Cerita Tentang Mimpiku, Antara Pendidikan dan Kesehatan Serta Pencapaian

Perjalanan pencapaian pendidikanku

Peribahasa mengatakan “tak kenal maka tak sayang” oleh sebab itu izinkan saya membuka cerita ini dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan nama saya R. Apria Susiana lahir dibulan April dengan panggilan bulan kelahiran. Setiap individu yang lahir membawa mimpi ditangannya. Saya memiliki mimpi untuk menjelajahi pendidikan setinggi mungkin agar ilmu yang saya dapat bisa bermanfaat bagi masyarakat. Perjalanan pendidikan saya tidak sesuai dengan aturan yang ada. Pada dasarnya anak-anak dapat menempuh sekolah dasar saat berumur 7 tahun. Berbeda dengan saya yang memulai pendidikan saya di sekolah dasar saat berumur 4 tahun. Terbilang cukup muda, namun saya sangat menikmati itu. Mulai dari SD sampai dengan SMP kelas 2 saya menikmati kehidupan sekolah saya. Pada saat kelas 3 SMP tepat saat saya berumur 13 tahun saya memiliki banyak pertanyaan tentang kehidupan dan yang paling krusial adalah “Sekolah itu kewajiban atau kebutuhan?”. Saat itu setiap hari saya menganalisis dan membandingkan dampak dari seorang yang bersekolah dan yang tidak lanjut sekolah.

Advertisement

Sampai saatnya saya sadar sekolah bukan merupakan kewajiban atau norma masyarakat namun sekolah adalah kebutuhan. Dengan ilmu yang didapatkan dari sekolah kita bisa menata kehidupan lebih baik dalam menganalisis sampai memecahkan masalah. Sebagai seorang putri pertama dari 3 saudara yang lahir di tanah Madura dengan kedua orang tua memiliki darah asli Madura. Menjadikan saya tidak shock akan fenomena putus sekolah dan pernikahan muda. Sedangkan mimpi saya dalam menempuh pendidikan yang tinggi merupakan boomerang dalam lingkungan saya. Sebagai perempuan stigma masyarakat tentang “Perempuan tidak perlu bersekolah karena akan kembali mengurus rumas tangganya” masih dipegang kuat di lingkungan saya.  Disisi lain, kelas 3 SMP dapat dikatakan titik balik hidup saya dalam memasuki gerbang dewasa. Dewasa dalam menentukan keputusan dan menanggung resikonya sendiri. Keputusan untuk bersekolah SMA di kota yang memiliki waktu tempuh 1 jam, dan keputusan untuk mengubah lifestyle. Saya kelas 3 SMP saya memiliki berat badan 60 kg atau dapat dikatakan obesitas.

Hal yang krusial menjadikan saya untuk mengubah lifestyle saya adalah karena saya juga menerima tindakan bullying dari teman saya saat SMP. Namun setelah saya berhasil menurunkan berat badan secara konsisten dalam waktu 1 tahun menjadi 39 kg. Menjadikan saya sadar akan pentingnya healty, dan menikmati makanan secara cukup. Selain keputusan untuk mengubah lifestyle saya juga memutuskan untuk masuk ke SMA di kota saya. Bukan hal mudah melepaskan anak berumur 13 tahun untuk pulang-pergi ke sekolah sendirian bagi orang tua saya. Ayah saya menentang saya untuk bersekolah jauh, namun ibu saya masih tetap mendukung saya. Saya merasakan kasih sayang kedua orangtua saya namun hanya dengan appearance yang berbeda. Saat pendaftaran melalui jalur rapot saya tidak lolos ke sekolah tersebut yang merupakan salah satu sekolah ter-favorit di kota saya. Namun, setelah itu saya berusaha penuh untuk belajar sampai mendapatkan nilai Ujian Nasional tertinggi dan mendapatkan nilai matematika yang sempurna. Sehingga hal tersebut memudahkan saya untuk lolos di sekolah tersebut. Masuk di tahun pertama sebagai siswa SMA menjadikan saya yakin “Semakin jauh bumi yang kau pijak maka semakin luas pandangamu tentang dunia dan lingkungannya”.

Terdapat banyak individu baru dengan culture, norma dan activity yang baru. Walaupun sekolah tersebut masih di pulau Madura. Saat itu saya berumur 14 tahun waktu pendataan murid salah satu guru terbaik di BK mengatakan bahwa saya tidak mungkin sanggup bersekolah disini. Jujur saat itu hati saya rapuh hanya dalam sekejap. Saya menangis saat pulang sekolah dan bercerita kepada ibu saya. Namun ibu saya selalu menguatkan saya untuk tetap membuktikan siapa saya. Selama 3 tahun saya bersekolah dengan gigih walaupun saat itu saya belum memikirkan untuk melanjutkan sekolah keperguruan tinggi karena saya mendengar rumor bahwa perguruan tinggi sangatlah mahal dan memilih background orang tuanya dalam menentukan lolos atau tidaknya. Sampai saatnya saya di kelas 3 SMA saya mendapatkan kuota untuk daftar SNMPTN ke Perguruan tinggi. Namun, sebelumnya saya sudah daftar di beberapa universitas swasta, dan negeri yang sedang membuka beasiswa full bagi mahasiswa. Namun sayangnya rezeki saya tidak berada disitu. Saya tidak lolos untuk semua pendaftaran yang saya lakukan. Namun saya tidak kecewa, karena saya akan lebih kecewa jika saya tidak mencoba mendaftar.

Advertisement

Saat hari pengumuman SNMPTN saya sudah siap dan telah menabung untuk SBMPTN. Tuhan menjadikan hari itu adalah hari pelangi dalam hidup saya. Warna yang muncul saat saya membuka website penerimaan mahasiswa adalah “Hijau” artinya saya lolos SNMPTN saat itu. Terkejut dan saya semakin yakin atas impossible being possible didunia ini. Terdapat salah satu system support saya untuk terus melangkah daftar SNMPTN saat itu yaitu salah satu guru saya. Saat itu saya mengkhawatirkan tentang nilai saya yang turun di salah satu semester dan beliau menguatkan saya dengan mengatakan “Semua aturan di SNMPTN itu adalah aturan Manusia sedangkan masih ada aturan tertinggi yaitu Tuhan”. Berikut sedikit bagian cerita saya tentang mimpi saya untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin dan titik balik healty life.

#MimpiMasaMuda #SehatSamaSama #HipweexNI

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE