Sampai pada suatu hari, kita dipertemukan dengan tidak sengaja. Kita tidak saling mengenal, mencari, apalagi untuk berhubungan. Bukan kehendak kita yang ingin terlahir berbeda. Ketika cinta mampu menyatukan dua insan yang berbeda umur, suku, kasta, derajat, dan bahkan hal yang paling sensitif nan sakral bagi umat manusia di dunia, yaitu agama.

Kita Mengawali hubungan dengan indah, bahagia, tawa, dan canda, seakan tak ada lagi keraguan di antara kita. Setiap hari diisi hanya dengan kegembiraan, yang kalau kita sadari ini hanya sebuah panorama palsu yang sudah bisa tertebak akhir ceritanya.

Advertisement

Dua tahun berlalu. Empat kali sudah kita mencoba berpisah, namun akhirnya cinta kembali mempertemukan kita dengan iming – imingnya yang begitu indah. Dua bulan kita kembali bersama. Hingga di malam itu, keluargaku tahu semua apa yang telah kusembunyikan selama ini. Yah, menara yang telah kita bangun menjadi menara cinta kita berdua, akhirnya harus di runtuhkan dengan satu kalimat yang menjadi pilihan tersulit pertama dalam hidupku.

"kamu pilih dia (****) atau Agamamu dan kami keluargamu yang telah membesarkanmu??"… Saat itu, air matapun tak lagi ku rasakan alirannya. Ingin ku runtuhkan pendengaran ini jika aku bisa. Satu hal yang sangat kuyakini saat itu, Tuhan tidak mungkin aku pilih, karena dia lebih dulu memilih aku. Dan selamanya karunia keselamatan yang dia anugerahkan untukku tak akan pernah ku tukar dengan apapun. Tapi Agamaku, Keluargaku??? Oh Tuhan,,, beratnya beban di dadakku ini.

Membayangkan wajahmu, cinta kita, agama, dan keluargaku, benar- benar sebuah pikiran yang menyiksa. Dua hari waktu yang diberikan keluargaku untuk berpikir sebelum akhirnya aku di kirim untuk melanjutkan studi ke luar daerah yang jauh. Seakan tak ada lagi ruang yang diberikan walaupun itu hanya sebuah salam perpisahan untukmu. Yah, akhirnya aku pergi meninggalkan kamu, cinta dan cita- cita yang kita rangkai bersama walaupun berbalutkan perbedaan.

Advertisement

Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Begitu beratnya aku menata kembali hati dan kehidupanku yang bagiku terasa tinggal puing- puing. Empat tahun tanpa komunikasi dan kabar, aku lalui tanpa dirimu. Aku bagai di asingkan di langit ke tujuh. Tak ada kabar dan kisah lagi yang ku tahu dari dirimu sejak kepergianku, walaupun itu hanya sebuah kabar angin yang lewat.

Hingga saatnya aku kembali ke daerahku. Sepertinya ini adalah awal babak baru sekaligus akhir dari kisah cinta kita. Hingga satu hari, Dengan memakai kemeja batik coklat, kamu dengan gagahnya berdiri menyampaikan rasa syukurmu atas apa yang telah berhasil kamu capai dalam hidupmu di depan tamu undangan di rumahmu. Aku melihatmu dari jauh. Kehidupanmu memang sampai pada titik kesempurnaan.

Aku percaya itu karena aku tahu, kamu adalah orang yang sangat pekerja keras. Itu adalah salah satu alasan mengapa dulu aku memilihmu sebagai teman hidup sementaraku. Aku sadar, sampai pada detik itu aku masih gagal MOVE ON dari kamu. Hingga muncul di depanku pemandangan yang sangat menyiksa, pemandangan yang begitu menyesakkan dadaku.

Aku kembali berlinang dengan air mata yang tak dapat ku tahan lagi. Aku berlari, terus berlari dan terkurung dalam diam. Bukan cuma hati yang kau siksa, batin dan mataku juga ikut tersiksa menyaksikan semua itu. Aku tak ingin mengatakan dan mengingatnya lagi. Karena setiap aku mencoba mengingatnya, sel- sel di otakku serasa kau patah- patahkan begitu saja. Aku membencimu, bukan karena hubungan kita yang berakhir dengan kesakitan yang begitu perih, namun aku membencimu karena sesunggugnya aku masih sangat mencintaimu.

Tiga hari aku tersiksa dengan perasaan ini dan terus mengurung diriku dari keramaian. Hingga hari itu, aku ingat hari itu hari Sabtu. Kamu datang mengunjungiku di rumah dan memberi aku sebuah kotak kado yang sudah empat tahun kau simpan. Seperti ragaku kembali di hidupkan. Suaramu yang selama ini rindu ku dengar memanggil namaku, aku kembali mendengarnya darimu. Ya Tuhan, jika ini hanya mimpi, jangan biarkan aku terbangun lagi.

Aku ingin tidur selamanya dan terus bermimpi bertemu denganmu. Tapi aku sadar, ini kenyataan yang memang harus kita akhiri dan selesaikan dengan baik. Kamu memberi aku selamat atas gelar dokter yang sudah tersemat di depan namaku. Aku ingat kamu pernah menggodaku waktu itu. Kamu bilang kalau aku sudah jadi dokter, aku tiap hari harus mengobatimu agar kamu selalu sehat dan menemaniku setiap hari.

Kata setiap hari itu yang sangat perih jika aku ingat. Tapi aku berusaha tegar mendengar pembicaraanmu selanjutnya. Kamu bercerita tentang dirimu, aku mendengarnya sangat bangga karena kamu mengatakan bahwa aku adalah sumber semangatmu, sehingga kamu sukses meraih cita- citamu. Tapi tiba- tiba, kamu mengeluarkan sebuah kartu undangan yang sejujurnya tak ingin ku lihat, apalagi menerimanya.

Namun harga diriku terlalu tinggi untuk menangis di depanmu. Aku terpaksa menerimanya, dengan kata- kata yang sedikit ku buat- buat untuk menahan agar air mataku tak jatuh di depanmu.Siska, nama itu sekilas membuatku memutar memori ingatanku dulu. Dia sahabat lamaku yang begitu akrab denganku. Yah, gadis itu yang dulu kamu suruh untuk mengantar bunga di ulang tahunku karena kamu tidak hadir, gadis itu yang dengan semangatnya mendukung hubungan kita dulu, dan sekarang gadis ini yang akan meneruskan kisah cinta di hidupmu setelah aku.

Ingin rasanya aku bertanya kenapa harus dia? kenapa bukan wanita lain yang tidak ku kenal? mengapa semua yang terjadi sepertinya tak pernah berpihak padaku? Air mataku jatuh di depanmu, pertahananku hancur seketika itu. Kamu berhasil membuat harga diriku anjlok di titik paling rendah. Dan ternyata, Oh God! kamu memelukku. Tangisanku semakin menjadi- jadi saat di pelukanmu.

Aku sudah tak pedulikan keluargaku yang ada di rumah. Aku merasakan air matamu juga menetes. Kita menangis dalam siksaan cinta yang cukup dalam. Kita berusaha meleburkan segala sakit hati yang pernah terjadi antara kita. Kamu mengatakan aku mencintaimu, namun kita tak bisa memilih. Saat itu, kepalaku seperti segar kembali. Aku melepaskan diriku dari pelukanmu. Aku sadar sesadar- sadarnya bahwa kita memang tak bisa memilih.

Pelukanmu membawaku menemukan kembali jati diriku dan semangatku yang hilang. Aku seperti terlahir baru kembali.

Hari- hari ku lalui dengan semangatku yang baru. Aku menenggelamkan diri pada pekerjaan dan pelayananku pada masyarakat. Hari itu kamu resmi menjadi sisa kenangan masa laluku. Tentunya kenangan yang paling indah. Dengan memakai baju adat Bugis, kamu dan istrimu sangat mengagumkan. Saat aku memberi selamat, siska memeluk dan menangis di pelukanku. Aku tidak tahu ini apa artinya, tapi sungguh, aku sangat tulus waktu itu.

Tak ada perasaan sakit sama sekali yang kurasakan seperti dulu. Sungguh Tuhan mengubahkan hidupku. Dia menjawab doaku yang selama bertahun- tahun aku panjatkan dengan permohonan yang membuatku bingung. Dia menggantikan yang telah hilang dengan 1000 kali hal yang terbaik. Akhirnya kita menemukan kebahagiaan masing- masing.

Aku dan kamu sama- sama istimewa. Mungkin itu adalah alasan mengapa Tuhan mempertemukan kita berdua dan mempersatukan kita dalam cinta, walaupun terhalang oleh perbedaan. Kita sempat terpisah dan takdir cinta yang menuntunmu kembali kepadaku, sebelum akhirnya pergi untuk selama- lamanya. Apa yang ada pada kita sekarang mungkin berkat dari masa lalu.

Kita mengetahui perasaan masing- masing, hati masing- masing, dan kita tahu juga perbedaan yang menghalangi kita. Tidak perlu ada di antara kita pengorbanan Iman dan Keyakinan, karena cinta dan keegoisan yang hidup dan pernah tumbuh di hati kita, itulah yang harus kita korbankan.

Aku menyerah…

Aku kalah dengan Agama, aku kalah dengan perbedaan….

Dan kali ini benar- benar selesai…

Satu hal yang tak pernah aku lupakan, yaitu persembahan terakhir dari perpisahan kita yang terakhir. Kamu memelukku dan memberikan aku sebuah kotak kado besar yang berisi hadiah- hadiah dari kamu untuk ulang tahunku dan anniversary kita. Aku masih menyimpan semua dengan rapi.

Saat cerita ini selesai aku tulis, sudah genap dua tahun sejak perpisahan pilu nan menyakitkan itu terjadi. Aku bisa tersenyum bahagia, karena dari kita sudah menemukan dunia dan kehidupan masing- masing yang berbeda. Kenangan itu tetap ada, walaupun saat ini aku sudah terpikat kepada sosok terang dalam kegelapan, yang kini telah mendampingi hidupku untuk selamanya.

Namun kisah indah kita di masa lalu akan tetap abadi seiring waktu berjalan sampai Tuhan mengambilnya kembali. 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya