Applying PhD in the US

Alhamdulillah.. Terimakasih atas bantuan dan doanya. Dan maaf jika ada salah kata ataupun perbuatan saya.

Mimpi ini dimulai sejak 5 tahun yang lalu. Siang itu sepulang ngampus, aku berpapasan dengan salah seorang temanku di lorong labtek V lantai 2. Kami berteman cukup baik dan suka membahas hal random dari masalah tidak penting sampai tugas kuliah.

Advertisement

Menimpali sahutannya yang bilang ingin lanjut studi ke US, MIT seingatku, aku sempat bertanya tentang biaya darimana buat lanjut kesana. Walaupun aku terlihat hanya iseng, dia sangat antusias dan yakin kalau ada banyak beasiswa untuknya.

Dia bilang kalau orang tuanya menyuruh dia untuk belajar dengan giat agar nilainya kelak dapat digunakan sebagai modal untuk S2. Obrolan random pun berhenti sampai disitu karena aku tidak tau mau bertanya apa lagi. Orang tuaku juga tidak pernah sekali pun memberikan preferensi tentang kuliah S2.

Dan Itulah skenario yang Allah rangkai sehingga aku memikirkan lebih jauh tentang mimpiku selepas kuliah S1.

Advertisement

Sejak saat itu aku mulai memikirkan tentang berapa IPK yang cukup untuk lanjut S2 hingga kemampuan B.Inggris semacam apa yang dibutuhkan. Aku mulai membaca cerita-cerita mahasiswa Indonesia yang sedang/akan lanjut S2 ke luar negeri dan akhirnya bertemulah aku dengan teman yang baru pulang exchange dari Jepang.

Cerita dan pengalaman yang aku dapat dari orang lain ini benar-benar tak ternilai harganya. Namun sebagai mahasiswa tingkat dua yang berasal dari kampung dan masih tidak percaya kalau harga nasi putih Rp 2000 per porsi, aku pun berusaha berpikir realistis dengan kondisiku dan tidak terlalu berambisi tentang kuliah di luar negeri.

Di tulisanku yang lain, pasti kata “iseng” bisa muncul belasan kali. Itu benar dan wajar saja karena aku tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan dan cuma modal bismillah saja untuk sekedar melangkah merajut mimpi.

Dimulai dari bikin paper sampai ikutan exchange, aku pun semakin menyadari kalau hidup ini bukan hanya tentang mimpi, tapi tentang usaha dan doa. Misalnya, dapat ide tentang paper pertama dulu berkat doa teman-teman yang saat itu ngajarin aku main Dota 2.

Secara ajaib ide itu muncul pas bangun pagi-pagi dan masih di kamar kos teman. Trus lagi exchange ke Jepang secara ajaib bisa diterima padahal deadline penerimaan sudah lewat 3 bulan. Dan masih banyak lagi…

Baiklah, aku mulai tentang prosedur daftar PhD-nya di paragraf ini secara mangkus.


  1. Mempersiapkan TOEFL dan GRE. Pastikan kamu sudah selesaikan dua hal itu sebelum bulan Desember. Kebanyakan deadline apply-nya itu tanggal 15 Desember.

  2. Memilih Universitas. Aku memilih 10 universitas secara umum kemudian melihat lagi apakah professornya memang aktif dan bidangnya sesuai dengan minatku.

  3. Mencari Rekomendator. Carilah orang yang tahu kamu dengan baik agar surat rekomendasinya bisa menarik dan kredibel.

  4. Membuat Akun. Buat akun untuk daftar di setiap Website universitasnya jauh-jauh hari karena banyak yang harus kamu isi.

  5. Mempuat Statement of Purpose. Jelaskan apa saja pengalamanmu yang sesuai dengan bidang riset calon advisormu. Panjangnya sekitar 3 lembar.

  6. Membayar Uang Daftar. Harus dikirim melalui kartu kredit. Beberapa universitas bisa menggunakan fitur BNI Virtual Credit Card, kalau tidak bisa coba minta tolong teman yang punya CC beneran.

  7. SUBMIT! And you’re done. Tinggal nunggu :D

Ajaib memang. Tinggal banyakin berdoa saja kalau udah selesai submit. Sebenernya ada fakta-fakta tentang PhD yang mungkin menarik daripada prosedurnya, misalnya:


  1. Kamu tidak harus lulusan S2 untuk bisa apply PhD

  2. Kamu tidak perlu repot-repot mencari beasiswa PhD karena PhD itu normalnya dibiayai sama advisormu kelak.

  3. PhD itu 5 tahun, dalam 5 tahun itu kamu bisa saja ngambil beberapa Courses biar bisa dapet gelar S2 juga (if you don’t have one).

  4. Biaya untuk apply 10 Graduate Schools sekitar 20 juta including Toefl dan GRE

  5. Kamu bisa diterima tanpa ataupun dengan wawancara oleh pihak kampus.

  6. Kalau kamu sudah dapat beasiswa, advisormu tidak akan memberikan kamu financial support lagi.

  7. Financial support dari advisor umumnya lebih besar dari pemberian beasiswa LPDP.

  8. Website yang bagus buat liat ranking univ bisa di USNews dan yang lebih akurat lagi per field bisa cek http://csrankings.org/

  9. Pilih at least 3 Assistant Professor buat di-mention di SoP mu

  10. Jangan memilih full-time Professor atau Professor emeritus karena mereka sudah tidak aktif lagi dalam hal membimbing mahasiswa PhD

  11. Hal-hal detail yang belum bisa aku tulis insyaAllah aku jelaskan di kolom kementar

Sedikit berita gembira, alhamdulillah setelah menunggu 2 bulan aku mendapatkan beberapa offer di antaranya adalah dari University of Wisconsin-Madison (#5 based on the publication on my area of interest), Georgia Institute of Tech (#6 Best CS Grad School in Systems), University of Chicago (#3 National Universities in the US), dan sisanya biarlah menjadi rahasia. :D

Somewhere in the corner of Geneva, Switzerland.

Alhamdulillah. Terimakasih kepada semua pihak yang sudah membantu di antaranya: kedua orang tuaku, Istriku, Pak Rinaldi Munir, Prof. Haryadi, Mr. Bruno Silva, Kak Martin, Aris Wakhyudin, Odie Syahrozi, Kak M. Ikrar Lagowa, Mas Mahsun, dan teman-teman yang namanya tidak bisa aku sebutkan satu persatu.

Aku tidak ingin masa mudaku hanya bercerita tentang tebalnya buku yang aku baca, seringnya begadang, dan capeknya belajar. Untuk itulah aku tuliskan hal-hal yang bisa dimaknai dan dimanfaat oleh orang-orang di sekitarku.

Trenggalek, 19 Maret 2019

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya