Cermin

Cahaya Ilahi kan datang bagi siapa saja yang membuka pintu hatinya selebar mungkin, dan tak akan pernah datang bagi orang yang selalu menutup pintu hati mereka. Tuhan telah menciptakan makhlukNya dengan berbagai karakter yang ada; jahat, baik, pemalu, pemberani dan sebagainya. Semua pilihan tergantung pada diri kita sendiri. Akan menjadikan karakter yang seperti apa diri kita.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Suara takbir berkumanda jelas di mana-mana. Di radio, mesjid, televisi dan lain-lain. Semua umat Islam di seluruh dunia tengah bersuka cita. Menyambut bulan yang penuh kerahmatan, pengampunan, dan pahala berlipat ganda. Bulan Ramadhan telah tiba hari ini pertama kalinya sholat Tarawih dan sahur untuk puasa esok hari. Seperti biasanya makanan berlimpah ruah di rumahku. Seluruh pembantuku sibuk menyiapkan berbagai macam hidangan, dan beraneka ragam buah-buahan.

Advertisement

Aku tak pernah menganggap bulan ini istimewa. Rasanya sama seperti bulan-bulan lainya. Yang berbeda aku harus menahan lapar dan haus selama 30 hari.

“Tita mana bi? Sebentar lagi adzan berbuka puasa.”Tanya seorang wanita yang lembut roman mukanya. Mungkin usianya baru mencapai 30 tahun.

“Lagi main sepeda sama temannya bu, sebentar saya panggilkan.” jawabnya sambil terburu-buru. Wanita tua itu tampak cemas ia tak mau nyonya rumahnya marah karena terlambat memanggil anak semata wayangnya.

Advertisement

“Neng Tita…ayo masuk sebentar lagi adzan, ibu mencari neng.” Panggil wanita itu kepada gadis berkepang dua.

“Iya bi, aku mau taruh sepedaku dulu di belakang” katanya dengan suara cempreng khas anak kecil berumur 8 tahun.

“Pah Tita kerjaannya main terus, sekarang lagi bulan puasa. Harusnya ia ikut pengajian anak-anak agar lancar membaca Al-qurannya.” Sahut wanita muda itu kepada lelaki berperawakan tinggi sambil membereskan mangkuk berisikan kolak ubi di meja makan.

“Biarkan saja mah, Tita masih kelas 3 SD, lagian dengan main ia akan lupa kalau lagi puasa, nanti papah bilang kalau setiap hari Rabu sama Kamis Tita harus mengaji.” katanya sambil tersenyum dengan kumis yang ikut naik turun di wajahnya.

“Allahu Akbar Allahu Akbar…” suara adzan berkumandang di perumahan Prabu Siliwangi itu.

“Alhamdulillah mari kita berpuka puasa semuanya.” ajak mamah sambil menuangkan teh panas ke cangkir papah dan Tita.

“Mah Tita mau langsung makan, perutnya udah bunyi dari tadi siang.”sahut Tita dengan wajah memelas

“Iya tapi minum dulu , habis itu sholat maghrib ya sayang, baru makan.”kata mamah sambil menahan tawa

“Mah.. tapi nanti papah jadi imamnya ga usah lama-lama, Tita udah laper.” katanya dengan wajah agak cemberut

“Hahaha iya sayang, ayo kita ambil air wudhu.” ajak papah di iringi gelak tawa.

Sholat Maghrib berjamaah pun selesai di laksanakan, dan akhirnya mereka segera menyantap makanan dengan lahapnya.

“Tita, kamu selalu tidak menghabiskan nasimu, itu tidak baik nak.” ujar mamah dengan tersenyum lembut.

“Iya mah, tapi Tita kenyang mah.”jawabnya polos tanpa rasa dosa sedikitpun.

“Pah besok jadi acara di panti asuhan?” tanya mamah sambil meneguk segelas air

“Iya mah, sekalian mungkin berbuka puasa di sana.”

“Pah, mah besok mau pergi ke panti asuhan? aku mau ikut, enggak mau buka puasa sendirian. Boleh ya mah, pah?

“Kamu beneran mau ikut? Jangan rewel ya!” mamah berbicara dengan sedikit nada cemas.

“Iya mau ikut aku gak akan rewel kok mah, pah.” Katanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang kecil dan rapi.

“Oke besok kita akan berangkat.” Kata papah dengan semangat.

Keesokan harinya

Pagi ini matahari bersahabat sangat baik dengan bumi. Jadi udara tidak terlalu panas ataupun terik, tidak juga mendung cukup menyenangkan, untuk yang sedang berpuasa.

“Tita sayang ayo kita berangkat kau sudah siap?”

“Iya mah ayo kita masuk ke mobil” gadis itu tampak riang ia berlari-lari kecil menuju mobil. Rambut Kepangnya pun ikut terayun-ayun sesuai dengan langkah kakinya..

Perjalanan kurang lebih 1 jam. Panti asuhan itu terletak di desa Sangga, suasananya sangat nyaman. Mata kita akan di manjakan dengan pepohonan hijau nan rindang di halamannya. Suara burung Murai menambah suasana menjadi sangat menyenangkan. Halamannya sangat luas, rumah bercat hijau itu memiliki ayunan dan kolam ikan yang begitu jernih airnya.

“Mah tempatnya bagus banget, aku mau naik ayunan itu yah” kata Tita begitu keluar dari pintu mobil.

Mamah dan papahnya masih sibuk menurunkan barang-barang di bantu beberapa orang dari panti asuhan.

“Alhamdulillah pak Hendra dan bu Manda masih sempat datang, padahal pasti sibuk. Terimakasih bu, pa sudah mendirikan yayasan ini.” sambut wanita itu dengan wajah sangat gembira dan mempersilakan mereka duduk.

“Saya yang harusnya berterimakasih, ibu Nurul sudah bersedia mengurusi segala yang di butuhkan yayasan selama setahun ini, maaf kalau kami jarang mengunjungi. Bagaimana keadaan anak-anak semua bu?” tanya mamah sambil melihat dokumen anak-anak yang terlantar.

“Alhamdulillah baik bu, mereka dalam keadaan sehat. Kami baru kedatangan seorang anak baru bernama Anya. Dia gadis yatim piatu, orang tuanya penduduk sini. Namun tidak ada sanak saudara bu. Mereka meninggal kena malaria, hanya Anya yang selamat.”

Perbincangan mereka berlanjut terus menerus. Pa Hendra dan Bu Manda membicarakan soal keuangan, pendidikan dan segala yang berhubungan dengan yayasan. Mereka lupa bahwa putrinya tengah asyik menemukan sesuatu yang baru.

Gadis itu masih termenung dan memperagakan sesuatu gerakan yang aneh, berputar, dan menari, lalu tertawa.

Tita tampak sangat penasaran ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan dengan gadis kecil yang mungkin tampak seusianya, hanya saja gadis itu lebih tinggi sedikit. Tita pun menghentikan ayunannya dan pergi menuju kolam ikan yang tak jauh dari tempatnya.

“Hai lagi apa kamu” tanya Tita dengan menyentuh pundak gadis tersebut.

Lantas ia sedikit terkejut dan kaget

“Aku, kau menanyakan aku? aku sedang bercermin. Kau mau ikut?” gadis itu bertanya dengan cuek dan sedikit malas tuk menjawab.

“Bercermin? baik aku akan ikut, ada sesuatu yang menarik tidak?” Tita masih bingung dengan jawaban dari teman baru nya itu.

“Lihat ke dalam air kita bisa melihat wajah diri kita sendiri” gadis itu menunjuk ke dalam air

Tampak dua orang gadis kecil yang begitu berbeda, Tita dengan baju bagusnya dan Anya dengan baju dan kerudung yang sederhana.

“Bajumu bagus Tita, sepatumu juga” kata Anya berbisik kepada Tita

“Sekarang akan kuperlihatkan permainan menarik dari cermin ini”

Anya tertawa lebar dan keras. Pantulan di air pun seorang gadis yang tertawa lebar dan keras. Tak lama kemudian ia pun menangis tersedu-sedu dengan wajah cemberut, pantulan di air pun seorang gadis dengan wajah cemberut dan menangis.

“Kau tahu apa itu Tita? ketika kita berdua melakukan semua hal yang ada di diri kita, orang lain akan melihatnya seperti itu juga. Maka bersikap baiklah pada semua orang dan harus bersyukur dengan apa yang kau miliki sekarang.” celoteh Anya panjang lebar

“Tau dari kapan kau soal cermin itu” Tita masih dengan memainkan gerakan bibirnya dan melihat ke dalam air. Dia memonyongkan bibir dan menjulurkan lidah.

Anya masih terdiam ia belum menjawab.

“Menarik juga permainan cermin ini” ungkap Tita dengan gembira

“Semenjak aku datang ke panti ini, orang tuaku telah meninggal dan aku menangis dan bersedih setiap harinya tuk datang ke kolam ini.” Anya masih bercerita dengan raut muka yang sedih.

“Lalu aku melihat ke dalam air dan seperti itulah aku terlihat, mataku bengkak dan wajahku jadi terlihat jelek dan menyedihkan karna harus menangis setiap hari. Aku pun menaikan bibirku ke atas dan mencoba tersenyum kamu tahu apa yang terjadi? aku suka wajah itu daripada yang sebelumnya. Pada saat itu aku juga tau suka bercermin hehehe” Anya menyeringai memperlihatkan gigi kelincinya.

Gadis itu lebih dewasa dari gadis seusianya. Ia paham bahwa semua orang di lingkungannya akan ikut bahagia jika ia pun bahagia dan tersenyum.

“Ini buat mu Tita, cermin kecil ini aku dapat dari bunda, tapi kini aku sudah tak membutuhkannya. Kau mungkin membutuhkannya biar nanti kau selalu ingat apa arti dari bercermin sebenarnya” Anya tersenyum tulus ia mengulurkan cermin kecil dari kantong bajunya

Tita masih bingung dengan apa yang di katakan Anya namun ia mengerti bahwa ia harus menunjukan sikap yang baik terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Terimakasih kau baik sekali Anya, baiklah ini akan ku simpan aku juga punya sesuatu untuk mu sebagai tanda pertemanan kita, ini gelang kesayanganku” Tita melepaskan gelang kerang kesayanganya dari pergelangan tangannya.

Waktu pun terus berjalan senja sudah mulai terlihat. Matahari mulai tenggelam.

“Tita..Tita di mana kamu nak, ayo kita pulang.” terdengar suara mamah memanggil.

“Mungkin ia sedang bermain di dekat ayunan bu. Sekali lagi terimakasih sudah mau datang kemari.” wanita itu begitu berterimakasih

“Iya bu sama-sama. Doakan kami semua sekeluarga selalu sehat agar sering kemari”.

“Kami selalu mendoakan ibu dan bapak sekeluarga” sahut wanita itu dengan tersenyum tulus.

Dua gadis kecil itu masih asyik mengobrol dan bermain ayunan.

“Aku harus pulang terimakasih Anya, lain kali aku akan main kembali” Tita begitu gembira ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Mereka bersalaman dengan penuh sukacita. Entah apa yang dipikirkan dua gadis kecil tersebut, yang mereka tau bahwa betapa bahagianya mendapatkan teman yang baru.

“Sayang ayo kita pulang, tadi kau bermain dengan siapa nak?” tanya mamah dengan penuh penasaran

“Dengan teman baru mah itu.” Tita menunjuk ke arah depan dekat ayunan

“Tidak ada siapa-siapa sayang, mungkin dia sudah pergi yah”

“Tadi dia berlari cepat mah, iya mungkin dia sudah pergi” jawab Tita sambil memegang sebuah cermin kecil di tangannya

“Ya sudah ayo kita masuk ke mobil”

Seorang gadis kecil berkerudung putih seusianya muncul di balik tembok ia tersenyum meninggalkan lesung pipinya

“Anya masuk ke dalam sebentar lagi hujan” nampak wanita tua memanggil namanyya

Anya tersenyum ia bahagia mendapatkan teman baru dan gelang persahabatan.

Dari dulu hingga sekarang keinginanku selalu terpenuhi oleh kedua orangtuaku, sehingga aku tak pernah mengerti dan paham apa itu kelaparan, kekurangan, dan kesedihan. Bulan puasa kali ini Tita dapat mengerti dan memahami bahwa diri sendiri lah yang akan menjadi cerminan bagi orang lain. Entah itu buruk ataupun baik semua tergantung pada apa yang kau tunjukkan pada orang. Karna kebaikan selalu punya cara untuk menunjukkannya misalnya dengan cermin yang kau dapat dari seorang anak di panti asuhan.

Hari itu Tita pulang dengan hati yang bahagia ia tersenyum, dan ia terlelap dalam tidurnya.

“Terimakasih ya Allah” lirih Tita sebelum tidur memeluk boneka kesayangnya. Mobil hitam pun berjalan. Tak ada yang tahu apa yang Tita dapatkan kali ini. Mamah, Papahnya pun hanya menganggap putri kecil mereka lebih banyak tersenyum hari ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

"Menulis adalah cara lain bagaimana mengungkapkan sesuatu yang tak bisa terucap oleh lisan. "

CLOSE