pa bos" laporannya.

Aku mendekatkan hendak bertanya. Namun, penjaga yang tadi membuat rangkaian bunga untukku telah siap.

"Mba, udah selesai. Silahkan mba membayar ke kasir" pintanya. Ucapku "terimakasih". Ia lalu pergi. Antrian yang hanya dua orang ini tidak membuatku bosan. Saat sampai di bagianku, aku maju dan berniat untuk membayar. Tapi aku melihat kartu nama yang seperti sengaja disimpan di meja kasir ini.

"Boleh minta mba?" tanyaku. Kasir pun hanya mengangguk. Aku melihat nama kartu nama ini adalah "Reyno januar". Saat aku keluar toko bunga. Aku melihat orang yang sedang bekerja. Mereka tengah menutupi nama toko ini dengan terpal. Karena aku penasaran, maka aku bertanya pd salah satu pekerja.

"Mengapa namanya ditutup?". "Pa bos yang nyuruh kita mba. Kata dia namanya belum siap terbit" jawab salah seorang pekerja. Aku nambah penasaran dengan toko ini. Mengapa namanya ditutup, mengapa juga rey tidak ada di tokonya. Dan kartu nama ini jelas sekali namanya berikut no.handphonenya.

Aku pergi pulang melalui jalan setapak ini lagi. Di jalan ini aku bertemu Rey,

"Hei" sapanya. "Hei juga" jawabku. "Aku anterin pulang ya Mon. Kamu nggak marah kn mon?" tanyanya.

"Engga ko, aku cuma mau pulang" jawabku meninggalkannya. .

"Moni aku suka kamu mon. Apa kamu ga bisa ngerasain rasa sayang kamu mon?" teriaknya di jalan setapak ini.

"Rey kamu nggak usah jadi gila gini. Kita ketemu aja baru. Mau kamu apa sih?" desahku padanya.

"Aku mau kamu nikah sama aku mon. Terima cincin ini Mon. Udah cukup tiga tahun ini kamu menyendiri Mon. Aku nggak akan buat air mata kamu jatuh banyak lagi Mon. Aku mau hidup sama kamu Mon, " pintanya berlutut dan memegang tanganku.

"Rey, bangun. Kalau kamu nggak bangun juga aku nggak mau ketemu kamu lagi Rey" ancamku kesal.

"Aku nggak mau bangun. Aku pengen kamu terima cincin ini dan menikah denganku Mon" jawabnya.

"Oke. Aku hitung ya Rey" ucapku. "Satu" "Dua" "Tig,, " air mataku menetes. Aku berlari dan pergi darinya. Entah mengapa aku menangis meninggalkannya. Aku berlari pulang dan menangis. Ibu menyabutku saat sampai di rumah. Aku mengabaikannya juga, aku menangis masuk ke dalam kamar. Aku bingung mengapa aku menaji seperti ini.

Aku menangisi seseorang, yang baru ku kenal. Apa yang kurasa ini.

"Moni, ada apa? Boleh ibu masuk?" suara ibuku dari luar kamar.

Aku menggeleng tidak berkutik dan tetap menangisinya di atas kasur. "Rey ada di ruang tamu. Kamu nggak mau temuin dia?" ucap ibu lagi.

"Suruh pergi aja bu. Moni nggak mau ketemu dia" jawabku pada ibuku. Lama ibuku tidak terdengar suaranya lalu terdengar suara menutup pintu. Aku bangun keluar kamar. Aku melihat ibuku sedang mengunci pintu depan dan Rey sudah tidak ada diruang tamu.

"Mon, ibu pengen ngomong ya. Kamu kesini ya" pinta ibuku yang melihat aku menginti di pintu kamar. Aku menghampirinya.

"Ibu udah tahu semuanya. Rey udah cerita ke ibu semuanya. tapi ibu dan Rey yakin, kalau Rey berhasil buat kamu jadi sayang sama dia. Kenapa kamu tangisin dia Mon? Kamu nggak mau dia pergi dari hari hari kamu ya? Kamu pernah pernah ketemu mawar ya? Itu mantan tunangannya mon. Kalau kamu pengen tau" ujar ibu.

"Ibu kok jadi ngaco ngomongin Rey? Kita kan bukan siapa- siapanya Rey. Aku juga cuma temen aja kok, aku ketemu mawar itu nggak sengaja bu. Ko bisa mereka mantan tunangan? Apa nereka batal nikah?" tanyaku penasaran.

"Kenapa kamu pengen tahu tentang Rey dan mawar?" tanya ibuku menyindir.

"Aku kan cuma tanya aja bu, kalau aku nggak boleh tau juga gapapa bu. Aku mau ke kamar lagi ya bu" jawabku.

"Iya sini ibu ceritain. Dulu dia pertama beli rumah dia liat kamu. Kamu tau rumah Pak Anwar kan? Itu dijual dan dibeli sama Rey. Tiap hari dia liatin kamu, berangkat kerja bahkan sehari hari kamu dia liatin dari loteng rumahnya. Dia anak kedua dari dua bersaudara. Rey tapi bukan anak kandung dari orangtuanya yang sekarang. Dia minta sama orangtuanya untuk kasih tahu dimana orang tua aslinya. Rey dikasih tau kalau orangtuanya ada di kota ini. Lebih tepatnya Pak Anwar lah orang tuanya. Maka setelah tau orangtuanya telah tiada. Rumah itu dibeli olehnya, Rey menempati rumah itu seorang diri. Rey hidup mandiri, lebih tepatnya membiayai hidupnya sendiri. Rey bekerja sepagai kurir di toko bunga, sampai sekarang ia memiliki toko bunga sendiri. Itu hasil keringatnya. Soal mawar, ibu juga bingung sama Rey" ucap ibuku seperti berpikir.

"Kenapa bu sama mawar?" tanyaku penasaran. "Mawar itu temen kuliahnya Mon, dia sakit. Orangtua mawar ingin mawar bahagia dengan mewujudkan impiannya untuk menikah dengan Rey" ibuku diam kembali.

"Lalu?" tanyaku lagi. "Setelah pertunangan di rumah sakit, Mawar membaik. Rey harus menikahi Mawar. Rey tapi tetap tidak mencintai mawar, dia suka sama kamu Moni" ucap ibu.

"Aku kan nggak kenal dia bu" jawabku. "

Kamu inget pas pertama kali kamu ketemu mawar? Mawar itu disuruh rey buat ketemu kamu. Mawar memang minta sama Rey kalau dia minta dikenalin sama calonnya Rey. Rey minta ke Mawar tolong kasihin karangan bunga itu ke Moni. Rey jelasin ciri-ciri kamu itu ke Mawar. Dan saat tepatnya kamu lewat jalan setapak itu dan mawar memberikan bunganya. Kamu inget kan Mon?" tanya ibuku. Aku mengangguk, aku bertanya pada ibu

"bu, ko ibu kayanya setuju kalau aku sama Rey? Ibu kaya udah deket banget sama Rey? Ibu sering ngomongin aku ke Rey ya bu?". Ibu mengangguk dan tersenyum. Lalu ibu berkata, "ibu tau isi hati kamu yang masih trauma. Tapi ibu yakin sama hati kamu sekarang. Kamu tidak akan membiarkan hatimu tertutup lebih lama lagi Mon.


Jangan biarkan yang benar-benar mencintaimu malah pergi tanpa mendapat jawaban seorang moni yang masi trauma".


Aku berdiam mendengar ucapan ibu. Aku meneteskan air mata, "ada kalanya kamu harus memilih nak. Kamu bukan seorang anak sd yang butuh orang tua untuk memutuskan. Ini soal hati. Tanya hatimu nak. Jangan biarkan hatimu berbohong" ucap ibuku lalu pergi ke kamarnya.

Aku menangisi ucapan ibuku. Apa aku sudah mencintainya, mengapa aku harus menangisinya. Aku mencoba menghubungi Rey, beberapa kali telponku tidak juga diangkat. Aku mengirim pesan, Rey tidak juga membalasnya. Rey seperti marah padaku. Esok hari berjalan seperti biasa, aku tidak menemukan setangkai bunga mawar atau kiriman bunga misterius darinya lagi. Ini sudah seminggu, semenjak hari itu. Aku mulai rindu, rindu padanya. Mengapa aku setega itu membiarkan ia pergi. Selama seminggu ini, bunga tidak ada, pesan ataupun kabar darinya tidak ada. Hari minggu ini ak coba pergi ke rumahnya, tapi tak ada orang dirumahnya. Maka aku putuskan untuk pergi ke toko bunga. Ibuku bilang itu adalah miliknya, sebenarnya aku tidak percaya.

Aku datangi toko bunga dengan namanya yang masih ditutupi terpal. membuatku semkin penasaran sekali. Seperti biasa salah satu pelayan toko bunga menawarkan apa yang kucari. Aku bertanya dengan halus, "boleh saya bertemu dengan bos kamu?".

Sang pelayan mengangguk, "bos ada di mobilnya bu" menunjuk sebuah mobil yang terparkir di depan.

"Makasih ya mba" pintaku. Baru hendak pergi keluar untuk menemui bosnya. Pelayan toko pria mendatangiku. "Mba ini bunganya" ucapnya.

"Saya belum pesan bunga" jawabku. "Tapi saya cuma disuruh bos saya mba" jawabnya menundukkan badan lalu pergi. Seorang ibu mendatangiku juga ia mengantarkan bunga yang sama.

Ibu itu hanya berkata "ini bunga untuk moni". Hampir semua pengunjung disini memberian bunganya untukku. Dengan menyebutkan namaku. Aku pikir aku jadi artis mendadak.

"Mba ini karangan bunga buat mba moni" ujar seorang dari belakang. Dia pelayan wanita yang menemuiku saat tiba tadi.

"Ini dari siapa?" tanyaku. "Itu ada kartu ucapannya mba" jawabnya lalu pergi. Aku menyimpan bunga yang dr tadi diberikan untuku di sebuah meja. Aku membuka kartu itu, dan aku menwmukan sekotak cincin. Aku mulai membaca kartu itu.

"Moni, mawar ini untukmu. Aku merindukanmu. Semoga tujuan kedatanganmu adalah untuk mencariku bukan yang lain. Rey". Aku menangis terharu membacanya. Tapi dimana Rey berada?.

"Mba, ini ada satu lagi bunganya" ujar seseorang dibelakangku. Aku menghapus air mataku dan membalikkan badan.

"Aku rindu kamu moni" ucapnya. Membatku menangisinya dan memeluknya. "Aku juga rindu kamu Rey. Maafin aku Rey" ucapku.

Rey melepaskan pelukannya dan mengambil kotak cincinya. Ia mengeluarkan cincin itu.

"Will you marry me?" pintanya. Aku menangis tidak bisa berkta. Aku memintanya bangun.

"Kenapa kamu nangis mon? Apa kamu sudah memiliki calon? Apa aku salah melamarmu mon?" tanyanya.

Aku menjawab "aku,," menggeleng.

"Boleh aku tanya sesuatu rey?" ucapku.

"Apa? Silahkan saja" jawabnya datar. "Apa pekerjaanmu rey?" tanyaku. Rey malah tertawa, "kamu itu bener bener nggak percaya atas apa yang ibu kamu ceritain ya mon. Ikut aku ya" jawabnya.

Ia membawaku keluar. Rey meminta dua orang tukang untuk membuka terpal itu. Terpal yang menutupi nama toko bunga ini.

"Ini toko bunga milik aku mon, aku pemiliknya. Akulah bos mereka. Aku peruntukkan toko bunga in untukmu Mon. Lihatlah namanya!" pinta Rey. Aku melihat keatas dan mulailah terbuka namnya.

"Remoni flowers"

Aku memeluk Rey lagi, aku berkata "Aku percaya hatiku Rey, hatiku kembali terbuka dengan sendirinya oleh dirimu Rey".

"Jadi, what do you to be my wife forever?" tanyanya.

Aku mengangguk malu, aku menjawab "I do".

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya