3 tahun kami menjalani hubungan dan awalnya semua terasa bahagia karena baik-baik saja. Aku sangat nyaman menjalaninya bahkan aku sepenuhnya percaya dengan dia laki-laki yang aku anggap setia.


Namun ketika hubungan kami berjalan 4 tahun dan ingin melangkah ke jenjang pernikahan, semua terasa berubah tidak indah, tidak sebahagia beberapa tahun yang lalu.
Laki-laki yang aku percaya, laki-laki yang selalu aku banggakan di depan orang tuaku, laki-laki yang sangat aku cintai, laki-laki yang aku anggap setia menjadi laki-laki yang asing buat aku. Dia bukan lagi laki-laki yang aku kenal semenjak hadirnya orang ketiga di dalam hubungan kami.

Advertisement

Walaupun dia tidak mengakui bahwa dia telah selingkuh tetapi aku dapat merasakannya, dia berbeda dari cara bicaranya yang dulu lembut menjadi kasar, cara tatapannya menatapku yang dulu penuh cinta menjadi tatapan seperti orang yang biasa saja, yang dulu selalu ada menjadi sibuk dengan dunianya.

Setiap aku ingin bertemu dengannya, pekerjaan lah yang menjadi alasan untuk menghindariku. Namun, aku tetap mengerti dia karena aku tidak ingin menuduh dia berselingkuh tanpa bukti.

Dan seiring berjalannya waktu, ketika bulan ramadan tiba. Aku mendapatkan petunjuk-petunjuk yang mengarah ke hal negatif.
Pertama adalah dia membeli ponsel baru dengan alasan untuk kepentingan pekerjaan.
Kedua adalah ketika aku ingin meminjam ponselnya, dia tidak ingin memberikannya kepadaku seperti orang yang ketakutan, seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.
Ketiga adalah ketika dia mulai perlahan tidak memberi kabar, tidak lagi perhatian seperti orang yang ingin menghindar.

Advertisement

Aku terus berdo'a meminta jawaban dari Allah.
Dan sampai aku diberikan jawaban oleh Allah, bahwa dia memang benar sedang selingkuh. Aku diberikan nomor wanita itu dari calon adik iparku, lalu aku melihat di profil whatsapp wanita itu.

Betapa hancurnya aku, ketika aku sedang bekerja membantu dia mencari uang untuk menambahkan biaya pernikahan kami yang tinggal beberapa bulan lagi, aku melihat foto calon suamiku bersama dengan wanita itu sedang makan malam berdua dan wanita itu memakai jaket calon suamiku yang sebelumnya belum pernah aku kenakan.

Aku menghubungi wanita itu melalui whatsapp dengan mengatakan bahwa kami ingin menikah namun tidak ada balasan, hanya dibaca saja.
Ketika itu juga aku menghubungi calon suamiku, apa yang aku dapat?
Dia tidak mengakuinya sampai aku memberikan bukti foto itu, baru dia mengakuinya dan meminta maaf kepadaku juga berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi.
Dan aku memberikan kesempatan untuknya yang pertama, lalu apa lagi yang aku dapat?

Aku melihat di ponsel dia ada aplikasi Whatsapp yang sebelumnya dia mengatakan kalau dia tidak mempunyai aplikasi apapun selain BBM. Lalu aku melihat dia memblokir nomor ponsel aku, dan aku melihat di situ banyak obrolan mesra dengan wanita itu padahal wanita itu sudah tahu bahwa kami ingin menikah.

Kesempatan kedua pun aku berikan untuk dia calon suamiku dan tetap menerima dia sebagai suamiku. Aku masih bisa memaafkannya.

Namun, kepercayaanku dipermaikannya lagi hingga menjelang pernikahan aku harus berpura-pura bahagia tersenyum di depan para tamu. Karena suamiku setelah ijab kabul, aku melihat isi ponselnya ada obrolan wanita itu lagi dan wanita itu tahu bahwa kami sedang mengadakan sebuah pernikahan yang sekali dalam seumur hidup. Aku terus bersabar, berdo'a, terus memberikan suamiku kesempatan untuk memperbaiki dirinya.

Di hari kedua setelah pernikahan kami dan sampai beberapa bulan kemudian, suamiku selalu berangkat pagi dan pulang malam setiap hari bahkan di hari libur pun dia tetap masuk. Ternyata di balik semua itu, suamiku dan wanita itu masih saling komunikasi, masih saling bertemu di belakangku.

Saat itu juga suamiku meminta maaf dan berjanji lagi untuk tidak mengulanginya.

Seorang sahabatku mengatakan, kenapa aku mau saja dinikahi oleh laki-laki yang seperti dia? Jawabanku adalah ini cobaan menjelang pernikahan, dan ini mungkin tugasku yang diberikan oleh Allah untuk belajar menuntun dia menjadi laki-laki yang baik ketika nanti aku telah menjadi istrinya. Lalu, sahabatku berkata "Bodoh, banyak yang ingin menjadi pendamping kamu!" Namun aku tidak memperdulikan perkataannya..

Di suatu hari, suamiku jatuh sakit karena mungkin bekerja terlalu keras.
Dia harus dirawat untuk beberapa hari, betapa khawatirnya aku karena posisinya aku sedang mengandung anaknya. Saat aku merawat suamiku, menjaga suamiku di rumah sakit, dia terus memegang ponselnya dan aku tidak boleh menyentuhnya. Dalam benak, aku bertanya-tanya ada apa lagi dengan suamiku?
Lalu saat suamiku sedang tertidur pulas, aku diberikan jawaban lagi oleh Allah.

Tangan ini rasanya ingin mengambil ponsel suamiku untuk mengetahui apa yang suamiku sembunyikan dan aku berhasil mengambilnya.

Betapa sakitnya aku sedang mengandung anaknya, aku melihat ponselnya ada obrolan mesra lagi yang dilakukan suamiku dengan wanita itu, saat itu juga aku menegur wanita itu namun wanita itu tidak mengakui, tidak merasa bersalah, bahkan tidak meminta maaf kepadaku dan mengancam aku dengan tindakan kriminal bahwa katanya sudah banyak orang yang dia habiskan.

Tapi kenyataannya itu hanya ancaman saja, dan aku tidak kenapa-kenapa. Mungkin dia seperti itu takut karena bersalah. Aku tidak mengerti dengan wanita seperti dia, betapa tidak punya hati.

Dan lagi-lagi suamiku meminta maaf kepadaku namun aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya? Setelah apa yang dia lakukan kepadaku.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain sabar dan terus sabar.

Suamiku pulang dari rumah sakit, dan sepulang dari rumah sakit. Suamiku seperti orang yang sangat menyesal, dia memperlakukan aku dengan baik. Memanjakan aku, membelikan aku barang-barang, lebih memperhatikan aku. Tapi ternyata perubahan itu hanya sementara. Dia kembali saling komunikasi, saling bertemu dengan wanita itu.

Aku terkadang berfikir, suamiku seperti musuh dalam selimut. Bermuka dua yang baik di depanku tetapi buruk di belakangku.

Sekarang untuk percaya kembali dengan suamiku, aku butuh proses walaupun kejadian yang kemarin setelah itu suamiku sudah mulai ada perubahan dan tidak ada lagi kesalahan yang dia lakukan kepadaku sampai saat ini.

Namun, aku tidak pernah tahu ke depannya seperti apa? Karena rasa kepercayaanku sudah tidak ada lagi untuk suamiku, namun aku berusaha untuk mengembalikan kepercayaanku.

Aku terus berusaha tetap mencintai suamiku, karena dia imamku dan dia Ayah dari anakku dan aku terus memperbaiki diri untuk menjadi istri yang baik. Aku tetap menjalani hidup bersama suamiku seperti biasa layaknya seorang istri kepada suaminya.

Walaupun aku sudah sangat sakit dan kecewa, aku mencoba menerima dengan ikhlas perbuatan suamiku dan wanita itu. Sekarang, aku sedang fokus dengan janin yang ada di dalam kandunganku. Agar dia sehat selalu, tumbuh dan berkembang dengan baik. Menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, Anak yang baik dan taat beribadah kepada Allah.

Aku sudah tidak mau tahu dengan apa yang suamiku lakukan di luar sana. Karena, aku selalu percaya Allah Maha Adil. Aku serahkan semua pada Allah, semoga wanita itu secepatnya diberikan hidayah oleh Allah dengan cara-Nya,
‚Äčagar bisa sadar bahwa perbuatannya yang sudah mau menyempatkan waktu untuk meladeni suamiku adalah hal yang sangat buruk bagi perempuan baik-baik.

Akan ada masanya wanita itu ada di posisiku kelak nanti ketika dia mempunyai suami. Suamiku sekarang memang sudah berubah menjadi lebih baik tetapi mungkin rasa ketidak percayaanku yg membuat aku merasa di mataku dia sama saja.

Dan semoga suamiku benar-benar sudah berubah, berubah untuk selamanya, tidak untuk sementara. Aamiin.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya