"Semua berlalu begitu saja."

Yah, mungkin itulah kalimat yang paling pas untuk menggambarkan kondisi kehidupanku yang bisa dikatakan seperti telur di ujung tanduk seperti sekarang ini. Sejujurnya, aku adalah seorang cupu di zaman-zaman sekolah. Singkat cerita, saking cupunya di masa itu, sama sekali aku tak pernah terbesit untuk pacaran seperti kebanyakan teman-teman yang lain.

Perasaan suka dengan lawan jenis pada masa itu memang tidak dipungkiri. Aku pun yang cupu seperti ini memilikinya. Namun sama sekali aku tidak berniat untuk mengungkapkannya. Sampai pada akhirnya, perasaan itu tak terbendung lagi tatkala seorang teman perempuanku waktu kelas 2 SMA itu semakin membuatku nyaman dengannya dan ingin menjadi seseorang yang penting baginya.

Beberapa bulan menjalin kedekatan, sampai pula aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku ini kepadanya. Ternyata dia pun memiliki perasaan yang sama denganku.

"Akhirnya aku memiliki kekasih."

Advertisement

Kami pun menjalin hubungan pacaran selama 5 tahun lamanya hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih menantang dan serius: pernikahan.

Yah, sebagian besar dari orang-orang sekitarku menganggap aku gila dan terlalu berani mengambil keputusan tersebut. Tapi entah apa yang ada dalam kepalaku waktu itu. Aku mantap saja ingin membangun sebuah mahligai rumah tangga tanpa mempedulikan kata orang dan tanpa mempedulikan usiaku yang masih baru memasuki kepala dua.

Sebulan menikah, kami langsung diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki buah hati. Istriku di bulan ke dua pernikahan sudah tidak lagi menstruasi. Sembilan bulan kemudian, kami pun dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik. Tapi, kesibukan mencari nafkah dan menyalurkan hobi otomotifku membuat perhatianku berkurang terhadap istriku sejak anak pertamaku itu lahir.

Masalah pun dimulai…

Di tempat kerjaku yang sampai saat ini aku jalani, terdapat berbagai macam kepribadian yang bercampur menjadi satu yang membuat kami satu tempat kerja ini seperti keluarga. Awalnya aku sama sekali tidak berniat untuk memulai masalah ini.

"Jangan pernah memulai apapun yang kamu tidak mampu mengakhirinya!"

Sebut saja dia Bunga. Karyawan baru yang masuk menjadi rekan kerjaku beberapa bulan sebelum aku menikah itu, tanpa kusangka dan kukira akan menjadi seseorang yang mampu melunturkan rasa cintaku terhadap istriku yang sudah lima tahun aku jaga. Ppadahal selama aku dan istriku menjalin status sebagai kekasih, tidak pernah aku berniat untuk mengkhianatinya.

Faktor utamanya tentu saja karena aku baru pertama kali pacaran sehingga aku tidak tahu kalau dalam pacaran itu ada yang namanya selingkuh. Pada masa pacaran itu, mataku dibutakan oleh sosok istriku yang sangat mempesona sehingga tak ada satupun wanita yang berhasil menggodaku untuk mendua.

Tapi lain ceritanya dengan Bunga. Dari awal dia masuk menjadi rekan kerjaku, pesonanya membuatku lupa bahwa aku telah berkeluarga. Hari demi hari aku lewati, sampai ada satu kejadian fatal yang membuat aku dan Bunga terjerumus ke dalam lubang hitam Cinta Terlarang. Aku rasa tak perlulah aku menuliskan apa yang pada saat itu terjadi. Yang pasti, itu adalah awal dari kisah cintaku yang terbagi dua ini.

Beberapa bulan berlalu. Diri ini kebiasaan penistaan pernikahan yang kami lakukan, membuat aku semakin nyaman dengan Bunga. Namun semuanya sempat berakhir ketika perusahaan melakukan mutasi pada Bunga sehingga Bunga ditugaskan di cabang tempat kerja kami yang lain yang cukup jauh.

Sempat aku berusaha untuk menjernihkan kembali pikiranku dari sosok Bunga yang mempesona itu agar rumah tanggaku kembali normal. Agar perasaan cintaku terhadap istriku kembali seperti dulu. Setahun berlalu, ternyata setelah aku hampir 100% dapat melupakan Bunga, Bunga kembali bertugas di tempat kerja yang sama denganku.

Aku bingung harus bagaimana karena pesonanya masih sama seperti dulu bahkan lebih liar lagi sampai imanku tak dapat mengendalikan hawa nafsuku padanya.

"Dosa termanis itu pun kembali mendarah daging dalam diriku"

Sebenarnya Hubungan Tanpa Status yang kami jalani sangatlah berat sebelah untuk diriku. Sifat Bunga yang sangat mudah bergaul dan sangat mudah tertarik dengan lawan jenis membuatku cemburu. Tapi aku tahu Bunga bukanlah wanita yang rumit. Dia wanita yang selalu membuat apapun masalah menjadi ringan. Jadi, sepertinya perasaan cemburuku ini tidak akan dia rasa dan pedulikan.

Meski begitu, aku tetap menikmati hariku bersamanya hingga saat ini. Berusaha mengikuti arus air mengalir, sampai sempat kuencanakan ide gila untuk menjadikannya istriku yang ke dua.

"Hahahaha… Kau kira semua orang setuju dengan Poligami???"

Entahlah. Sampai saat ini pun, jujur dalam hidupku aku mencintai keduanya. Di rumah aku milik istriku dan di tempat kerja aku milik Bunga. Kesadaranku akan ketidak-inginan seorang wanita manapun di madu, membuat kepalaku serasa ingin pecah bila memikirkannya. Terlebih bila aku berantusias untuk membuat mereka akur dan bersedia untuk aku jadikan istri. Karena pastinya baik Bunga maupun istriku tidak ingin dimadu.

Tapi bila aku membaca beberapa artikel islami tentang poligami, itu sedikit memberi secercah harapan akan keinginanku memiliki dua orang istri. Misal pada kutipan artikel ini :

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 129).

Pada ayat tersebut menyatakan bahwa salah satu syarat berpoligami adalah suami harus berlaku adil dan aku rasa aku sanggup melakukannya. Tapi itu sepertinya hanyalah mimpi belaka bila restu berpoligami tidak aku dapatkan dari semua belah pihak. Semua aku hanya dapat pasrahkan pada-Nya. Dosaku yang semakin hari semakin bertambah ini, membuat aku semakin ingin berpoligami agar dapat mengurangi dan menebus dosa-dosaku itu.

WaAllahu a'lam bisshowwab…