Aku mulai menulis ini sesaat setelah aku berpamitan padamu untuk segera tidur. Bukan berarti aku membohongimu. Sejujurnya aku juga ingin segera tidur, tapi mata ini masih enggan terpejam. Hati ini masih bergejolak. Terlebih pikiran ini, belum mau berhenti memikirkan tentang kamu, tentang kita, dan tentang kehidupan kita mendatang.

Wahai kamu,

Advertisement

Pernahkah terbesit di pikiranmu dahulu, bahwa kita akan berakhir seperti ini? Kita yang pernah dekat, kita yang pernah saling mencinta, kita yang kemudian saling menjauh, kita yang memutuskan untuk sekedar menjadi teman, dan kita yang kini sedang membicarakan soal persiapan pernikahan? Jujur, aku masih takjub dengan alur yang telah Tuhan pilihkan. Aku masih tak percaya, jika kamu yang akhirnya harus menggenapiku. Kamu yang akhirnya harus memaklumi setiap labilnya sikapku. Kamu yang akhirnya harus menyeka air mataku karena sifat baperku yang sering kelewatan. Kamu juga tidak pernah menyangka kan sayang?

Wahai kamu calon pendampingku,

Aku sering tersenyum mengingat-ingat tentang kita dahulu. Dimana kita sering menghabiskan waktu bersama hanya dengan mendengarkan lagu-lagu yang sedang hits, menonton kartun favoritku, atau hanya sekedar mengobrol santai ngalor-ngidul tanpa judul. Kita juga saling mengkhawatirkan, saling mendukung, diam-diam saling merindu, dan sialnya saling takut kehilangan. Hanya saja, saat itu, mungkin pikiran kita masih terlalu bocah untuk yakin bahwa itu cinta.

Advertisement

Lalu apa yang terjadi? Kita pura-pura merasa tidak cocok, sering bertengkar hanya karena hal-hal sepele, dan menjaga gengsi. Bodohnya kita selalu merasa bahwa pasti ada orang di luar sana yang lebih baik untuk kita. Aku menganggap bahwa masih ada pelukan yang jauh lebih mengayomi ketimbang pelukanmu, dan kau juga menganggap bahwa masih ada senyum yang jauh lebih tulus dari yang pernah kuberikan. Lalu kita tenggelam dalam kesibukkan menemukan belahan jiwa sesuai ekspektasi kita masing-masing. Sekuat tenaga mencari dan lupa untuk menjadi. Meskipun demikian kita akhirnya mendapatkan yang sesuai dengan keinginan kita pada masa itu. Konyolnya lagi, kita saling menceritakan kebahagiaan kita dengan pasangan masing-masing.

Sampai pada akhirnya, topeng yang dikenakan oleh mereka yang kita puja-puja itu jatuh. Dan kita sekuat tenaga tetap mempertahankan citra kita masing-masing sebagai pasangan ideal. Tak peduli seberapa sakitnya hati menahan, tak menghiraukan bahwa kita harus menipu diri sendiri. Asalkan aku tetap bisa menggenggam tangannya dan kau tetap membersamainya.

Tapi sekeras apapun kita berusaha, kita tetap tak bisa melawan takdir Tuhan. Dia lah yang paling berkuasa di atas segalanya, termasuk atas diri kita. Aku masih ingat betapa terpuruknya aku ketika harus dengan paksa melepaskan cinta yang mati-matian ku pertahankan. Mungkin kau juga pernah demikian dengan wanita yang pernah kau bersamai. Tapi aku bersyukur kau ada di saat-saat sulit itu. Ya, lebih tepatnya kita sama-sama saling menguatkan. Hanya saja, kita masih enggan untuk berhenti mencari.

Dan hari demi haripun berlalu. Bulan demi bulan berganti. Aku tetap saja sendiri. Dan kau, tetap saja enggan memantapkan hati. Kita sama-sama betah menyandang status single. Bukan berarti tidak laku. Tapi karena seperti yang pernah ku katakan tadi, bahwa ekspektasi kita terlalu tinggi tentang pasangan hidup. Atau mungkin, ini memang jalanNya. Kita dibiarkan sendiri agar bisa introspeksi diri.

Nyatanya banyak hal yang berubah di pikiranku dalam memandang cinta dan pernikahan. Aku tak lagi sibuk mencari, namun sibuk menjadi. Bahkan aku tak sempat memikirkan cinta. Aku hanya ingin jadi lebih baik untuk diriku, keluarga, dan Tuhan. Nampaknya, kau juga demikian. Kau bahkan lebih rajin beribadah dibandingkan diriku bukan?

Sampai akhirnya takdir kembali mempertemukan kita. Hanya dalam sebuah pertemuan & obrolan singkat, akhirnya keputusan besar itu terlahir. Ya, kita akan menikah. Tanpa kata romantis, tanpa perlu merayu dan tanpa bertele-tele, kau tiba-tiba mengatakan, “Aku akan menikah denganmu.”

Seandainya kau tahu perasaanku saat itu. Seandainya kau melihat lebih lama ke dalam mataku. Kau akan menjumpai banyak kembang api layaknya pesta tahun baru. Atau semacam pesta lampion yang sering dibilang banyak orang romantis itu.

Sayang, aku sungguh bahagia. Di titik itu aku baru menyadari bahwa selama ini aku mencari terlalu jauh. Aku bahkan melupakan kata kunci dalam sebuah hubungan, yakni “nyaman”. Padahal kenyamanan itu sudah sejak lama aku dapatkan dari dirimu.

Bersamamu aku tak pernah berusaha menjadi orang lain. Aku adalah aku yang hobi nonton film kartun anak-anak sambil tertawa terbahak-bahak. Aku adalah aku yang mudah baper. Aku adalah aku yang sering keras kepala. Tak pernah aku menutupi sesuatu terhadapmu. Kecuali cintaku. Cinta yang telah lama bersarang di hatiku. Ah bukan, aku tidak menutupi. Bahkan aku tidak paham bahwa itu cinta.

Terlepas dari apapun itu sayang, aku amat sangat bahagia kembali menemukanmu. Kelak, kita akan punya banyak waktu untuk tenggelam dalam tawa karena film-film kartun yang lucu. Kita akan menikmati bersama minuman favorit kita, capucino sesering yang kita mau. Kita bisa terus saling bercerita tentang hidup.

Jangan khawatir bila saat ini kita masih compang-camping penuh kekurangan. Baik dalam hal materi dan kematangan jiwa. Kita akan belajar bersama, saling mendukung, saling mengisi, saling menguatkan. Mungkin akan ada saja sedikit pertengkaran-pertengkaran kecil di antara kita, tapi itu hanyalah bumbu penyedap agar kisah kita tidak pernah hambar dan membosankan.

Belahan jiwaku, kamu yang tak pernah semilipun kuragukan untuk menjadi teman menghabiskan usia senjaku. Semoga Tuhan selalu memberikan ridhonya hingga akhir nanti. Dan kelak, kita akan kembali dipertemukan di surga-Nya, masih sebagai sepasang kekasih halal. Amin!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya